
"Mas Ahmad, ini mau sampai kapan anak-anak disini. Aku pusing sama anak-anak kamu. Kamu bilang mau bawa mereka ke rumah adik iparmu. Ya sudah bawa mereka ke sana segera!'
"Sabar Mirna, aku butuh waktu sama anak-anakku."
"Apartemenku bukan buat penitipan anak! Kalau kamu tidak mau segera bawa anak-anakmu keluar dari sini, ya sudah. Kita tidak jadi nikah! Aku tidak takut jika tidak jadi nikah dengan kamu. Cukup aku tahu bahwa kamu hanya memanfaatkan perempuan untuk pemuas ***** kamu!"
"Jaga omongan kamu! Aku menikahi semua perempuan yang sudah tidur sama aku!"
"Oh ya? Apakah termasuk perempuan yang bisa dibawa? Dan kamu pikir aku seperti mereka!"
"Bukannya sama? Saat melihat uang, aku dengan mudahnya mau melakukan? Serupa tapi tak sama!"
"Oh sudah berani sama aku! Silakan keluar! Aku bukan mbak Tyas yang bisa kamu tinggalkan tanpa kabar dan tiba-tiba kamu punya anak! Keluar kamu dan bawa anak-anak kamu!"
"Aku kan sudah janji sama kamu bahwa aku akan menikahi kamu! Hanya sabar sedikit. Aku akan pikirkan dimana anak-anak akan tinggal. Biar bagaimanapun mereka darah dagingku!"
"Iya benar, kamu benar. Mereka memang darah dagingmu tapi bukan berarti aku menikah sama kamu dan ternyata kamu punya dua anak! Kamu sudah bohong sama aku! Keluar sekarang juga!"
Mirna menelpon satpam gedung apartemen untuk bisa mengusir Ahmad dan anak-anaknya dari apartemennya.
Tidak berapa lama 3 orang satpam datang.
"Pak Satpam mohon bantu saya. Bawa pergi mereka semua dari tempat saya. Mereka hanya menumpang hidup!"
"Baik bu. Mari pak, mohon kerjasamanya."
Ahmad terlihat kesal. Ia segera menggendong Malik dan menggandeng tangan Keisha. Satpam yang lainnya membawa tas milik Keisha dan Malik."
"Ingat Mirna, aku akan balas kamu!"
"Ingat juga Mas, kamu punya anak perempuan. Apa yang kamu lakukan bisa terjadi sama anak perempuanmu kelak! Pak Satpam, pastikan laki-laki ini tidak bisa masuk ke apartemen saya!"
"Baik Bu."
Ahmad dan anak-anaknya sudah keluar dari apartemen Mirna. Mirna langsung menutup pintu dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Aku harus ketemu dengan Mbak Tyas dan menjelaskan semuanya. Untung belum jadi suamiku. Seandainya sudah jadi suami, bisa jadi aku mengalami nasib yang sama seperti Mbak Tyas. Apa yang aku perbuat sama Mas Ahmad harus aku tanggung resikonya."
Mirna berkata kepada dirinya sendiri. Ia mencari nomer handphone Mirna dan meenelpon Mirna tetapi ternyata tidak tersambung.
Aku harus temui Mbak Tyas hari ini, baru besok aku masuk kerja.
__ADS_1
Ahmad, Keisha dan Malik sudah pergi dari apartemen Mirna.
"Ayah, Malik lapal, iya ayah, Keisha juga lapar."
"Iya, kita beli makanan ya. Sabar dulu.
Tidak berapa lama Ahmad melihat ada tukang bubur di pinggir jalan. Ahmad menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil beserta Malik dan Keisha. Mereka makan bubur ayam dengan lahap.
Selesai makan Ahmad melanjutkan perjalanannya. Ia akan ke rumah ibu mertuanya.
"Ayah, kita mau kemana? Kita pulang saja. Keisha kangen sama bunda. Malik juga kangen bunda." Malik yang mendengar kakaknya berbicara menganggukkan kepalanya.
"Keisha dan Malik, bunda sudah meninggal. Bunda sakit kan dan sekarang kita mau ke rumah nenek. Kalian nanti tinggal sama nenek, tante Maryam, dan om Asep ya."
"Keisha tidak mau tinggal sama tante Maryam. Waktu tante Maryam datang sama nenek. Keisha bilang haus dan lapar, tante Maryam tidak mau ambilkan Keisha minum. Terus kalau Malik nangis, tante Maryam marahin Malik suruh diam."
"Tante Maryam baik, ngga mungkin tante Maryam seperti yang kamu bilang Keisha."
"Ayah ngga tahu, karena ayah kan tidak ada di rumah. Nenek juga seperti bunda."
"Maksudnya Keisha, nenek seperti bunda apa?"
