
"Selamat siang Tyas, kamu sudah makan?"
"Siang Pak Joe, ini baru mau makan. Tyas mau goreng telornya dulu, baru makan nasi pakai telor dadar. Ada apakah Pak?"
"Ok, kondisi kamu bagaimana?"
"Sudah agak enakan Pak. Saya masih punya obat yang beli di warung."
"Ok, istirahat ya, besok kamu harus masuk."
"Iya Pak, insya Allah besok saya bisa masuk kerja."
"Ok, besok pagi berangkat bareng saya."
"Iya Pak Joe. Terima kasih."
Tyas menulis pesan kepada Dodo, temannya.
"Dodo, ini Tyas, apa kabar kamu? Do, maaf atas kejadian yang lalu. Aku lebih memilih Ahmad dan aku telah meninggalkan kamu. Aku masih menyimpan no handphonemu. Seandainya waktu itu aku tidak memilih Ahmad, mungkin aku akan bahagia sama kamu. Tapi takdir ku mengatakan aku harus menikah dengan Ahmad. Aku ingin meminta maaf. Perasaan bersalah itu tetap ada sampai saat ini. Sekiranya boleh, aku minta tolong untuk pinjam uangmu untuk mengurus perceraian ku dengan Ahmad agar cepat selesai. Setelah itu aku akan angsur hutangku ke kamu setiap bulan. Aku capek Do, selama pernikahanku Ahmad tidak pernah memberikan nafkah lahir dan bathin. Aku hanya sebagai boneka buat Ahmad. Sampai ia pakai sebagai senjata untuk selingkuh dan mengatakan bahwa aku mandul. Ini karma yang harus aku terima karena lebih memilih Ahmad. Dimana pada hari yang sama kamu dan Ahmad mengungkapkan cinta kepadaku. Padahal cintamu kepadaku tulus. Sekiranya tidak bisa meminjamkan uang, tidak papa Do. Terima kasih."
Tyas langsung mengirimkan pesan tersebut kepada Dodo. Tetapi Tyas tidak melihat kembali nomernya. Pesan itu terkirim ke Pak Joe.
Semoga Dodo bisa membantu aku. Tyas meletakkan handphonenya dan melangkah ke dapur untuk menggoreng telor.
Pak Joe melihat ada pesan masuk dari Tyas. Pak Joe membuka dan membaca pesan tersebut.
"Ya Allah, Tyas sampai mau meminjam uang untuk mengurus perceraiannya dengan Ahmad. Apa maksud Tyas tidak diberikan nafkah lahir dan bathin?" Pak Joe bingung saat membaca bahwa selama pernikahannya dengan Ahmad, Tyas tidak mendapat nafkah lahir dan bathin.
"Kalau memang maksud Tyas tidak disentuh oleh Ahmad selama pernikahan apa Tyas masih perawan. Ah sudahlah. Aku hanya menunggu dari Pak Arif untuk mengecek Tyas ke dokter obygin. Aku akan memberikan uang kepada Tyas untuk proses perceraiannya dengan Ahmad. Biar Tyas bisa bangkit lagi untuk menjalani hidupnya tanpa beban."
__ADS_1
Pak Joe melanjutkan pekerjaannya. Sementara Tyas menunggu balasan dari Dodo.
"Ya sudahlah kalau Dodo tidak mau membantu. Aku tidak akan memaksa untuk meminjam uang. Aku jalani saja maunya Allah atas pernikahan ku dengan Ahmad. Aku hanya bisa berserah dan berdoa agar Allah memberikan aku petunjuk."
Tyas ingin menghapus pesan yang tadi ia kirimkan ke Dodo.
"Ya Allah, ternyata aku salah kirim!. Bagaimana ini, apa nanti kata Pak Joe? Aduh Tyas kok kamu tadi main asal kirim, biasanya kan kamu cek dulu tujuannya." Tyas menepuk dahinya.
Tyas menelpon Pak Joe.
"Iya Tyas."
"Siang Pak Joe. Saya mau minta maaf Pak Joe. Saya tadi salah kirim pesan. Bukan mau kirim ke Pak Joe, tapi kirim ke teman saya Dodo. Mohon maaf Pak Joe."
"Santai saja Tyas, pikiranmu lagi kacau. Kamu ngga fokus. Karena itu kamu harus banyak istirahat biar besok lebih segar dan bisa kerja secara fokus."
