
Aku sudah merasa enakan. Kepalaku sudah tidak sesakit kemarin. Aku harus segera keluar dari rumah sakit.
Pak Joe kemana ya. Dari tadi pergi setelah sholat subuh. Apa pak Joe balik pulang? Sudah sejak aku masuk rumah sakit, pak Joe selalu menemani aku. Sebenarnya ada apa dengan pak Joe? Kenapa ia begitu baik sama aku?.Apa benar yang dibilang Gege, kalau Pak Joe suka sama aku. Ah mengkhayalku ketinggian."
Pak Joe masuk ke kamar Tyas.
"Pagi Tyas, eh kamu sudah mulai bisa duduk sendiri tanpa bantuan. Kamu mau ke kamar mandi?"
"Tidak pak Joe, tadi saya sudah ke kamar mandi sendiri. Alhamdulillah bisa, walaupun harus pegangan hehehhe."
"Good. Aku belikan nasi uduk buat kamu pakai semur jengkol, telur dadar dan tempe goreng. Kamu maukan?"
"Mau pak Joe, rasanya sudah lama saya tidak makan nasi uduk."
"Nah pak Joe sendiri makan apa?"
"Sama saya beli nasi uduk dua Satu kamu dan satu saya."
"Pakai jengkol juga pak?"
"Heheheh, ngga saya ngga suka jengkol. Kalau pete saya suka. Saya pakai telor balado, tempe goreng dan bihun goreng
"Terima kasih pak Joe. Mohon maaf selama ini, saya merepotkan pak Joe."
"Saya tidak merasa direpotkan oleh kamu. Ayo makan dulu. Biar sehat dan cepat keluar dari rumah sakit."
"Iya Pak Joe."
Selesai sarapan. Tyas bertanya kepada Pak Joe mengenai handphone dan tasnya.
Pak Joe membuka lemari pakaian dan memberikan tas juga handphone Tyas.
"Terima kasih Pak Joe."
"Tyas, tadi saya sempat bertemu dengan dokter. Ada kemungkinan lusa kamu sudah boleh pulang dan harus tetap kontrol."
"Alhamdulillah. Kalau misalkan pulang hari ini ngga bisa ya Pak."
"Ya kita ngga bisa maksa dokter untuk pulang hari ini. Coba saja nanti gimana ya."
"Semoga bisa pulang hari ini Pak. Saya kangen pengen tidur di rumah."
"Iya saya juga kangen pengen makan nasi uduk dekat kantor. Nasi uduk yang tadi saya beli kurang enak."
__ADS_1
"Saya belum bisa merasakan apa-apa Pak. Makan karena lapar. Minum karena haus."
"Sabar Tyas."
"Iya Pak. Hanya saja saya sudah bosan Pak Joe di kamar terus. Saya ingin piknik ke puncak. Ingin makan jagung bakar di puncak. Ingin jalan-jalan ke Ancol. Ingin ke TMII. Ingin ke pantai anyer. Ingin ke Cibodas. Selama ini ngga pernah kemana-mana."
"Siap, nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit. Kita akan jalan-jalan ke tempat yang kamu mau ya."
"Hahahhaha, pak Joe. kesannya saya seperti anak kecil. Yang merengek-rengek sama orang tuanya."
"Hehehe, kadang kala kita memang bersikap seperti anak kecil."
"Iya ya pak."
"Saya mau keluar sebentar, ada yang harus saya urus."
"Iya pak Joe, silakan kebetulan saya sudah bisa duduk dan berjalan."
"Hanya sebentar saja Tyas, tidak lama."
"Iya pak Joe."
Pak Joe keluar dari kamar dan meninggalkan Tyas seorang diri.
"Mas Ahmad, hari ini harus pergi? Kenapa tidak besok saja?"
"Kan aku harus menyiapkan semua untuk proyek Mirna sayang. Jadi besok tinggal dijalankan saja."
"Terus mas Ahmad pulang kapan."
"Ini berangkat saja belum kok sudah nanya pulang? Kamu bagaimana sih?"
"Ya aku ngga mau ditinggalkan sama kamu. Seperti kemarin bilangnya servis mobil tapi baru pulang jam 10 malam."