"Nenek juga tidur seperti bunda terus dibawa pergi. di bungkus sama kain sana seperti bunda. Terus uwa kasih tahu kalau nenek sedang tidur dan nenek tidak bisa jalan jadi harus dimandikan dan dibersihkan badannya"
"Iya ayah."
Ahmad tetap akan ke rumah mertuanya dan akan menitipkan Keisha juga Malik.
"Tyas, kamu nanti pulang sama saya ya. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu."
"Baik Pak Joe."
Tyas melanjutkan pekerjaannya. Tyas dan Pak Joe baru sampai pabrik jam 11. Dan sebentar lagi jam istirahat.
Mirna baru sampai pabrik di tempat Tyas bekerja.
"Siang Pak Satpam, saya mau bertemu dengan Tyas."
"Sebentar Mbak, saya coba telpon bu Tyas."
Pak satpam menelpon bagian QC.
__ADS_1
"Selamat siang Bu Agnes. ada tamu untuk Bu Tyas dari Bu Mirna. Orangnya menunggu di pos satpam."
"Ok, bilang saja suruh tunggu, sebentar lagi jam istirahat biar nanti di temui oleh Tyas."
"Baik Bu Agnes. Terima kasih."
"Telpon dari siapa Bu Agnes?"
"Dari Pak satpam. Tyas ada tamu dari Mirna dan menunggu di pos satpam."
"Oh ok.
Bel istirahat berbunyi. Tyas diberitahu oleh Bu Agnes bahwa ada Mirna di pos satpam ingin bertemu dengan dirinya.
Tyas sholat terlebih dahulu baru menemui Mirna.
"Mbak Tyas, maaf Mirna datang kesini. Karena tadi Mirna coba telpon Mbak Tyas, nomernya tidak dapat dihubungi."
"Iya ngga papa. Ada perlu apa ke sini?"
"Mengenai mas Ahmad, Mbak. Apakah kita bisa ngobrol di tempat lain tidak ngobrol di sini?"
Tyas tidak mau keluar dari pabrik. Dengan kedatangan Mirna ke pabrik Tyas menduga bahwa Mirna bersama Ahmad.
"Ngga bisa Mirna. Kalau kamu mau kita bicara disini saja."
"Ya sudah. Sebelumnya Mirna mau minta maaf sama Mbak Tyas. Karena Mirna telah menjadi duri buat pernikahan Mas Ahmad dan Mbak Tyas."
"Duri gimana maksudnya?"
"Iya, waktu kita bertemu di rumah Mas Ahmad dan Mbak Tyas menyerahkan Keisha dan Malik. Mas Ahmad kan bilang kalau aku istrinya."
Mirna terdiam berusaha membaca wajah Tyas yang tanpa ekspresi
"Mirna sebenarnya bukan istri Mas Ahmad Tetapi malam sebelumnya Mirna tidur dengan Mas Ahmad dan melakukan hubungan selayaknya suami istri. Karena siangnya Mas Ahmad bilang, bahwa istrinya meninggal saat melahirkan. Terus Mbak Tyas sudah bercerai dengan Ahmad."
Sekali lagi Mirna melihat wajah Tyas yang tanpa ekspresi.
"Terus, akhirnya Mirna minta dinikahi sama Mas Ahmad Dan Mas Ahmad janji akan bertanggung jawab dan menikahi Mirna. Tapi tidak jadi. Mirna tidak mau dinikahi Mas Ahmad karena sudah ada Keisha dan Malik. Kalau mereka dititipkan atau anak-anak Mas Ahmad sama Mbak Tyas, Mirna mau di nikahi Mas Ahmad. Pokoknya tidak ada anak. Karena Keisha dan Malik bukan anak Mirna. Mirna tidak mau mengurus mereka. Tadi pagi Mas Ahmad dan anak-anak sudah Mirna usir dari rumah Mirna. Mbak Tyas ridho kan kalau Mirna nikah sama Mas Ahmad dan anak-anaknya Mas Ahmad tinggal sama Mbak Tyas. Jadi nanti statusnya Mirna istri kedua. Dan Mbak Tyas istri pertama. Mas Ahmad uangnya banyak Mbak. Nanti kita bisa belanja bareng dan liburan bareng Dan kita berdua kan sudah saling kenal."
"Kamu sudah selesai ceritanya? Sebentar lagi aku masuk Dan urusan Ahmad bukan urusan aku lagi. Jadi silakan saja, kamu mau nikah atau tidak nikah itu bukan urusan saya. Terima kasih sudah bersusah payah datang dan saya tidak mau pusing lagi mengenai Ahmad "
__ADS_1
Tyas mengucapkan tanpa ekspresi dan suaranya datar. Lalu meninggalkan Mirna yang masih bingung harus bicara apalagi dengan Tyas.