Istri Suamiku

Istri Suamiku
Ahmad dirumah Maryam


__ADS_3

Joe, Tyas dan Gege mengantarkan Jerry ke kantornya.


"Joe, kan tadi aku bilang antar ke rumah."


"Rumah loe jauh. Mau sampai jam berapa Tyas dan Gege sampai rumahnya. Next lah Jer."


Jerry keluar dari mobil Joe. Dan Joe melanjutkan perjalanan pulang dengan Tyas dan Gege.


"Pak Joe, itu serius kembarannya Pak Joe? Pak Jerry memang kerja apa? Pak Joe yang tadi omongan saya mau jadi pacar Pak Jerry bercanda. Saya sudah punya pacar."


"Iya Gege, itu kembaran saya. Kami berdua kembar identik. Jerry kerjanya jadi pengacara. Hahaha omongan Jerry mengenai pacaran juga jangan diambil hati. Jerry memang suka begitu. Dia belum kepikiran untuk pacaran."


"Ya baguslah Pak Joe. Gege tadi takut aja kalau Pak Jerry benaran mau sama Gege."


"Makanya Ge, lain kali kalau ngomong dipikir jangan asal ngomong. Daripada pusing sendiri.


"Sudah sampai. Silakan turun, masuk rumah, cuci kaki, cuci tangan, cuci muka, sholat terus bobo, jangan gosip lagi."


"Si Pak Joe, berasa kita anak kecil, cuci kaki, cuci tangan, cuci muka. Susah kalau udah tua. Jangan marah Pak Joe. Hahahahha." Gege berlari masuk ke rumah.


"Maafin Gege Pak, jangan diambil hati omongan Gege."


"Iya Tyas, saya ngerti kok. Kan saya sudah lebih tua dari Gege dan kamu. Heheheh."


"Alhamdulillah kalau Pak Joe ngga marah. Saya permisi masuk dulu. Terima kasih Pak."


Tyas masuk ke dalam rumah. Pak Joe baru berjalan pulang setelah Tyas masuk.


"Mbak, si Ningsih gimana kabarnya ya mbak. Ibunya sudah ok kah? Kangen Gege sama Ningsih."


"Iya, aku juga belum sempat telpon Ningsih hari ini. Coba kamu telpon, tanya gimana kondisi ibunya."


'Mau sih mbak, cuma handphone aku?"


"Ya pakai handphoneku untuk telpon Ningsih."


Gege mengambil handphone Tyas dan menelpon Ningsih.


"Hallo ini siapa? Mau bicara sama siapa?"


pp


"Oh maaf sepertinya salah sambung." Ningsih tertawa cekikikan setelah mendapat telpon dari Gege.

__ADS_1


"Ya mbak Ningsih, kok dimatiin sih!"


"Gege, kamu tuh kayak sandal jepit ya. Jelas saja dimatikan, kondisinya Ningsih lagi kesusahan terus kamu godain dia. Ya pastilah dimatiin."


"Yaaahh mbak Tyas kok bilang aku sandal jepit sih. Yang bagusan dikit kenapa?"


"Sudah, sini handphonenya biar aku yang telpon Ningsih saja, nanti tinggal aku sambungkan ke kamu."


"Hallo malam. Ningsih."


"Malam Tyas. Aku tadi gantian isengin balik Gege."


"Iya, aku tahu. Gimana ibumu?"


"Sudah mulai membaik. Kemungkinan 2-3 hari lagi bisa pulang."


"Kamu jaga badan loh, jangan sampai sakit. Kamu kan 24 jam di rumah sakit."


"Ngga, aku aku gantian sama sepupuku."


"Ya sudah, pokoknya jaga badan, jangan sampai sakit. Aku doakan ibumu cepat sembuh. Sebentar Ning, ada yang mau bicara."


Tyas memberikan handohonenya kepada Gege.


"Tumben loe kangen sama gue, biasanya cari ribut mulu."


"Iiih mbak Ning, gini-gini gue sayang dan cinta sama loe sampai ngga bisa ke lain hati."


"Ogah, gue masih suka laki bukan suka perempuan. Apalagi perempuannya kayak loe. Ogah gue!"


"Ya ampun mbak Ning, gue juga suka laki. Maksud gue, cinta dan sayang karena loe sama mbak Tyas itu kakak buat gue. Kalau bukan kakak, gue ogah berteman sama loe. Iiiihhh, amit-amit!"


"Ya udah kalau gitu, tutup aja telponnya."


