Istri Suamiku

Istri Suamiku
Rencana menikah


__ADS_3

Tyas berjalan keluar pabrik. Tyas memyebrang dan tidak langsung menyetop angkot. Tyas berjalan, ia teringat kata-kata Mas Ahmad tadi siang. Hatinya sakit tapi ia harus ikhlas menerima apapun yang akan jadi kemauan Mas Ahmad. Tyas. Tyas berjalan dengan perasaan campur aduk.


Pak Joe baru keluar dari pabrik. Sudah jam 5. Ia masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil nya. Saat menjalankan mobilnya ia melihat Tyas sedang berjalan. Pak Joe ingat tadi siang ia mendengarkan penbicaraan Tyas. Pak Joe memberhentikan mobilnya dan memanggil Tyas.


"Tyas, bareng saya saja untuk pulang ke rumahmu."


"Pak Joe, maaf Pak Joe tidak usah kebetulan rumah saya tidak jauh dari sini."


Pak Joe melihat mata Tyas yang memerah karena nangis.


"Baik kalau gitu, saya duluan ya Tyas. Kamu hati-hati."


"Iya Pak Joe, terima kasih. Bapak juga hati-hati."


Kasihan Tyas. Tapi saya tidak mau ikut campur urusan keluarganya.


Pak Joe menjalankan mobilnya kembali. Perutnya terasa lapar dan ia berhenti di salah satu restoran makanan cepat saji.


Ia mencari tempat duduk dan di depannya ada seorang laki-laki dan perempuan. Sepertinya sepasang kekasih.


"Mas Ahmad, istrimu yang pertama bagaimana? Siapa namanya?"


"Tyas, dia kerja di pabrik BAT. Akhirnya Tyas tahu kalau aku sudah punya istri dan anak dua. Nah kamu mau tidak jadi istriku yang ketiga?"


"Mas Ahmad yakin sanggup untuk nikah sama aku?"


"Yakin, lagi pula aku sudah mau menceraikan Tyas, karena dia tidak bisa memberikan anak buat aku. Aku ingin punya banyak anak. Istriku si Nur sudah tidak mau lagi nambah anak. Karena sudah ada anak perempuan dan anak laki".


"Aku mau nikah sama Mas Ahmad tapi aku mau Mas Ahmad cerai sama Tyas."


"Secepatnya aku urus cerai sama Tyas. Lagi pula aku sudah bicara sama Tyas. Tidak akan bertanggung jawab lagi secara materi dengan Tyas. Aku yakin tidak ada laki-laki yang mau dengan Tyas, dia mandul."


Pak Joe mendengarkan penbicaraan orang yang duduk di depannya.


"Tyas, apa Tyas yang orang baru di QC? Ahmad? Tadi siang Tyas juga menyebut Ahmad. Dan Pabrik BAT, itu pabrik tempat saya bekerja. Kalau memang laki-laki ini suaminya Tyas, kasihan sekali Tyas. Dan laki-laki ini ingin menikah lagi dengan alasan yang aneh. Dia pikir wanita itu cuma tempat untuk melahirkan saja?"


Pak Joe hanya geleng-geleng kepala mendengar omongan orang yang di depannya. Harusnya laki-laki itu bersyukur bisa nikah. Sedangkan aku sampai sekarang belum nikah. Ya inilah hidup. Pak Joe membatin dan berdiri.


Tyas akhirnya sampai rumah dan segera mandi karena sebentar lagi sholat maghrib.


Selesai sholat, Tyas makan, ia makan sambil menangis. Hatinya hancur mengingat semua omongan Mas Ahmad. Selesai makan Tyas melihat ada satu pesan masuk di handphonenya. Dari Pak Joe? Ada apa ya?

__ADS_1


Tyas masih bertanya-tanya. Dan sekarang telpon masuk dari Pak Joe


"Selamat Malam Tyas."


"Malam Pak Joe. Ada apa Pak?"


"Maaf saya telpon kamu malam-malam. Kamu baik-baik saja?"


"Iya Pak Joe, saya baik-baik saja."


"Tapi suaramu seperti orang habis menangis? Saya tidak mau urusan keluargamu di campur adukkan dengan urusan kantor. Karena tadi siang selesai istirahat kamu terlihat tidak fokus."


"Maaf Pak, saya tadi tidak fokus. Besok saya akan lebih fokus lagi."


"Jika kamu ada masalah, mungkin bisa bicara sama saya ataupun Bu Agnes."


"Baik Pak Joe. Terima kasih."


