
Pagi-pagi setelah sholat subuh di masjid. Asep pulang.
"Teteh sini, Asep mau bicara."
"Mau bicara apa sih Sep, masih pagi ini. Kamu lebih baik siap-siap buat berangkat kerja."
"Hari ini aku masih dapat cuti, Teh. Ada yang mau Asep kasih tahu, kita ke ruangan kerja Mas Ahmad saja."
"Jangan lama-lama takutnya Keisha sama Malik bamgun."
Mereka berdua menuju ruang kerja Asep. Asep memberikan semua dokumen yang ia dapatkan semalam.
Maryam membaca satu persatu dokumen.
"Jadi teteh Nur istri kedua? Istri pertama namanya Tyas, istri ketiga dan baru cerai namanya Laila?" Tyas kerja di pabrik BAT? Hah, Astagfirullah! Mas Ahmad pernah dipenjara dengan kasus ini? Terus gegara kasus ini Ahmad diberhentikan?"
Asep menganggukkan kepalanya setiap Maryam bertanya.
"Iya Teh, kalau Asep ke kantor Mas Ahmad untuk cari dia ngga akan bisa ketemu. Sampai sekarang Asep coba telpon hamdphonenya tidak aktif. Asep mau ke kantor istri pertamanya Mas Ahmad. Bisa jadi dia sedang sama istrinya yang pertama."
"Iya benar. Ternyata si teteh Nur dapat suani yang suka kawin. Kasihan teteh Nur. Jangan-jangan istrinya bukan cuma Tyas sama Laila. Pasti ada lagi."
"Asep ngga tahu juga teh. Ya sudah. Asep siap-siap mau berangkat ke kantornya Tyas. Asep mau mas Ahmad pulang. Nengokin anak-anak dan kuburan teteh Nur. Terus nanti si Keisha sama Malik kita bawa atau gimana?Jangan kasih tahu mak ya teh."
"Iya Sep, bukan teteh ngga mau ngerawat Keisha dan Malik. Anak teteh juga banyak, suami teteh udah ngga ada. Terus teteh juga jualan di pasar. Mak sakit. Bisa jadi pengobatan buat mak sudah ngga ada, kan selama ini teh Nur yang bantu."
"Iya teteh, Asep ngerti. Asep juga ngga setiap saat ada. Asep kan juga buruh pabrik sama kayak Tyas, istrinya Mas Ahmad. Mas Ahmad uang banyak tapi istri banyak juga. Susah kalau laki kayak gitu."
"Hei, kamu kalau ngomong jangan asal, kamu juga laki. Hati-hati kalau ngomong Sep.
"Insya Allah, Asep ngga kayak gitu teh. Ya sudah, Asep mau Siap-siap ke pabrik BAT mau ketemu sama Tyas."
"Pulangnya jangan lama-lama. Hari ini kita tahlillan lagi buat teh Nur. Ini uang yang ada di dompet teh Nur, titip beli buah pisang."
"Iya teh. Tuh suara Malik bangun."
Maryam segera berlari ke kamar. Asep keluar dari kamar kerja Ahmad dan menguncinya. Ia tidak mau saudara yang lainnya tahu mengenaj Ahmad, kakak iparnya.
"Gege, kamu kemarin dipanggil HRD?"
"Iya Mbak Tyas. Gege dipindah awal bulan. Jadi penjaga gawang."
"Hah, penjaga gawang gimana? Kiper maksud loe?"
"Aaaaaahhh Mbak Ningsih, selalu deh."
"Nah loe yang pagi-pagi ngomong asal. Gegara loe tuh matahari kagak muncul."
"Gimana mau muncul ini masih jam 04.00. Susah deh ngomong sama Mbak Ningsih. Masih mending Mbak Tyas."
__ADS_1
"Hei, sudah-sudah. Ayo siap-siap mandi kita sholat subuh bareng."
"Gege, maksudnya apa penjaga gawang."
"Resep.. resep apa ya kemarin?"
"Resep nasi uduk?"
"Mbak Ningsiiiihhh!!! Gege lagi coba inget-inget resep.... "
"Huuussshhh pagi-pagi teriak kayak toa, kalah itu orang yang lagi ronda."
"Gege, Ningsih, kalian ini. Maksud Gege, resepsionis."
