
Pesta pernikahan Ningsih dan pak Ryan berlangsung dengan meriah. Maung dan Edo juga hadir di pesta pernikahan tersebut.
"Pak Joe, saya malu datang ke pesta pernikahan pak Arif dan Ningsih."
"Kenapa harus malu? Memangnya kamu datang tidak pakai baju?"
"Bukan gitu pak. Tapi saya belum pernah datang ke pesta pernikahan di gedung. Yang ada nanti mereka mencemooh saya?"
"Hahahah, mereka itu siapa? Memangnya mereka itu kenal kamu? Memangnya teman pak Arif hanya yang di pabrik saja. Kalau kamu malu, pegang tangan saya."
"Tapi pak."
Pak Joe memegang tangan Tyas. Mereka berdua masuk ke gedung pesta pernikahan.
"Bu Agnes, bu Agnes. Itu ada pak Joe. Dekatin sekarang saja bu. Kan sudah beda kantor. Jadi lebih mudah buat bu Agnes untuk bisa dekat sama pak Joe."
"Kamu lihat sebelah pak Joe! Itu Tyas, aku keduluan sama Tyas. Susah kalau bersaing dengan janda."
"Apa Tyas main dukun ya Bu, biar pak Joe nempel ke Tyas."
"Bisa jadi. Kalau jodoh mah nanti saya juga bisa jadi istrinya pak Joe."
"Amin."
Tyas melihat beberapa teman pabrik yang datang dan juga orang-orang kantor. Ada perasaan tidak enak saat mereka melihat kearah dirinya dan pak Joe yang masih memegang tangan Tyas.
"Do, itu Tyas datang. Tapi sama monyetnya. Hahahha, elo kalah cepat."
"Emang elo ngga? Samanya kan? Kita berdua gigit jari." Edo menimpali omongan Maung.
"Yuk, kita sapa Tyas." Ajak Maung.
"Ngga mau, elo aja sana. Gue mau ambil sate kambing." Maung pergi ke pondokan sate kambing.
Joe masih memegang tangan Tyas menghampiri Jerry dan tunangannya.
"Jer, dari jam berapa?"
"Eh, Joe. 15 menit yang lalu. Cie, sekarang udah berani megang tangan Tyas. Jadi rencana mama menikahkan kita barengan jadi dong."
"Semoga. Gue tergantung Tyas, mau atau tidak segera menikah."
"Gimana Tyas? Saudara gue pengen banget loh nikah sama kamu. Sudah gitu masa idaah mu sudah selesai kan?"
"Tyas terserah sama pak Joe saja pak Jerry."
"Tyas, ngga usah kaku gitu. Panggil nama saja. Tidak perlu ada embel-embel pak lagi. Sebentar lagi kita jadi ipar. Benar ngga Joe."
"Biar saja lah Jer, terserah Tyas, yang penting dia nyaman."
"Gue kasih selamat dulu sama pak Arif dan Ningsih ya."
__ADS_1
"Ok Joe, pegangin Tyas nanti di rebut sama orang loh."
"Asem elo!"
Joe mengajak Tyas berjalan ke arah pelaminan pak Arif dan Ningsih. Mereka berdua mengucapkan selamat kepada pengantin.
"Pak Joe, boleh lepasin tangan Tyas tidak. Ngga enak, tangan Tyas berkeringat ini."
"Ya, tapi jangan jauh-jauh dirinya. Kamu tetap diri di sebelah saya."
"Iih, pak Joe kok jadi aneh sih?"
"Kenapa? Kamu kan calon istriku. Aku tidak mau kehilangan kamu. Alhamdulillah pak Arif msmpersatukan kita lagi di kantor yang sama."
"Iya pak Joe. Saya mau ambil bakso di pondok sebelah sana pak."
"Ayo, kita ke sana."
Pak Joe dan Tyas berjalan ke arah pondok bakso.
"Tyas!"
"Edo? Kamu diundang juga?"
"Aku nemenin Maung. Kamu sama siapa?"
"Sama pak Joe. Kenalin."
"Tyas pulang bareng saya. Karena Tyas calon istri saya."
"Iya Edo, aku nanti pulang sama pak Joe. Terima kasih untuk tawarannya."
"Kamu yakin akan menikah dengan laki-laki ini! Sebentar lagi Ahmad keluar dari penjara dan dia mau rujuk lagi loh sama kamu."
