
Ahmad dan Mirna sudah sampai ke rumah Ahmad yang akan dibeli oleh seseorang hari ini.
Mirna melihat rumah itu dengan takjub. Rumah itu terlihat besar dan perabotan rumahnya juga masih bagus.
"Mas, memangnya yang punya rumah ini kemana?"
"Pindah keluar kota karena tugas."
"Ini dijual sekaligus dengan perabotan rumahnya?"
"Iya."
"Memangnya anak istrinya ikut keluar kota?"
"Duda seumuran aku."
"Waaaaahhhh, berarti orang ini kaya. Seandainya saja... "
"Seandainya apa?! Seandainya kamu ketemu dengan orang itu?"
"Kok marah? Aku kan belum selesai ngomong. Seandainya saja, aku bisa punya perabotan rumah sebagus ini. Karena mahal semua. Ngapain juga aku harus ketemu sama orang yang punya rumah ini. Aku sudah punya kok, sekarang lagi diri di sampingku."
"Oh, kirain. Seandainya aku punya rumah sebesar ini. Kamu mau juga?" Ahmad sengaja mengetes Mirna.
"Ya kalau mas Ahmad yang punya rumah ini, syukur alhamdulillah. Aku senang, tapi kalau bukan mas Ahmad ya aku ngga mau. Aku maunya sama mas Ahmad."
"Enak ya semalam. Pulang dari sini mau lagi ngga seperti semalam?"
"Apa sih mas. Urusan rumah kok nyangkutnya nempelin tubuh sih."
Ahmad melihat ada dua orang laki-laki datang dengan pakaian rapi. Mereka memakai mobil land rover defender.
"Selamat siang dengan Pak Ahmad?"
"Siang Pak, iya benar saya dengan Ahmad."
"Perkenalkan saya Melvern. Sebelumnya saya mau lihat-lihat terlebih dahulu dalamnya rumah ini apakah sesuai dengan keinginan istri saya. Dia tidak bisa ikut karena dia kerja. Padahal dia sedang mengandung."
"Silakan Pak Melvern." Ahmad mempersilahkan tamunya masuk.
Pak Melvern menelpon seseorang sambil mengarahkan handphonenya ke orang tersebut. Setelah puas melihat seluruh ruangan. Pak Melvern menelpon seseorang.
"Pak Joe, istri saya dimana? Bu Tyas. Hahahahha, susah memang si Tyas itu. Walaupun dia janda karena di tinggal suaminya selingkuh, saat malam pertama ternyata dia masih perawan. Dapat durian runtuh saya Pak Joe. Dan sejak ketahuan hamil dia jadi manja. Kemarin dia minta mobil sudah saya belikan. Sebelumnya minta rumah, saya baru sampai dari bandara langsung ke sini. Oh baik-baik Pak Joe. Terima kasih."
"Pak Ahmad sepertinya saya harus ke kantor istri saya dulu. Dia sedang bekerja di pabrik BAT bagian QC. Sedang hamil muda, saya dapat perawan, Pak Joe temannya kantornya bilang dia diselingkuhi suaminya dan dibilang mandul. Tetapi saya tidak percaya, saat ini dia sedang hamil. Saya kangen sama dia."
"Istri Pak Melvern kerja di pabrik BAT?"
"Iya, namanya Tyas, tadinya dia di produksi tetapi dipindah ke bagian QC. Ada tahi lalat di bibir bawah sebelah kanannya. Manis dan cantik. Saya jatuh cinta sejak pertama kali bertemu dan dia bilang dia belum cerai, akhirnya saya bantu proses cerainya. Karena eks suaminya tidak tahu tinggal dimana." Selesai cerai langsung saya nikahi."
Ahmad berusaha menahan emosinya saat mendengar nama Tyas dan tempat bekerjanya juga ciri-ciri yang dikatakan bahwa ada tahi lalat di bibir bawah kanan. "Jadi ini suami Tyas, kurang ajar dia. Aku akan datangi dia. Aku belum bercerai ternyata dia sudah mengurus perceraiannya.
Mirna pun menduga hal yang sama. Ia cukup mengenal Tyas.
__ADS_1
"Jadi gimana Pak Melvern, apakah jadi membeli rumah ini?" Ahmad akan menaikan harga jualnya.
"Jadi, berapa Pak Ahmad mau lepas?"
"Untuk keseluruhannya 5 Milyar, Pak termasuk dengan isian yang ada di dalamnya."
"Saya tidak membutuhkan perabotannya, saya hanya membutuhkan rumahnya tanpa isi."
"Rumah ini atas nama Pak Ahmad sendirikan? Saya bukan bertemu dengan calo."
Ahmad bingung harus menjawabnya karena ada Mirna di sebelah Ahmad.
"I... iya Pak. Ini rumah saya sendiri."
"Kok sepertinya ragu. Saya bisa lihat sertifikat rumah inj?
"Bisa Pak, sebentar." Ahmad berjalan ke mobilnya dan ia mengambil sertifikat rumah.
"Ini Pak"
Pak Melvern membaca sertifikat tersebut dengan bersuara.
"Rumah ini atas nama Pak Ahmad sendiri. Luasnya 1.000 meter. Loh ini ada surat. Oh surat cerai Pak Ahmad dengan Laila? Nah ibu ini Bu Laila?"
"Bukan Pak, ini istri saya Mirna."
"Oh maaf. Baik Pak Ahmad, saya sudah membaca sertifikat rumah Pak Ahmad. Saya akan bayar hari ini juga ke rekening Pak Ahmad, tetapi saya mau dalam keadaan kosong. Hari ini juga harus sudah kosong segala perabotan rumah ini. Saya bayarkan ke rekening Pak Ahmad. Saya mau harga 2 Milyar, hanya bangunan saja. Gimana?"
