
Jam 6 sore, Ahmad menelpon Nur dan ingin bilang bahwa malam ini, ia tidak bisa pulang karena masih ada urusan kantor yang harus di selesaikan.
"Halo bunda, ijin ya, malam ini ayah ngga bisa pulang. Masih harus memastikan lokasi pembangunan perumahan."
"Malam Pak Ahmad. Saya dengan Abidin, ketua RT. Saya mau info kan ke Pak Ahmad lebih baik pulang. Ibu Nur di bawa ke rumah sakit dalam kondisi pendarahan hebat dan kami masih menunggu hasil pemeriksaan karena baru saja sampai rumah sakit. Dan tadi Keisha anak Pak Ahmad menelpon semua orang yang ada di kontak bu Nur. Keisha bilang telpon pak Ahmad tapi tidak diangkat dari pagi dan handphonenya mati."
"Baik Pak Abidin. Terima kasih atas infonya. Saya masih di luar kota. Saya usahakan bisa pulang malam ini ke Jakarta."
Ahmad mematikan telponnya. Bagaimana mungkin ia meninggalkan pesta pernikahan ini. Tidak mungkin baginya untuk ke rumah sakit."
Pak Abidin sebagai ketua RT bisa bernapas lega karena akhirnya suami Bu Nur menelpon.
Keisha dan Malik ada di rumah dengan neneknya dan adiknya Bu Nur, sedangkan adiknya Bu Nur yang laki-laki dalam perjalanan ke rumah sakit.
Salah seorang perawat memanggil Pak Abidin yang menunggu di luar ugd.
Pak Abidin masuk dan adiknya Bu Nur yang baru saja tiba ikut masuk.
"Siapa diantara bapak-bapak yang suaminya Ibu ini?"
"Saya adiknya."
"Saya Pak RT, dokter. suaminya sedang keluar kota."
"Baik. Saya sudah cek. Ada bayi dalam kandungan Bu Nur dan berumur 3 bulan sudah meninggal di dalam perut. Dan karena Bu Nur mengalami pendarahan dari pagi sampai akhirnya jiwanya tidak tertolong."
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, teteh!"
Adiknya menangis. Pak Abidin segera menelpon Ahmad, tetapi handphonenya mati.
Adiknya segera mengurus administrasi di rumah sakit dan membawa jenazah kakaknya ke rumah.
Jenazah Nurhasanah sampai di rumah dan akan dimakamkan malam ini juga.
Ibunya Nurhasanah menanyakan Ahmad suaminya, Tetapi karena Nurhasanah sudah meninggal dari jam 10 pagi menurut keterangan dari dokter.
Mereka tidak menunggu Ahmad pulang karena mereka coba menelpon Ahmad dan handphonenya masih mati.
Ibunya Nurhasanah dan adik-adiknya masih menunggu kedatangan Ahmad setelah selesai penguburan Nurhasanah.
Keisha hanya diam, karena ia tidak tahu apa yang terjadi dengan bundanya dan Malik sudah tidur dari tadi karena seharian Malik menangis.
Ahmad dan Sekar akhirnya bernapas lega karena pesta pernikahan mereka telah selesai.
"Mas Ahmad, kamu kenapa? Kok dari tadi aku lihat kamu gelisah?"
__ADS_1
"Iya Mas gelisah karena Mas mau malam pertama sama kamu."
"Tapi Mas, aku kan sudah hamil."
"Ya ngga papa kan yang penting saat ini kita sudah say sebagai suami istri."
"Iya Mas, terima kasih ya, akhirnya ke kuatiranku sirna karena kamu menikahi aku."
"Pastilah Sekar, kamu perempuan idamanku."
Tyas baru sampai rumah. Ningsih dan Gege sudah sampai rumah duluan.
Tyas pulang bareng Pak Joe, Bu Agnes dan Lita dan mereka sempat melihat mobil jenasah dan iringan mobil lainnya.
Tyas mengucapkan salam sebelum masuk rumah.
"Malam sekali pulangnya Mbak?
"Iya hari ini lembur. Banyak barang yang harus di cek."
"Sudah makan Mbak?"
"Sudah tadi sama Pak Joe, Bu Agnes dan Mbak Lita. Kalian sudah makan?"
"Sudah, tadi Mbak Ningsih buat tumis together tahu dan telor dadar."
"Iya Mbak. Ningsih kemana?"