"Jiah ada yang ngambek. Biasanya juga slow loe mbak. Kenapa loe? Lagi pms yah. Hahahahhahaha."


"Reseh loe. Eh Tyas gimana?"


"Anteng-anteng aja mbak, ngga heboh. Kan tahu sendiri mbak Tyas kayak apa. Emang kita yang heboh. Hahahahha."


"Bilangin sama Tyas jangan kebanyakan di pendam. Dia nasehatin orang bisa. Tapi dia sendiri mendam masalah. Tahu-tahu meledak kan bisa jadi... "


"Jadi apa mbak Ning."

__ADS_1


Ningsih sengaja menggantung ucapannya.


"Haloo mbak Ning, jadi ap !"


"Dooorrr!!!


" Ya ampun door tuh kan door, door lagi deh! Gege jadi kaget dan membuat dirinya latah."


Ningsih tertawa senang mendengarkan Gege yang latah.


"Mbak Ning, udah ah. Cepatan balik. Aku kangen dirimu."


"Iya, sama kangen juga sama kamu dan Mbak Tyas."


Ahmad masih di rumah Maryam. Keisha dan Malik sudah tidur dengan 6 anak Maryam.


"Mas Ahmad, kamu mau sampai kapan menitipkan Keisha dan Malik di rumahku?"


"Sampai aku dapat kerja lagi Yam. Tiap bulan nanti aku kirimkan uang, buat Keisha, Malik dan anak-anak kamu. Jadi kamu ngga usah kerja lagi."


"Aku marah sama kamu Mas Ahmad. Perbuatanmu sama almarhumah teteh membuat aku dan Asep marah. Sampai mak meninggal karena kepikiran nasib teteh. Saat meninggal, mas Ahmad tidak ada. Apa kurangnya teteh?"


"Iya Maryam, aku benar-benar minta maaf. Waktu aku dapat telpon dan bilang Nur sedang dicek, aku pikir tidak parah ternyata Nur meninggal. Aku lagi ngurus proyekkan baru. Aku kan di pecat terus mengenai photo Sekar. Aku tidak kesana. Aku lagi di Bandung. Saat itu ada masalah di proyek. Handphoneku hilang. Sedangkan kalau aku langsung pulang. Aku ngga dapat uang. Setidaknya aku kasih uang ke Nur sebelum berangkat ada 20 juta. Nur tahu kalau aku jarang pulang berarti aku sedang ada proyek."


"Maryam tidak percaya sama mas Ahmad. Asep menemukan semua berkas dan dokumen. Ahmad punya banyak istri. Tyas, Laila dan Sekar. Maryam yakin mas Ahmad sudah nikah sama Sekar."


Ahmad menggaruk-garukkan kepalanya supaya Maryam percaya dengan ceritanya.


"Maryam, gini saja. Kita tunggu Asep pulang yang katanya sedang dalam perjalanan. Aku akan kasih lihat uang hasil aku kerja di proyek dan uang dari gaji dan phk ku. Aku tidak bohong. Kamu dan Asep bisa lihat."


"Terus Tyas, mas Ahmad tidak akan ceraikan Tyas kan? Karena Tyas istri pertama mas Ahmad."


"Aku belum ada waktu untuk mengurus perceraian ku dengan Tyas. Aku tidak mau lagi dengan Tyas karena dia mandul. Jadi buat apa tetap nikah sama Tyas, kalau ternyata aku tidak punya anak. Sedangkan dengan Nur, aku bisa punya anak, Keisha dan Malik walaupun akhirnya aku harus kehilangan 1 anak yang masih di dalam perut."


"Laila bagaimana? Rumah yang di tempati Laila? Sekar?"


"Gini saja Maryam, aku akan jelaskan semuanya. Lebih baik kita nunggu Asep supaya aku tidak cerita berkali-kali."


Ahmad baru saja menutup mulutnya. Asep mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah.


"Ngapain kamu disini! Keluar kamu! Gara-gara kamu, teteh meninggal. Selang 2-3 hari mak meninggal. Puas kamu!"


Asep mencengkram baju Ahmad. Dan hendak msmukul Ahmad. Tetapi di halangin oleh Maryam

__ADS_1


"Asep, sudah lepasin. Itu ada kopi buat kamu. Minum dulu. Nanti dijelasin sama Ahmad. Walaupun nanti kita tidak percaya. Setidaknya dengarkan dulu. Teteh juga penasaran."


__ADS_2