"Baik Pak. Saya setuju. Apakah uangnya ditransfer sekarang?"
"Baik Pak Melvern, bisa."
"Kalau begitu saya permisi. Nanti malam jam 8 saya akan datang dengan istri saya. Dan saya mau tolong pastikan rumah sudah kosong dari segala perabotan."
"Baik Pak Melvern. Saya tunggu nanti malam. Terima kasih."
Pak Melvern meninggalkan Ahmad dan Mirna.
"Mas Ahmad, kamu bohongin aku. Kamu bilang ini rumah orang. Ternyata ini rumah kamu. Dan kamu baru cerai dari Laila. Lalu surat cerai Mas Ahmad sama Mbak Tyas mana? Aku mau lihat."
"Nanti saja marah-marahnya. Aku harus cari angkutan untuk mengambil barang-barang disini dan aku taruh di rumahku yang satunya."
"Rumah kamu satunya?!"
"Jadi kamu sebenarnya punya rumah banyak? Terus kenapa semalam menginap di rumahku dan mengambil yang berharga dari aku!"
"Bukankah kamu menikmatinya dan kamu mau lagikan? Sudah, jangan marah. Aku pasti akan menikahi kamu besok atau lusa. Setelah uang pembayaran rumah aku dapat. Dan kamu bisa tinggal di rumahku yang satunya dan tidak perlu tinggal di apartemen lagi."
Ahmad senang karena malam ini ia akan mendapatkan uang dari rumah yang ia jual. Malam ini juga ia akan ke balik ke Bogor dan memberikan sejumlah uang kepada Sekar dan setelah itu ia akan tinggalkan Sekar.
Ahmad menelpon jasa angkutan untuk mengambil barang-barang di rumahnya.
Ada 3 truk untuk mengangkut semua barang Ahmad. Mirna meminta 1 truk khusus untuk mengambil barang yang ia mau dan nanti akan ia taruh di rumah orang tuanya. 2 truk lagi untuk mengangkut barang yang akan Ahmad taruh di rumahnya yang lain.
__ADS_1
Akhirnya jam 7 malam selesai semua. Dan Mirna tidak jadi marah karena akhirnya ia bisa memberikan sofa, tempat tidur, lemari, TV dan peralatan masak kepada ibunya di bekasi.
Ahmad meminta supir truk menunggu karena akan berangkat bareng Ahmad.
Pak Melvern pergi menemui Pak Arif dan Pak Joe dan memberitahukan informasi kepada mereka berdua.
Pak Joe diminta menjemput Tyas dan membawanya ke salon untuk di make up.
"Pak Joe ada apa? Jam 4 sudah sampai rumah Tyas."
"Ayo Tyas, ikut saya. Nanti saya ceritakan semua sambil jalan ke salon Kita tidak punya banyak waktu."
"Iya Pak."
Sepanjang perjalanan Pak Joe menceritakan dan ia mau Tyas mengikuti permainan yang diminta Pak Arif.
Pak Arif dan Pak Melvern menjemput Keisha dan Malik beserta dengan pengurus panti asuhan.
Jam 8 malam Tyas dan Pak Melvern turun dari mobil yang berbeda. Tyas sudah di make up dan tampilannya berbeda.
Rumah Ahmad sudah kosong dan bersih.
"Malam Pak Ahmad dan Bu siapa tadi. Oh iya Bu Mirna. Kenalkan ini Tyas istri saya."
"Malam saya Tyas. Loh ini mas Ahmad dan Mirna? Kalian pasangan suami istri. Wah selamat ya. Senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan kamu Mirna."
"Tyas sayang, di lihat dulu rumahnya. Cocok tidak dan kamu suka tidak. Karena ada 2 anak asuh kita yang akan tinggal disini."
"Papi ngga ajak mereka sekalian tadi?"
"Mereka dijemput supir."
"Ok, oh iya sebentar yah, Aku mau lihat rumahnya cocok tidak untuk aku. Soalnya baru saat ini aku hamil. Dan itu semua karena Mas Melvern yang sayang dan cinta sama aku."
Ahmad terlihat marah dan Mirna memegang tangan Ahmad supaya tidak marah.
Saat masih melihat-lihat tiba-tiba ada suara anak kecil.
"Ayah, ayah. Ini Keisha. Ayah, Keisha sama Malik kangen ayah."
"Keisha, Malik? Kalian sama siapa?"
"Ayah, bunda mana? Keisha dan Malik kangen sama ayah dan bunda. Ayah, ayo kita pulang pasti bunda sudah menunggu di rumah. Ayo ayah."
"Kurang ajar kamu Tyas. Kamu sudah merencanakan semua ini!"
"Jangan macam-macam, Ahmad,. Ada polisi di depan."
"Aaaarrrggghhh." Ahmad berteriak membuat Malik menangis.
"Mas Ahmad. Anak-anak ini dititipkan oleh Asep adik iparmu ke pabrik tempat aku bekerja. Dan aku mengembalikannya kembali kepadamu. Biar bagaimanapun mereka adalah anak-anakmu dari Nurhasanah yang sudah meninggal karena kamu menikah dengan perempuan lain di Bogor bernama Sekar.
"Kamu mau menghancurkan hidupku Tyas! Aku akan menghancurkan hidupmu selamanya!"
__ADS_1
Tyas, Melvern, Joe dan Pengurus panti meninggalkan Keisha dan Malik kepada Ahmad dan Mirna.
Mereka masuk ke dalam mobil dan polisi masih berjaga di rumah Ahmad.