
"Tyas, hari ini aku pulang malam ya."
"Iya Ning. Yang mau nikah pasti sudah tidak sabar ya, mau buru-buru di halalkan sama pak bos."
Muka Ningsih memerah.
"Ya, cuma aku takut Tyas. Aku takut tidak bisa mengimbangi pak Arif. Dia kan orang kaya, punya banyak perusahaan, pendidikannya tinggi. Sedangkan aku, kan kamu tahu sendiri aku hanya lulusan SMA. Aku bukan orang kaya. Kalau secara kasta. Aku kasta sudra."
"Hei, tumben teman aku yang biasanya optimis tiba-tiba pesimis. Memangnya waktu pak Arif mau pacaran sama kamu, dia lihat 3b, kamu."
"Ih, apaan sih. Aku bukan 3b ya. Gede banget. Aku pakai yang 3 aja, karena tidak sedang apalagi besar."
"Hahahaah, pasti kamu mikirnya kacamata yang di dada ya? Bukan tahu. Hahahha." Tyas tertawa mendengar jawaban Ningsih.
"Terus, maksud kamu 3b itu apa?"
"3b itu, bibit, bebet, bobot."
"Oh, kalau itu mah tidak usah khawatir. Bibit aku sehat, bebet, kebetulan aku ngga suka pakai kemben, bobot? Kayaknya badan aku biasa saja, tidak kurus ataupun gemuk."
"Aduh Ning, bukan itu maksud aku. 3b itu bibit, bebet, bobot adalah mengenai kamu. Kamu punya keluarga, jelas tidak asal usulnya, pendidikan kamu, apakah nanti buat malu dia atau tidak, terus apakah kamu bisa menempatkan diri kamu sebagai Ningsih dan juga istri dari suami kamu. Intinya tidak membuat malu semuanya."
"Oh gitu. Eh itu bunyi klakson bis. Aku berangkat ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Tyas menutup pintu setelah Ningsih keluar dari rumah.
Tok... tok... , assalamu'alaikum.
Siapa ya? Pagi-pagi sudah ada tamu. Tyas berjalan dan membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam. Mbak siapa ya? Dan ada keperluan apa?" Tyas menanyakan kepada tamunya, dua orang wanita.
Tyas berusaha mengingat-ingat perempuan yang ada di depan rumahnya.
__ADS_1
"Mbak Tyas, saya Maryam. Saya istrinya mas Ahmad, adiknya Nurhasanah. Dan ini bibi saya.
"Oh iya mbak, Maaf saya lupa. Silakan duduk mbak. Ada keperluan apa, pagi-pagi sudah kesini?"
"Apa tidak sebaiknya bicara di dalam rumah saja mbak. Ada yang ingin saya bicarakan sama mbak Tyas mengenai mas Ahmad dan anak-anaknya."
"Maaf mbak Maryam, bukannya saya tidak mau mengijinkan mbak Maryam dan bibinya mbak masuk ke dalam rumah. Kebetulan rumahnya sedang berantakan dan belum saya bereskan. Jadi lebih baik duduk di teras saja mbak."
"Tapi mbak, nanti tidak enak kalau kedengaran tetangga. Lagi pula ini mengenai mas Ahmad."
"Mbak, sebelum mbak Maryam bicara mengenai Ahmad, saya ingin menjelaskan bahwa saya dan Ahmad sudah resmi bercerai. Jadi semua hal ataupun masalah mengenai Ahmad, saya sudah tidak peduli lagi. Sudah masing-masing saja. Sekarang silakan duduk mbak Apa mbaknya tetap mau bicara sambil berdiri?"
Maryam dan bibinya duduk.
"Mbak Tyas, saya sudah tahu kalau mbak Tyas dan mas Ahmad sudah bercerai. Tapi dari pernikahan tersebut ada anak yaitu Keisha, kalau Malik memang benar anak kakak saya."
Dahi Tyas berkerut mendengar omongan Maryam.
"Mbak Maryam, selama saya menikah dengan Ahmad sampai bercerai, saya tidak pernah mengandung dan melahirkan bahkan punya anak. Bagaimana bisa mbak Maryam dengan yakinnya bilang kalau siapa tadi namanya?"
"Keisha."
"Mbak Tyas, mas Ahmad masuk penjara kan karena mbak Tyas, padahal saya tahu bahwa mas Ahmad tidak akan mungkin mencelakai seorang perempuan. Dan selama mas Ahmad menikah dengan kakak saya, mas Ahmad selalu memberikan yang terbaik."
