Istri Suamiku

Istri Suamiku
Cerai


__ADS_3

"Halo malam Tyas. Saya Jerry. Saya mau info kalau Rabu besok jam 10 kamu sidang cerai."


"Malam Pak Jerry. Baik Pak. Terima kasih, saya akan datang."


"Ngomong-ngomong kamu sudah yakin ya untuk cerai dari Ahmad?"


"Iya Pak Jerry, saya yakin. Apakah nanti sidangnya akan lama?"


"Tergantung Tyas. Kalau ternyata Ahmad tidak mau cerai itu bisa lama. Dan juga nanti akan ada mediasi sebelum sidang lanjutan."


"Aduh, jadi saya harus bagaimana?"


"Kamu jalani saja prosesnya. Dan kita tidak tahu apakah besok Ahmad akan datang atau tidak. Berdoa, minta petunjuk sama Allah, supaya diberikan hasil yang terbaik untuk kamu. Setidaknya kamu bisa hidup dengan duniamu tanpa ada bayang-bayang Ahmad."


"Iya Pak Jerry, Terima kasih."


Maryam masih berusaha menelpon Ahmad. Tetapi dari tadi pagi handphone Ahmad tidak bisa di hubungi. Malik sakit, badannya panas. Dan Maryam sudah membawanya ke puskesmas.


"Gimana teh, mas Ahmad bisa di hubungi?"


"Ngga bisa Sep, teteh bingung ini. Nanti kalau teteh ngga kasih tahu, Ahmad pasti marah.'


"Coba kirim pesan ke mas Ahmad teh."


'Sudah. Sejak pagi sudah teteh kirim pesan. Tapi belum terkirim juga."


"Gimana nih Sep?"


"Besok Asep coba ke Jakarta cari mas Ahmad. Semoga bisa ketemu."


"Iya Sep."


Asep sedang bersama Ayu di rumahnya yang di tempati Laila.


"Mas Ahmad. Ini rumah mas Ahmad?"


"Iya, ini rumah saya."


"Ayu, kamu mau jadi istriku?"


"Hah! Ayu ngga salah dengar mas?"


"Ayu ini kan pekerja **** mana mungkin jadi istrinya mas Ahmad. Dan lagipula kalau minta Ayu jadi istri mas Ahmad, banyak yang harus diselesaikan."


"Maksudnya?"


"Ya mas Ahmad harus bayar ke Mami, supaya Ayu bisa nikah sama mas Ahmad."


"Memangnya harus bayar berapa ke Mami kamu itu?"


"Ya, kalau angkanya berapa, Ayu tidak tahu mas yang pasti ratusan juta."


"Oh ok."

__ADS_1


"Ayo kita pergi."


"Kita mau kemana mas?"


"Ke hotel. Saya tidak mau kamu melayani saya di rumah ini."


"Oh, aku kira kita mau main kuda-kudaannya disini."


"Tidak, saya tidak mau disini. Tidak bebas. Ayo."


"Mbak Tyas, ini sudah malam. Mbak Tyas pulang saja. Aku ngga papa sendiri. Lagipula di kamar ini aku tidak sendiri. Ada 1 orang juga sama yang nunggu."


"Ngga papa Gege, aku akan jaga kamu. Besok kan hari Minggu. Aku ngga harus kerja. Oh iya, pak Joe saja yang pulang. Ini sudah larut malam."


"Saya akan temani kalian disini. Maaf tidak bisa kasih kamu kamar sendiri."


"Ya ampun pak Joe. Ini saja sudah nyaman. Gege jarang di rawat di rumah sakit. Terima kasih banyak pak Joe."


Ternyata pacarnya Gege datang.


"Kok kamu tahu aku disini?"


"Ningsih telpon aku, katanya kamu sakit. Makanya aku kesini."


"Oh iya mbak Tyas, pak Joe, kenalin ini pacar Gege."


"Maaf mbak Tyas dan pak Joe, saya baru datang.. Saya yang jaga Gege di rumah sakit. Pak Joe dan mbak Tyas bisa pulang. Terima kasih banyak."


"Iya Pak Joe dan mbak Tyas."


Pak Joe dan Tyas meninggalkan ruang perawatan.


"Tyas, kamu lapar tidak? Kita cari makan dulu ya."