"Baik Pak Joe, terima kasih. "
"Erna bilang juga apa. Udah jangan pingsan disini. Berat. Kalau mau pingsan nunggu sampai rumah."
.
Sekar dan Erna keluar dari ruang ATM. Mereka segera pulang ke rumah.
"Bagaimana Erna, sudah ngecek ATM? Ada uangnya berapa banyak?"
"Tanya sama kakak Bu, jangan sama Erna."
"Bu, biar Sekar masuk rumah dulu, masa ngomongin uang di luar rumah. Ngga enak kalau tetangga tahu bahwa ATM kosong. Bapak sih sudah duga."
__ADS_1
Sekar masuk ke dalam rumah di ikuti ibunya.
"Duduk, bapak tahu. Ngga ada uang kan di ATM itu?
Sekar hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, sampai saat ini Ahmad ngga ada kabar. Padahal dia tahu bahwa istrinya sedang hamil. Kalau pun nanti dia datang dan banyak alasan karena inilah, karena itulah, kamu pasti akan memaafkan dan menerima semua alasannya. Karena kamu cinta sama Ahmad."
"Iya Pak, Bu, Sekar minta maaf karena tidak bisa menjaga diri."
"Kamu seperti itu, karena imanmu kepada Allah tidak kuat. Kamu terpengaruh. Kamu terlalu berpikir sementara dan sesaat makanya segala sesuatu harus dipikirkan baik-baik."
"Iya Pak, Sekar sudah membuat malu keluarga. Tapi Sekar harus jalani semuanya. Ada sebab dan akibat. Bapak sama ibu mengajarkan Sekar dan Erna berani berbuat harus berani menanggung resikonya."
"Iya, kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah punya suami dan sebentar lagi jadi seorang ibu. Bapak sama Ibu sebenarnya lebih kuatir sama kamu. Karena kamu selalu terlihat baik di depan bapak dan ibu tetapi di luaran kamu bisa berubah. Ya ini akibatnya. Beda dengan Erna, Di depan bapak dan ibu kelakuannya seperti itu selalu ada saja yang dibantah dan keras kepala, ibaratnya bisa perang dingin sama bapak ibu tetapi di luaran juga sama. Bapak sama ibu kadang terkecoh sama perbuatan kamu. Kamu baik, alim rajin sholat, nurut sama bapak ibu tetapi ketika kamu di luar rumah, kamu berubah 180 derajat Sampai akhirnya seperti ini Namanya pelajaran hidup. Kamu akan merasakan nanti saat anakmu lahir. Tobat, sholat, doa, tahajud minta petunjuk sama Allah. Dan mohon perlindungan sama Allah untuk menjaga pernikahan kalian yang baru dari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Iya Pak."
"Udah gugurin aja itu kandungan daripada nanti anaknya nyari ayahnya!"
"Erna!!! Berapa kali lagi dosa yang harus ditanggung oleh kakakmu?! Mikir tuh pakai otak. Bukan pakai dengkul."
"Masih mending kalau mikir pakai dengkul. Nah ini mikirnya pakai jempol kaki yah ngga sampai makanya hamil duluan! Itu anak bapak dan ibu yang selalu dibanggakan! Sedangkan Erna tidak pernah Erna dengar bapak dan ibu membanggakan Erna seperti bapak dan ibu membanggakan kakak. Akhirnya kesandung sendiri semuanya! Mikir kak, anak loe mau dikasih makan apa, uang aja loe ngga ada. Terus hidup loe nanti sama anak loe gimana? Ih gue mah amit-amit ya Allah, semoga ngga dapat laki kayak Ahmad. Manisnya ada diperas-peras sampai habis, giliran udah pahit ditinggalin. Ciiihhh. Gue akan cari Ahmad, gue geret ke sini untuk minta maaf sama bapak dan ibu! Pegang omongan gue!"
"Erna, kamu kasar sekali sama kakakmu! Ibu tidak membedakan kamu sama kakak, tapi kakakmu.. "
"Erna udah tahu, kakak nurut, kakak anak pintar kakak anak rajin, kakak anak baik, kakak ngga pernah ngebantah bapak ibu tapi sayang kakak buang kotoran ke muka bapak dan ibu."
Erna pergi ke luar rumah. Ia tidak mau lagi mendengar omongan ibunya yang akhirnya Erna akan djsalahkan."
__ADS_1
.