"Memang aku servis mobil dan aku ketemu dengan temanku yang ngajak ikutan proyek. Kamu kan sudah lihat photonya."
"Iya, aku percaya kok. Tapi kan harusnya kabarin aku. Aku telpon-telpon, handphonenya tidak aktif."
"Ya, karena baterainya habis."
"Mas, kalau bisa Senin sore pulang ya, jemput aku di kantor."
"Aku usahakan ya. Aku belum berani janji."
__ADS_1
"Iya mas."
"Aku berangkat ya sayang."
"Iya mas. Hati-hati di jalan."
Ahmad pergi meninggalkan Mirna di apartemen. Ahmad pergi ke rumah Maryam untuk bertemu Keisha dan Malik juga Maryam dan anak-anak Maryam.
"Sekar, kamu sudah mandi? Kalau sudah, ikut ibu mau? Daripada kamu hanya diam saja di rumah."
"Ngga bu. Sekar di rumah saja. Perut Sekar lagi kencang."
"Istirahat jangan kecapean Kamu sedang hamil muda."
"Iya bu."
"Bapak antarin ibu ke pasar. Ibu mau beli sayuran dan daging."
"Ngga bu, bapak di rumah saja. Bapak lagi ngga enak badan ini."
Sejak kemarin Ahmad datang dan memberikan uang sikap bapak dan ibu ke Sekar berbeda. Kecuali Erna yang tidak mau menerima uang yang dititipkan Ahmad kepada Sekar untuk diberikan kepada Erna.
"Erna ngga mau uang dari Ahmad. Sama saja Erna terima suap dari Ahmad. Erna masih bisa cari uang sendiri. Ngga perlu pakai ng******g terus dapat uang. Mbak sama kayak gitu bedanya dinikahin saja."
"Erna, selama ini kamu sudah kurang ajar sama aku."
"Ya buat apa sopan sama mbak, sudah buat malu keluarga. Terus dengan kasih uang bisa gitu malunya hilang kecuali urat malunya sudah putus dibeli dengan uang!"
"Erna, kamu ngga boleh seperti itu sama mbakmu. Biar gimanapun Ahmad sudah bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Bertanggung jawab dengan menikahi tanpa ada di samping istrinya dengan alasan kerja dan pulang ke rumah untuk kasih uang ke bapak, ke ibu, ke mbak dan ke aku terus minta jatah suami terus pergi lagi? Itu yang dibilang tanggung jawab? Kalau semua laki-laki tanggung jawab seperti itu saja. Istrinya ada di mana-mana. Erna berani bertaruh, mbak adalah istri nomer 3, 4, 5 atau mungkin nomer 10."
"Stop Erna, kamu makin menjadi-jadi menjelekkan kakak iparmu?"
"Maaf mbak, Ahmad bukan kakak iparku. Laki-laki yang bertanggung jawab adalah laki-laki yang selalu ada di samping istrinya apalagi istrinya sedang hamil muda dan bukan sekedar menikahi supaya tidak malu kemudian dikembalikan ke pihak keluarga secara sepihak dengan dalih kerja. Kalau memang kerja, mbak tahu di jakarta, Ahmad kerja apa? Ahmad rumahnya dimana? Keluarganya Ahmad siapa? Ngga tahu kan? Punya suami kayak punya kucing dalam karung yang ngga pernah nunjukkin mukanya ke tetangga. Capek ngomong sama mbak. Sudah dibohongin tetap saja di bela. Mau kata tuh suami kelakuannya tidak mencerminkan suami yang baik."
"Mulut kamu jahat Erna."
"Biar saja mulut Erna jahat, tapi Erna tidak membuat bapak sama ibu berdosa dan malu yang bisa dibawa sampai mati!"
"Jadi perempuan itu tidak sekedar hanya suka dan cinta sama laki-laki saja. Tapi juga harus pakai otak. Mbak adalah contoh nyata buat Erna, kalau hanya mengandalkan cinta sama kucing dalam karung, di suruh telanjang langsung telanjang dengan dalih akan dinikahkan! Cuiiiiih. Amit-amit. Dan Erna tidak mau terima uang dari Ahmad."
.
__ADS_1