Istri Suamiku

Istri Suamiku
Tyas, Ningsih, Gege


__ADS_3

Tyas, Ningsih dan Gege sedang menonton TV di ruang depan.


"Mbak Tyas, rencana masuk kerja lagi kapan?"


"Maunya besok si Gege, tapi besok aku jadwal check up. Jadi baru ketahuan setelah check up. apakah bisa mulai kerja besok lusa atau bagaimana?"


"Oh iya, kapan kamu akan menikah Ning?"


"Belum tahu Tyas. Tapi aku merasa Pak Arif mulai menjaga jarak sama aku."


"Jangan suudzon dulu mbak Ning. Siapa tahu pak Arif lagi sibuk. Kan kita semua tahu kalau yang punya perusahaan itu Pak Arif."


"Benar yang dibilang Gege, Ning. Bukan menjaga jarak tapi dia lagi banyak kerjaan. Kamu kan tidak tahu pasti."


"Iya sih."


"Mbak Ning, handphone loe bunyi tuh. Nah kan panjang umur, baru diomongin eh tahu-tahu telpon."


"Halo Ningsih"


"Iya Pak Arif."


"Kok Pak sih, kamu kalau di kantor panggil Pak, tapi kalo tidak di kantor jangan panggil pak."


"Eh iya mas Arif."


"Ningsih, sabtu aku jemput kamu ya."


"Tapi aku kan sabtu masuk kerja mas?"


"Tidak usah, aku mau ajak kamu pergi. Jam 8 pagi aku jemput."


"Memangnya ada apa mas?"


"Nanti kamu akan tahu kita mau kemana?"


"Iya mas Arif."


"Aku kangen sama kamu Ning, tapi pekerjaanku menyita waktu. Maafkan aku, Ning. Semoga kamu mengerti."


"Iya mas, aku ngerti. Aku paham."


"Terima kasih Ning. Oh iya gimana kondisinya Tyas?"


"Sudah ada kemajuan mas. Besok dia harus check up. Dan dia sudah kangen ingin masuk kerja lagi."


"Bilang sama Tyas, jangan terlalu dipaksakan. Nanti yang ada tidak sembuh-sembuh. Dan kalau dia takut gajinya dipotong, tidak ada potongan gaji karena kondisinya dia sakit."


"Iya mas nanti aku sampaikan ke Tyas."


"Ning, sudah dulu ya. Aku harus bertemu teman-temnaku malam ini."

__ADS_1


"Iya mas, Hati-hati. Terima kasih sudah menelpon Ningsih."


"Iya Ningsih. sama-sama."


Ningsih menutup telpon dari Pak Arif.


"Loe terima telpon dari pacar kaku amat kayak gedebong pisang."


"Lah gue mesti gimana?"


"Sayang-sayangan kayak loe. Iiih gue bukan anak kecil lagi."


"Iya deh. Pacarannya beda kelas sih ya."


"Gue pacaran ala anak kampung. Loe pacaran ala anak jet set


"Anak jet set heheheheh. Kan pak Arif anak orang kaya terus loe kan anak kampung seperti gue."


"Oh, terus anak kampung ngga boleh pacaran sama anak orang kaya?"


"Bukan gitu, loe mah keseringan pms sih. Anak jet set itu, anak yang suka naik pesawat sama anak set, anak yang suka naik sepeda. Kan jauh bedanya."


"Ya beda lah. Loe kadang terlalu kepintaran jadinya ngaco."


"Hahahahahah, sudah lama kita bertiga tidak ngobrol seperti ini. Gege kangen."


"Ningsih, kamu kenapa? Kok kelihatannya tidak senang setelah di telpon sama pak Arif."


"Mungkin pak Arif mau ajak kamu fitting baju.'


"Fitting T mbak Ning yang kayak di stop kontak. Jadi nanti loe di colok seperti fitting t itu yang si colokan kabel."


"Sok tahu banget sih loe Ge. Emag loe tahu fitting baju itu apa? "


"Tahulah, biasanya orang yang mau nikahan pasti fitting baju. Benar ngga mbak Tyas?"


"Iya."


"Iya kalau fitting baju kalau putus gimana?"


"Ya sudah cari yang lain. Loe kan masih perawan."


"Susah, benar-benar susah kalau bicara sama Gege."


"Tuhkan, gue ngomong benar salah, gue ngomong salah kalian ketawa. Jadi gue harus gimana?"