"Iya Pak Joe."


Pak Joe dan Tyas masuk ke dalam mobil. Mereka berhenti di pecel ayami pinggir jalan.


"Tyas, tadi Jerry sudah telpon kamu?"


"Sudah pak Joe. Kata pak Jerry, sidang cerai hari rabu."


"Ok. Kamu sendiri bagaimana? Sudah yakin benar-benar untuk cerai dari Ahmad?"


"Sudah pak. Saya sudah yakin. Semoga nanti sidangnya tidak perlu lama-lama. Kira-kira bisa tidak ya sekali sidang langsung keluar hasilnya?"


"Ya tidak tahu, soalnya saya belum pernah sidang cerai. Hahahah."


"Ya, pak Joe lucu. Nikah aja belum gimana mau cerai?"


"Nah itu dia. Ayo makan. Kasihan Ningsih sendirian di rumah."


"Ningsih belum sampai rumah pak. Dia masih sama pak Arif dan keluarganya."

__ADS_1


"Oh ok."


Selesai makan pak Joe dan Tyas pulang ke rumah.


Ningsih dan pak Arif dalam perjalanan pulang ke rumah juga.


"Mas Arif, terima kasih, kamu sudah mengajak aku bertemu dengan orang tua dan keluargamu yang lain. Dan alhamdulillah mereka menerima Ningsih untuk jadi menantu orang tua mas Arif."


"Sama-sama Ningsih. Jadi nanti tinggal kita pikirkan kapan kita akan menikah."


"Iya mas, Ningsih akan kasih tahu ibu rencana pernikahan kita. Biar nanti ibu bisa tentukan hari baik dan Ningsih mau bawa ibu tinggal sama Ningsih di rumah yang sekarang biar ibu tidak sendirian di kampung."


"Begitu juga lebih baik. Sebentar lagi kita sampai rumahmu."


Pak Joe dan Tyas sudah sampai rumah. Tidak berapa lama pak Arif dan Ningsih juga sampai rumah.


"Malam Pak Arif, Ningsih."


"Hei Joe, Tyas, malam. Kamu dari mana sama Tyas?"


"Kami dari rumah sakit pak Arif. Gege masuk rumah sakit. Dia kena typhus."


"Terus siapa yang jaga Gege di rumah sakit."


"Pacarnya pak. Itupun setelah Ningsih menelpon pacarnya Gege."


"Oh, ya semoga Gege cepat sembuh. Tyas, kamu sendiri bagaimana? Sudah sehat?"


"Alhamdulillah sudah pak. Dan Senin saya sudah bisa masuk kerja."


"Jangan dipaksakan kalau memang belum bisa masuk kerja. Kepala kamu sendiri bagaimana?"


"Ya sudah tidak sakit lagi pak. Hanya saja indera perasa dan penciuman saya belum baik. Karena sampai sekarang masih belum bisa merasakan makanan atau minuman dan juga belum bisa mencium bau apapun."


"Oh ya. Kalau mencium bau Joe, bisa dong hahahahah. Maaf, maaf, saya bercanda."


"Heheheh, pak Arif bisa saja. Oh iya pak. Hari Rabu saya ijin tidak masuk karena saya harus datang ke sidang cerai saya pak."


"Ok. Baguslah lebih cepat lebih baik dan saya berharap suami kamu datang karena ada hal yang harus di pertanggung jawabkan."


"Mengenai apa pak?"


"Ya mengenai perceraian kalian nanti."


Pak Arif dan pak Joe sudah tahu siapa yang menabrak Tyas. Dan mereka tidak mau polisi menangkap Ahmad. Mereka berharap Ahmad akan datang pada saat sidang perceraian setelah sidang cerai selesai. Polisi akan menangkap Ahmad karena telah menabrak Tyas.


"Oh iya pak Arif. Kalau begitu Tyas dan Ningsih, masuk ke dalam ya pak Arif dan pak Joe. Sudah malam. Hati-hati pak Arif."


"Ok, kalian istirahat. Besok kalau sempat saya akan jenguk Gege ke rumah sakit."


"Iya pak Arif. Terima kasih banyak. Mari pak Arif dan pak Joe. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."

__ADS_1


__ADS_2