Istri Suamiku

Istri Suamiku
Kedatangan Maryam dan Bibinya


__ADS_3

Sudah sebulan sejak kematian Gege, rumah yang ditempati Tyas dan Ningsih sepi. Ditambah Ningsih kadang pulang malam untuk menyiapkan pernikahannya membuat Tyas semakin merasa kesepian. Seperti malam ini.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Siapa?"


Tyas membuka pintu rumahnya. Tyas melihat 2 wanita yang satu sudah cukup tua dan yang satunya seumuran dengan Tyas.


"Mbak, mau tanya apa benar ini rumah mbak Tyas? Saya Maryam dan ini bibi saya."


"Iya benar. Silakan duduk."


Tyas mempersilahkan kedua tamunya duduk. Ia tidak mau mengajak masuk tamunya karena ia tidak mengenal mereka berdua.


"Maaf, ibu dan mbaknya mau bertemu Tyas? Saya Tyas. Kalau boleh tahu ibu dan mbak ini siapa ya? Dan ada perlu apa sama saya?"


"Begini mbak Tyas, kedatangan saya dan bibi saya ingin membahas mengenai mas Ahmad, suami mbak Tyas dan juga suami almarhum kakak saya Nurhasanah."


"iya. Mbak Maryam dan Bibi tahu alamat rumah saya darimana?"


"Sebelumnya kami ke pabrik tempat mbak Tyas bekerja. Dan menanyakan alamat rumah mbak Tyas. Satpam meminta kami untuk ikut dengan bis antar jemput."


"Oh, ok. Lalu."


"Iya mbak. Saya ingin menanyakan mengenai mas Ahmad. Karena sudah lebih dari sebulan ia tidak pulang dan handphonenya tidak aktif. Karena itu kami berdua kesini untuk menanyakan keberadaan mas Ahmad. Dan mbak Tyas kan juga masih istri mas Ahmad."


"Mbak Maryam, saya sedang proses cerai dengan mas Ahmad. Dan saya hanya tahu bahwa saat ini mas Ahmad sedang dipenjara karena kasus tabrak lari. Kejadian itu saat saya dan mas Ahmad selesai sidang cerai pertama. Kalau mbak Maryam memang ingin tahu kondisinya saat ini silakan ke polsek dimana mas Ahmad saat ini ditahan."

__ADS_1


"Saya tahu bahwa sebenarnya mbak Tyas ingin menguasai uang mas Ahmad. Karena sampai saat ini anak-anaknya mas Ahmad dititipkan ke saya tanpa dikasih uang untuk merawat mereka."


"Mbak Maryam, saya tidak pernah minta uang dari mas Ahmad. Saya bekerja dan selama sata menikah sama mas Ahmad hanya di tahun pertama pernikahan kami, mas Ahmad masih memberikan uang kepada saya setelah itu tidak sama sekali!"


"Harusnya yang menjaga Keisha dan Malik itu mbak Tyas bukan saya. Karena mbak Tyas masih berstatus istri mas Ahmad."


"Mbak Maryam, saya sedang proses cerai! Dan mbak Maryam masih ada hubungan darah dengan Keisha dan Malik. Karena mereka ada ponakan mbak Maryam. Anak dari kakak kandung mbak Maryam. Jadi saya tidak bertanggung jawab dengan Keisha dan Malik. Karena mereka bukan anak saya. Mereka anak mas Ahmad dari almarhumah Nur dan kakak kandung mbak Maryam. Jadi jangan libatkan saya. Silakan mbak Maryam ke kantor polisi dan tengok mas Ahmad disana! Saya tidak ada urusan lagi! Dan saya baru pulang kerja. Saya mau istirahat! Permisi!"


Tyas segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu meninggalkan Maryam dan bibinya di teras rumah.


"Gimana ini Maryam. Kita kan kesini juga mau minta uang untuk Keisha dan Malik. Terus kenapa Ahmad ditangkap? Dia bilang tadi kasus tabrak lari? Siapa yang ditabrak Ahmad?"


Maryam memijat kepalanya yang pening. Dan segera bangkit berdiri kemudian mengetuk pintu rumah Tyas dengan keras. Ia ingin Tyas keluar dan mau membuat malu Tyas.


"Mbak Tyas keluar! Kamu itu sudah merusak kebahagiaan kakak saya sampai akhirnya kakak saya meninggal dan anak-anaknya terlantar. Harusnya kamu ngaca. Kalau bukan gara-gara kamu pasti kakak saya tidak akan meninggal! Dan kamu harus bertanggung jawab atas anak-anak mas Ahmad dan almarhumah kakak saya! Keluar kamu! Jangan hanya ngumpet di dalam rumah! Dasar perempuan i***s yang hanya bisa merusak rumah tangga orang!"