"Sudah tidur dari jam 8 tadi, Mbak?"
"Ya sudah kamu tidur sana. Besok berangkat pagi kita."
"Iya Mbak. selamat malam."
Gege masuk kamar dan Tyas mengunci pintu lalu masuk kamar dan mandi.
Selesai mandi, Tyas sholat isya.
"Mas Ahmad kenapa ya? Kok aku kepikiran terus sama Mas Ahmad? Ya Allah, lindungi Mas Ahmad semoga tidak terjadi apa-apa."
Tyas tidak tahu bahwa Ahmad menikah lagi dan Nur meninggal.
Asep, adik dari Nur, rencananya besok akan ke kantor Ahmad. Ingin menanyakan kemana kakaknya tugas. Dan ia mau menjemput Ahmad dan mengajaknya pulang.
Maryam adiknya Nur dan ibunya menemani Keisha dan Malik tidur.
__ADS_1
Mereka sudah melakukan tahlilan untuk Nur. Beberapa saudara masih duduk-duduk di ruang tengah. Besok mereka akan mengadakan tahlilan lagi untuk Nur sambil menunggu Ahmad pulang.
Asep membuka kamar kerja Ahmad. Keluarga Nur tidak tahu bahwa Ahmad pernah dipenjara. Yang mereka tahu setelah menikah dengan Ahmad, Nur hidup berkecukupan walaupun Nur suka cerita sama Maryam bahwa sering di tinggal ke luar kota.
Asep duduk di meja Ahmad dan ia tertarik dengan map biru yang bertuliskan surat pernyataan.
Asep membuka map tersebut dan membacanya. Asep kaget ternyata Ahmad pernah ditangkap dan Ahmad mempunyai istri lain selain Nur, kakaknya. Asep marah kepada Ahmad.
Dan Asep berdiri, tetapi kakinya menyentuh kardus di bawah meja. Asep menarik kardus itu dan mendapati surat bahwa Ahmad diberhentikan dari pekerjaannya di karenakan kasus yang mengakibatkan Ahmad ditangkap.
Asep memijat kepalanya. Berarti selama ini kakaknya menderita lahir dan bathin akibat ulah Ahmad.
Asep masih penasaran di ruang kerja Ahmad. Semua map dibuka oleh Asep.
Ada surat cerai Ahmad dan Laila. Dan ada nama Tyas di map yang lain sebagai istri pertama Ahmad.
Jadi Mas Ahmad belum cerai dengan Tyas. Dan Tyas istri pertama Mas Ahmad. Berarti kakaknya adalah istri kedua Mas Ahmad. Apakah Ahmad sedang di rumah Tyas. Asep membatin.
Asep masih mencari tahu siapa Tyas dan alamat rumah Tyas. Sampai akhirnya Asep menemukan bahwa Tyas adalah karyawan di Pabrik BAT.
Asep akan menemui Tyas dan menjemput Mas Ahmad.
Kuping Tyas tiba-tiba merasa panas. Siapa yang ngomongin aku ya. Tiba-tiba handphone Tyas berbunyi Ada telpon masuk dari Pak Joe.
"Malam Tyas, maaf aku ganggu kamu malam-malam."
"Malam Pak Joe, ngga papa Pak. Ada apa Pak Joe malam-malam telpon Tyas."
"Ngga papa Tyas. Saya di minta sama Pak Arif untuk menanyakan apakah kamu sudah menerima surat perceraian dari Ahmad."
"Belum Pak, surat cerai belum saya terima. Saya juga kurang tahu apakah Mas Ahmad sudah mengurus perceraian atau belum? Memangnya kenapa Pak?"
"Kalau kenapanya saya kurang tahu. Saya di minta sama Pak Arif untuk menanyakan masalah itu."
"Oh ok Pak. Belum ada sih Pak."
"Ya sudah kalau begitu. Saya akan kasih tahu ke Pak Arif bahwa kamu tidak tahu dan belum menerima surat cerai dari Ahmad."
"Iya Pak Joe, belum."
"Baik, kalau begitu. Selamat istirahat dan selamat malam."
"Baik Pak Joe. Selamat malam juga."
Tyas menutup telpon dari Pak Joe. Tyas bingung kenapa tiba-tiba Pak Arif menanyakan surat cerai lewat Pak Joe. Ada apa sebenarnya?.
__ADS_1
Tyas melihat jam sudah jam 11.30. Tyas siap-siap tidur."