"Diam aja. Loe kalau ngomong enak. Cari yang lain. Emang gampang cari pacar untuk jadi pasangan hidup. Apalagi cowok jaman sekarang makin susah di dapat. Perempuan lebih banyak daripada laki-laki."


"Iya tahu, dari jumlah laki-laki yang ada dibagi 2, setengahnya sudah ada pasangannya, dari setengahnya lagi dibagi setengah, yang setengahnya sudah jadi pastor yang tidak menikah dari setengahnya lagi dibagi setengah. Terus setengahnya lagi pada belok ada yang LGBT, terus yang setengah udah sisanya dah tuh antara yang baik sama yang ngga baik."


"Gue tidak ngerti omongan loe Ge. Kepanjangan."

__ADS_1


"Gini mbak Ning. Ibarat kata ada 120 cowok. Yang 60 cowok udah punya pasangan atau istri. Terus dari 60 cowok dibagi 2 lagi jadi 30. Nah yang 30 sudah jadi pastor, mereka tidak menikah, yang 30 lagi dibagi 2, yang 15 jadi belok masuk lgbt, Yang 15 lagi sisa deh itu ada yang baik, ada yang jahar, ada yang trans gender, ada yang poligami. Nah kita dapat yang mana dari 15 cowok itu ngga bisa ketebak."


"Kejauhan mikirnya. Hidup loe aja belum tentu benar ngapain pusing mikirin sisa cowok yang loe bilang ada yang baik, ada yang jahat, ada yang trans sama poligami. Intinya berserah dan doa sama Allah biar bisa dapat pendamping hidup yang di ridhoi oleh Allah."


"Aminnnnn."


"Ningsih, Gege, sudah malam. Kita tidur yuk."


"Besok kamu check up berangkat sendiri atau diantar sama pak Joe."


"Belum tahu. Mungkin berangkat sendiri. Kasihan pak Joe yang sudah menemani selama aku di rumah sakit."


"Tapi pak Joe ngga masalah tuh nemenin kamu. Malah dia sepertinya tidak mau digantikan."


"Ya jangan-jangan ada keinginan yang dibungkus pakai daun cinta."


"Daun cinta apaan lagi sih Ge."


"Loe lagi sakit. Udah minum obatnya?"


"Alhamdulillah gue sehat-sehat. Dan gue ngga minum obat. Loe aja yang lagi sakit karena mikirin buat Sabtu. Kita tunggu aja beritanya ya. Udah ngga usah dipikirin. Di do'ain aja semoga Sabtu loe dilamar sama sang bos baterai."


"Amin. Makasih Ge. Otak loe kalau lagi bagus enak diajak ngomongnya. Tapi gue sehat. Loe selalu bilang gue sakit. Padahal gue sehat walafiat."


"Bagus deh, ya sudah kita tidur yuk. Kasihan Tyas. Dia belum terlalu sehat."


Tyas, Ningsih dan Gege masuk ke kamar mereka masing-masing.


Pak Joe ngga ada kabar hari ini. Apa dia sakit? Tumben juga tidak ad pesan ataupun telpon dari pak Joe. Aku lupa tanya sama Ningsih dan Tyas, apakah tadi pak Joe masuk kerja atau tidak. Jam 10 malam, mungkin Pak Joe sudah tidur. Aku mau menelpon pak Joe. Tapi mau ngomong apa? Masa aku minta di temani check up.


Tyas masih memegang handphone nya ada keraguan dalam diri Tyas untuk menelpon pak Joe. Tyas berdiri dan hendak meletakkan handphonenya di meja. Ternyata ada panggilan masuk dari pak Joe.


"Malam Tyas."


"Malam Pak Joe."


"Tyas, kamu tidur, istirahat. Besok saya antar kamu check up ke rumah sakit. Kita berangkat jam 7 pagi ya, biar tidak antri terlalu banyak."


"Baik Pak Joe. Tapi besok pak Joe tidak masuk kerja?"


"Saya baru masuk Senin minggu depan."


"Tapi pak Joe sehatkan? Tidak sakit?"


"Alhamdulillah saya sehat Tyas. Ya sudah sekarang istirahat dan tidur. Biar besok kamu bisa check up dan tidak ada kendala yang serius mengenai kesehatan kamu."


"Baik Pak Joe, Terima kasih. Selamat malam. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Tyas mematikan handphone nya dan ia lega ternyata Pak Joe sehat."

__ADS_1


__ADS_2