"Tyas, ayo kita ke sebelah sana, bertemu dengan keluarga pak Arif."
"Iya pak Joe. Edo, aku permisi ya. Salam buat Maung."
"Iya, pikirkan baik-baik keinginan Ahmad, Tyas."
Tyas hanya tersenyum dan pergi dengan pak Joe.
"Aku harus bilang sama Ahmad, supaya Tyas tidak menikah dengan Joe. Tyas harus menikah dengan aku. Karena Ahmad sudah bercerai dengan Tyas. Semoga kamu bisa bantu aku, Ahmad untuk menggagalkan pernikahan Tyas dan Joe. Masa aku harus kalah lagi!"
"Do, kamu kenapa komat kamit seperti dukun. Tadi aku lihat kamu bicara sama Tyas."
"Iya, Tyas mau menikah dengan Joe. Laki-laki itu. Aku tidak boleh kalah lagi untuk mendapatkan Tyas."
"Edo, Edo. Sebenarnya ada apa sih sama Tyas? Kenapa kamu masih berharap sekali sama Tyas. Belum tentu Tyas mau kamu jadikan istri."
"Kita lihat saja Ung! Dan aku janji, Tyas akan jadi istriku sscelatbya."
__ADS_1
"Hahaha, percaya diri sekali sih kamu. Banyak wanita cantik yang bersedia menunggu dan menjadi istri kamu. Tutup lembaran lama, buka lembaran baru."
"Aku tidak tertarik dengan wanita cantik. Aku mau sama Tyas saja."
"Hahaha, terserah deh."
Tyas dan pak Joe berkumpul bersama keluarga Ningsih dan keluarga pak Arif.
"Tyas! Tyas!"
"Ningsih."
"Alhamdulillah kamu masih ada disini. Aku pikir kamu sudah pulang. Tamu-tamu sudah banyak yang pulang, aku dari tadi cari kamu."
"Ada apa Ningsih? Kok kamu malah cari aku. Heheheh, gugup ya mau malam pertama."
"Iih, apaan sih. Bukan, bukan gitu."
"Bibi sama uwak kan tidak mau tinggal di hotel, akhirnya ibuku juga. Jadi mereka bertiga pulang ke rumah. Ngga papa ya, kalau nanti mereka menginap di rumah."
"Ya ampun Ningsih, aku pikir ada apa. Ya boleh. Nanti bareng sama aku saja. Aku pulang sama pak Joe."
"Ngga, ngga usah. Nanti mereka diantar sama sopir. Mereka baru mau ke hotel dan ambil koper mereka setelah itu balik pulang ke rumah. Maaf ya Tyas, aku jadi merepotkan kamu.
"Oh ya sudah. Ngga Ningsih. Aku ngga merasa di repotkan kok."
"Makasih banget ya Tyas. Aku ke keluarga mas Arif dulu ya. Nanti aku telpon kamu."
"Ok Ningsih."
Tyas melihat pak Joe yang masih berbicara dengan pak Arif. Tyas menghampiri mereka.
"Pak Arif, sekali lagi selamat ya. Akhirnya babak baru dalam kehidupan di mulai."
"Terima kasih Tyas. Terus kalian berdua kapan menyusul? Joe sudah banyak cerita sama saya. Saya merestui kalian. Tapi, kalau kalian menikah, salah satu dari kalian harus resign dari kantor, karena suami istri tidak boleh satu kantor."
"Iya pak Arif, saya ngerti. Saya nanti terserah sama pak Joe bagaimana baiknya."
"Joe, ayo di segerakan. Sepertinya Tyas sudah siap jadi istri kamu tuh."
"Hehehhe, pak Arif.
Muka pak Joe terlihat memerah.
"Pak Arif, maaf. Saya pamit mau pulang, karena mertuanya pak Arif katanya tidak mau menginap di hotel lagi jadi mau pulang ke rumah saya saja."
"Iya, padahal sudah disiapkan kamar yang bisa muat untuk mereka sekeluarga."
"Ya mungkin mereka merasa tidak nyaman pak."
"Ya sudah kalau gitu. Joe hati-hati di jalan. Jaga baik-baik Tyas ya. Saya tunggu undangan pernikahan kalian berdua."
__ADS_1
"Siap pak bos. Selamat mbelah ya. Hahahah."