"Mbak Maryam, saya tidak mau ikut campur lagi mengenai urusan Ahmad. Jika ada hal lain, silakan mbak Maryam pergi. Karena saya harus segera pergi untuk bekerja!"
"Mbak Tyas, saya minta tolong agar mas Ahmad dibebaskan karena selama mas Ahmad di penjara, saya bingung harus mencari uang kemana sedangkan anak-anak mas Ahmad saya yang mengurus. Jadi saya minta dibantu untuk membiayai anak mas Ahmad yaitu Keisha dan Malik. Atau kalau perlu saya antar mereka ke rumah ini agar mbak Tyas yang mengurus mereka."
Sabar-sabar. Ini orang kenapa sih! Kenapa jadi berbelit-belit. Tyas berusaha sabar untuk menghadapi Maryam.
Pak Joe yang baru keluar akan berangkat kerja melihat Tyas dan tamunya di teras. Pak Joe melihat muka Tyas yang berusaha menahan marah. Dan menghampiri Tyas.
"Pagi Tyas. Kamu sudah siap? Ayo kalau sudah siap. Kita berangkat kerja sekarang."
"Eh, i-iya pak Joe. Sebentar saya ambil tas dulu."
__ADS_1
"Mbak Tyas, jadi bagaimana ini? Saya sudah lama di sini yang seharusnya saya bisa pulang kampung karena mengikuti sidang mas Ahmad. Kita sama-sama perempuan!" Maryam mulai gusar karena Tyas mulai bangkit yang pada akhirnya Tyas duduk kembali.
"Mbak Maryam, saya tidak mau ikut campur urusan mbak Maryam, Ahmad dan anak-anaknya. Saya harus segera berangkat kerja! Jadi silakan mbak Maryam bisa pergi. Permisi." Tyas segera bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah
"Kalau mbak Tyas pergi dan tidak membantu saya. Saya akan berteriak kalau mbak Tyas sudah menjadi perusak rumah tangga kakak saya biar semua tetangga disini tahu kalau mbak Tyas bukan perempuan baik-baik!"
Tyas tidak peduli dengan omongan Maryam dan tetap masuk ke dalam.
"Maaf mbak. Ini sebenarnya ada apa? Pagi-pagi sudah bertamu ke rumah orang dan mengancam?" Joe bertanya dengan Maryam."
"Saya minta mbak Tyas untuk membebaskan mas Ahmad dan mengurus anak-anaknya mas Ahmad. Karena saya tidak sanggup mengurus mereka. Sejak mas Ahmad di penjara, uang bulanan tidak diberikan lagi. Mas Ahmad bilang kalau semua uangnya diambil sama mbak Tyas."
Pak Joe menarik napas panjang.
"Calon istri saya Tyas, tidak pernah mendapatkan uang dari Ahmad. Dan Ahmad tidak bisa dibebaskan oleh Tyas. Saya tahu siapa Tyas, jadi silakan mbaknya pergi dan jangan pernah mengganggu Tyas lagi! Atau mbak akan saya laporkan ke polisi atas perbuatan tidak menyenangkan!" Pak Joe berbicara dengan suara meninggi.
"Hmmm, belum selesai masa iddah, sudah punya calon suami. Pantas saja kalau mas Ahmad cerai. Mantan istrinya ternyata sudah punya pacar." Maryam melengos ke arah pak Joe.
"Sekarang silakan anda pergi atau saya akan panggilkan keamanan."
Tyas baru keluar dari rumah sambil membawa tas
"Ayo pak Joe, kita berangkat. Takutnya telat."
"Huh, dasar perempuan tidak tahu malu! Bagusnya mas Ahmad sudah bercerai, ternyata mbak Tyas jadi perempuan kegatalan! Bisa-bisanua ada laki-laki yang mau sama kamu Tyas! Emang dasar perempuan tidak punya akhlak!"
Maryam sudah berdiri dan pergi diikuti oleh bibinya.
"Maryam, tunggu. Jangan cepat-cepat jalannya!"
Maryam berhenti menunggu bibi yang berada di belakangnya.
"Maryam, sudah kita balik kampung saja. Kita sudah ngga bisa berbuat apa-apa lagi." Bibi bicara sambil ngos-ngosan.
"Tapi bi, aku cuma mau minta uangnya mas Ahmad yang diminta sama Tyas!"
__ADS_1
"Sudahlah ikhlaskan saja. Mau kita teriak-teriak pun, kita tidak akan bisa dapat uangnya Ahmad. Lagi pula Keisha dan Malik kan juga keponakan kamu."
"Apes banget nasib aku, bi. Punya suami yang satu kabur, yang sekarang dipenjara. Nambah anak juga!"