"Ok, selamat malam. Sekali lagi maaf mengganggu kamu malam-malam."


"Malam Pak. tidak papa Pak. Saya terima kasih Pak Joe sudah menelpon dan mengingatkan saya agar saya bekerja secara fokus."


Tyas merebahkan dirinya di kasur, pikirannya menerawang saat dulu ia masih berpacaran dengan Mas Ahmad dan akhirnya menikah. Awal-awal pernikahan membuat dirinya bahagia.


Pak Joe baru saja menelpon Tyas, ia tahu bahwa Tyas baru saja menangis, karena terdengar dari suaranya. Berarti benar laki-laki yang tadi duduk di depannya adalah suaminya Tyas.


Handphone Tyas berbunyi kembali. Dari Ningsih.


"Assalamualaikum Tyas. Sudah tidur?"


"Wa'alaikumussalam Ning. Kan aku angkat telponnya berarti aku belum tidur."


"Aku nginap di rumah kamu ya sama Give. Aku bawain makanan."


"Ya, aku tunggu."


Tyas baru saja menutup telpon dari Ningsih. Terdengar ada yang mengetuk pintunya.


"Tyas, buka pintu!"


"Iya Mas Ahmad, sebentar."

__ADS_1


Tyas segera msmbuka pintu.


"Assalamualaikum Mas." Tyas mengucap salam dan mengambil tangan Ahmad unruk diciumnya tetapi ditepis oleh Ahmad.


"Aku mau ambil uang yang tempo hari aku kasih ke kamu. Aku mau pakai. Besok aku mau menikah lagi."


"Astagfirullah Mas! Kamu sadar ngga sih Mas!"


"Kenaoa? Aku sanggup kok menikah lagi dan mempunyai banyak anak. Daripada kamu tidak bisa memberikan anak? Jadi buat apa aku pertahankan pernikahan ini sama kamu?!"


"Tapi jangan seperti itu Mas."


"Ya sekarang aku bilang sama kamu bahwa aku akan menikah lagi. Dan aku tidak salah secara agama. Aku menikah."


"Memang tidak salah menikah lagi selama Mas Ahmad bisa berlaku adil. Tapi maaf, Mas Ahmad tidak berlaku adil. Tyas terima dan ikhlas Mas Ahmad menikah lagi. Alasan Mas Ahmad menikah lagi untuk dapat keturunan yang banyak itu juga tidak baik. Apakah nantinya Mas Ahmad sanggup untuk menjaga, merawat dan memberikan anak-anak Mas Ahmad kehidupan yang lebih baik lagi? Anak-anak itu titipan dari Allah, Mas. Harus benar-benar dijaga, dilindungi, diberikan...."


"Heh, kamu tahu apa mengenai mengurus anak. Sampai saat ini saja kamu tidak bisa punya anak. Jangan mengajari saya cara mendidik anak!"


"Sudah mana uangnya. Aku mau segera pergi."


"Ya sebentar Mas, Tyas ambil dulu."


Tyas masuk ke kamar dan diikuti oleh Ahmad.


Tyas mengambil uang yang di dalam amplop dan diberikan Ahmad. Ahmad mengambilnya dan mendorong Tyas menjauh dari lemari. Ahmad mengambil kotak perhiasan Tyas dan membukanya. Ada cincin pernikahan dan perhiasan yang diberikan sama Tyas sebagai mahar waktu mereka menikah.


"Mas Ahmad, jangan ambil perhiasan itu Mas. Itu adalah penberian dari Mas Ahmad buat Tyas waktu kita menikah."


"Iya aku tahu, dan kamu sudah tidak membutuhkannya lagi, karena sebentar lagi kamu akan saya ceraikan."


"Mas Ahmad, Tyas mohon jangan Mas, itu mahar pernikahan kita Mas."


'Mulai detik ini kamu jangan mencari saya! Kita masih suami istri sampai kamu mendapatkan surat cerai dari saya. Mengerti kamu!"


Tyas hanya diam. Dan Ahmad berjalan keluar kamar dan segera pergi dari rumah.


Tyas hanya bisa memandang Mas Ahmad yang sudah pergi.


Ningsih dan Gege sudah datang saat Ahmad bicara di ruang tamu dengan Tyas. Mereka tidak berani masuk. Dan mereka berdua mendengarkan penbicaraan Tyas dan Ahmad.


Setelah di rasa aman, Ningsih dan Gege keluar dari samping rumah. Mereka melihat Tyas yang masih memandang ke jalan. Dan memeluk Tyas yang menangis.

__ADS_1


__ADS_2