Pak Joe yang mendengar teriakan Maryam di rumah Tyas segera keluar rumah dan menghampiri Maryam yang masih menggedor rumah Tyas dengan keras.


"Ini si Tyas. Gara-gara dia, kakak saya Nurhasanah meninggal dan katanya mas Ahmad ditangkap polisi. Terus saya kesini mau minta uang sama dia untuk Keisha dan Malik! Harusnya dia yang jaga Keisha dan Malik bukan saya. Uangnya mas Ahmad pasti ke dia semua. Kalau tahu gitu tadi sekalian saja saya taruh Keisha dan Malik disini. Memangnya enak di titipin anak 2 tanpa di kasih uang. Dan rumah ini pasti rumah dari uangnya mas Ahmad. P*****r Tyas itu. Gayanya sok wanita alim. Cuiiihhh! Makanya saya ketuk pintunya biar tetangga tahu bahwa Tyas bukan wanita baik-baik. Wanita yang hanya bisa merusak rumah tangga orang lain!"


"Mbak, daripada mbak dan ibu marah-marah tanpa tahu kejadian yang sebenarnya, lebih baik mbak dan ibu, ikut saya supaya bisa bertemu dengan Ahmad. Mari mbak dan ibu, saya antar ke tempat Ahmad."


Pak Joe mengajak Maryam dan bibinya supaya tidak membuat keributan lagi di rumah Tyas.


Ya Allah, ini ada apa lagi. Kenapa mereka datang seperti itu. Apa yang harus aku perbuat ya Allah. Sudah cukup kelakuan mas Ahmad yang membuat aku malu dan sekarang ditambah dengan kedatangan mereka berdua. Untungnya pak Joe datang mengajak mereka pergi.


Tyas yang sedari tadi berdiri di belakang pintu menarik napas panjang setelah Pak Joe membawa Maryam dan bibinya pergi dari rumah Tyas.

__ADS_1


Tidak berapa lama Ningsih baru pulang.


"Assalamu'alaikum".


"Wa'alaikumsalam."


Ningsih segera masuk ke dalam rumah dan melihat Tyas yang sedang duduk di sofa.


"Tyas, kamu kenapa? Kok muka kamu kelihatan pucat? Kamu sakit?"


"Ngga papa kok Ning. Ngga, aku ngga sakit. Tadi sempat kaget saja kedatangan tamu dan marah-marah."


"Tamu? Siapa? Kenapa marah-marah? Sekarang tamunya mana?"


"Ada dua perempuan yang satu namanya Maryam dan bibinya. Mereka kesini mencari Ahmad. Dan sebelumnya mereka datang ke pabrik terlebih dahulu lalu diantar sama supir bis jemputan pabrik ke sini."


"Terus. Mereka marah kenapa?"


"Mereka kira aku sembunyikan Ahmad disini. Dan untungnya tadi pak Joe menyelamatkan aku dengan membawa dua orang itu untuk bertemu Ahmad di kantor polisi."


"Ampun ya Ahmad itu. Kenapa sih dia selalu buat ulah sama kamu. Sampai kamu hidupnya tidak tenang selalu ketakutan. Semoga proses cerai kamu selesai jadi tidak ada lagi perempuan-perempuan aneh datang kesini dan melabrak kamu. Kesannya kamu yang membuat keluarga mereka hancur. Laki kalau hanya ngandelin nafsu ya gitu. Maaf ya Tyas, kalau kata-kata aku ada yang menyinggung kamu."


"Santai saja Ning. Aku tahu kamu kok. Kamu sendiri juga tahu kelakuan Ahmad seperti apa. Insya Allah proses cerai aku cepat selesai. Jadi tidak ada lagi yang ganggu aku."


"Ya sabar saja. Untungnya kamu sabar. Coba kalau aku di posisi kamu. Sudah aku kruwes mulutnya itu perempuan. Sayang tadi aku ngga ada jadi gemes rasanya."


"Ya sudahlah. Kamu sudah makan? Aku nunggu kamu biar kita makan malam bareng."

__ADS_1


"Heheheh, aku sudah makan sama mas Arif sebelum pulang tadi. Tapi aku temenin kamu makan ya. Kalau ada kejadian seperti ini kadang suka kangen sama Gege. Seandainya dia masih ada itu perempuan dua bisa nangis bombay sama Gege."


"Iya Ning. Aku juga kangen sama Gege. Kita berdua hanya bisa mendoakan Gege. Dia sudah tenang disana, walaupun caranya salah."


__ADS_2