"Nah itu hehehehe. Mbak Tyas pintar, Mbak Ningsih ca'ur."
"Sudah-sudah. Ayo mandi, kita sholat subuh terus siap-siap berangkat kerja."
"Siap Mbak Bos."
Tyas, Ningsih dan Gege, sholat bareng, sarapan roti dan siap-siap berangkat ke pabrik.
Pak Joe lewat depan rumah Tyas dan melihat mereka bertiga di depan rumah.
"Pagi Tyas, Ningsih dan Gege. Kalian sudah siap berangkat?"
"Bareng saya saja, sekalian saya mau sarapan nasi uduk dekat pabrik."
"Wah, ada yang kesampaian makan nasi uduk nih."
"Ngga usah Pak Joe, nanti malah kami merepotkan."
"Ngga ada yang merepotkan Tyas. Oh iya Gege, memang siapa yang mau makan nasi uduk?"
"Mbak Tyas." Ningsih dan Gege serentak menjawab bareng.
"Nah, ayo naik, biar jangan kesiangan. Yang ada nanti malah ngga dapat nasi uduknya."
Tyas, Gege dan Ningsih naik ke dalam mobil.
Mereka sampai di tempat penjual nasi uduk.
Gege dan Ningsih makan nasi uduk dengan menu lengkap sama seperti Pak Joe. Nasi uduk, bihun goreng, tahu tempe semur, kering tempe dan telor balado. Sedangkan Tyas makan lontong sayur.
"Loh kok makan lontong sayur? Kata Gege dan Ningsih, kamu pengen makan nasi uduk?"
"Yang pengen makan nasi uduk mereka berdua, Pak Joe. Tadi kami sudah makan roti, tapi mungkin Gege dan Ningsih masih lapar. Kalau saya ngabisin nasi uduk segitu banyak ngga sanggup Pak."
"Oh ya sudah."
__ADS_1
Mereka berempat makan dan setelah selesai langsung ke pabrik.
"Pak Joe, terima kasih buat traktiran nasi uduk ya. Nanti siang tinggal sholat dan istirahat di musholla baru sorenya berburu makanan lagi."
"Siang nanti memangnya kalian tidak lapar?"
"Masih full pak perutnya. Tadi porsi nasi uduknya seperti kasih makan kuli."
"Mbak Ning, kita kan juga kuli."
"Kamu aja yang kuli. Aku buruh."
"Woooooiiii, sama kuli sama buruh, beda tulisan aja kali."
"Bahasa loe belepotan Gege, sama kayak orangnya".
"Ya, kita kan 11 12, kalo Mbak Tyas 20."
"Kok aku 20? Kenapa?"
"Mbak Tyas udah tua. Lebih tua dari kita berdua. Hahahhah." Gege langsung berlari diikuti oleh Ningsih.
"Maaf Pak Joe, kelakuan mereka berdua seperti itu."
"Ngga papa Tyas, itu jadi hiburan, mereka lah teman sejati yang sesungguhnya. Berteman, bersahabat, saling mengejek, saling memarahi, saling menerima tanpa ada dendam. Mengalir begitu saja."
"Iya Pak Joe."
"Ya sudah. Ayo masuk dan absen. Lumayan masih ada setengah jam untuk bisa duduk-duduk."
Pak Joe dan Tyas masuk ke ruangan QC dan absen.
Telpon internal berdering.
"Pagi Pak Joe, ada yang bernama Asep mencari Bu Tyas. Dia bilang dia saudara dari Pak Ahmad, suami Bu Tyas."
"Ok Pak, suruh tunggu saja di depan. Tyas akan ke depan."
"Baik Pak Joe, terima kasih."
Pak Joe menutup internal telpon.
"Tyas, kamu ada tamu di pos satpam. Namanya Asep dan di bilang dia saudaranya Ahmad. Kamu masih bawa surat pernyataan yang di buat di kepolisian dan perjanjian bahwa Ahmad akan menceraikan kamu?"
"Ada Pak Joe. Asep? Setahu saya tidak ada saudara Ahmad yang bernama Asep? Tapi saya coba temuin dia. Saya permisi Pak Joe."
"Saya temani, feeling saya sepertinya akan ada masalah baru. "
"Iya Pak Joe. Terima kasih."
__ADS_1