Istri Suamiku

Istri Suamiku
Psikopat


__ADS_3

Ahmad keluar dari lift apartemen.


"Pak Ahmad, pak Ahmad."


"Iya mbak. Ada apa?"


"Tadi saya telpon ke atas. Kata bu Mirna, pak Ahmad sedang turun ke bawah. Makanya saya tunggu depan lift. Ada yang cari pak Ahmad, katanya dari pengadilan agama."


"Oh iya, iya mbak."


"Pak, ini pak Ahmad."


"Terima kasih mbak."


"Pak Ahmad?"


"Iya benar."


"Pak, ini ada surat dari pengadilan agama untuk bapak."


"Surat apa?"


"Wah, saya kurang tahu pak. Saya cuma kurir saja untuk mengantarkan surat ini."


"Ok, makasih."


Ahmad membuka surat tersebut. Panggilan untuk sidang cerai.


Huh, jangan harap kamu bisa cerai dari aku Tyas. Dan tidak ada yang boleh mendekati Tyas sampai kapan pun. Aku lebih senang kalau Tyas sendiri saja tanpa aku ataupun suami.


Ahmad merobek surat panggilan untuk sidang cerai lalu di buang di tong sampah.


Ahmad menelpon Edo.


"Halo Do, gue baru saja terima surat panggilan untuk sidang cerai hari rabu besok. Dan suratnya sudah gue robek dan gue buang. Jadi jangan harap loe bisa miliki Tyas!"


"Ahmad, gue rasa loe psikopat. Atau lebih tepatnya psikopat bipolar. Orang lebih tahu kalau loe sudah jadi orang gila!"


"Terserah orang mau ngomong apa! Yang penting gue tidak akan pernah ceraikan Tyas ataupun sebaliknya."


"Ahmad ingat, loe punya anak perempuan. Kasihan nanti anak loe yang perempuan kena karma dari bapaknya."


"Ngga ada urusan sama karma. Gue selama ini baik sama perempuan. Perempuan hamil atau kesepian gue nikahin, gue kasih uang dan gue kasih kehidupan yang layak."


"Terserah loe!"


Edo menutup telpon dari Ahmad.


Pagi ini Edi pergi ke Bogor. Ia akan menengok Sekar dan melihat kondisi Sekar.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Edi ya?"


"Iya bu. Apa kabar?"


"Baik-baik. Kamu sudah lama tidak kesini. Sibuk atau sudah menikah?"

__ADS_1


"Sibuk bu. Menikah belum. Belum ada jodohnya bu. Ada Sekar bu?"


"Ada, sebentar ibu panggilkan. Silakan kamu duduk dulu."


"Ya bu."


Ibu Sekar masuk ke dalam dan memanggil Sekar.


"Hei Edi."


"Sekar. Kamu terlihat segar dan lepas. Seperti tidak ada beban lagi."


"Hahahah, iya Edi. Ya, kamu kan tahu sendiri gimana aku. Oh iya, tumben kamu ada apa pagi-pagi kesini?"


"Ya, kebetulan aku ada meeting di Bogor. Nah aku sempatkan datang ke rumah kamu sekalian nengok kamu."


"Ok. Eh kamu mau kopi? Aku buatkan."


"Ngga usah, aku tadi sudah ngopi. Terus rencana kamu selanjutnya apa?"


"Aku mau cari kerja Di, ngga enak di rumah saja. Kemarin-kemarin aku di rumah karena hamil. Sekarang aku sudah tidak hamil, tidak ada suami juga jadi aku bebas. Bebas dalam artian, aku bisa cari kerja lagi. Bisa menata hidup lagi dan bisa meraih mimpiku secepatnya."


"Baguslah setidaknya kamu bisa bangkit dan tidak terpuruk lagi. Aku sebagai sahabatmu sedih saat tahu kejadian yang menimpa kamu. Dan aku harap kamu lebih hati-hati jika ada pria yang jatuh cinta sama kamu. Jangan sampai kejeblos lagi dalam lubang yang sama."


"Iya Edi. Cukup sekali saja dalam hidupku, aku buat malu orang tuaku, keluargaku dan diriku sendiri."


"Kamu tadi bilang mau cari kerjakan. Coba nanti aku bantu kamu cari kerja."


"Wah, makasih banget Di. Kamu sahabatku yang bisa diandalkan. Top dah."


"Bapak sama Erna kerja sudah berangkat. Sebentar aku panggilkan ibu."


Edi pamitan dengan Ibumya Sekar dan segera pergi meeting.


"Tumben Edi kesini pagi-pagi. Ada apa?"


"Edi ada meeting di Bogor dan mampir kesini."


"Oh, ibu kira Edi mau ngajak kamu nikah."


"Ibu apaan sih. Ngga usah aneh-aneh deh. Edi itu sudah punya calon istri. Dan Sekar tahu karena beberapa waktu yang lalu sempat telpon sama Edi saat dia sama calon pacarnya."


"Oh. Ya sudah. Ibu pikir Edi kesini mau ngajak kamu nikah."


"Terserah ibu deh. Sekar mau pergi mau kirim lamaran kerja."


"Ya sudah. Hati-hati di jalan."


"Iya bu, terima kasih. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mirna masih merasakan sakit di seluruh badannya. Ahmad ternyata tega melakukan kekerasan terhadap dirinya.


Mirna ingin melaporkan perbuatan Ahmad ke kantor polisi.


Kalau aku lapor ke kantor polisi, terus pasti nanti banyak pertanyaan. Aku malu tapi aku juga tidak terima diperlakukan Ahmad seperti ini.

__ADS_1


Mirna berdiri dan mengambil koper bajunya. Mirna membuka kopernya, mengambil kotak kecil.


Perhiasan yang diberikan Ahmad masih ada dan lengkap dengan surat-suratnya. Mirna tersenyum, setidaknya perhiasan tersebut bisa ia jual untuk membeli handphone baru dan sisa uangnya bisa untuk hidupnya.


Mirna segera mandi dan berpakaian kemudian pergi untuk menjual perhiasan dari Ahmad.


Ahmad pergi pulang ke rumah Maryam. Sepanjang perjalanan, Maryam menelpon Ahmad. Tetapi tidak diangkat oleh Ahmad.


"Tyas, sudah jam istirahat. Kamu tidak istirahat dulu?"


"Iya bu Agnes, sebentar lagi."


"Saya duluan ya Tyas."


"Iya bu Agnes."


Tyas masih mempelajari semua pekerjaan yang diserahkan bu Agnes. Banyak hal yang masih baru buat Tyas.


"Tyas, sudah dilanjutkan nanti. Istirahat, makan siang dan sholat sana."


"Eh iya pak Joe. Sebentar lagi, masih nanggung."


"Hei, kerjaan itu ngga ada habisnya. Kalau sebentar-sebentar dan nanggung, kamu tidak istirahat dan tidak sholat."


"Heheheh, iya pak Joe."


Tyas segera membereskan mejanya dan keluar untuk makan siang, setelah itu Tyas sholat dan bertemu dengan Ningsih."


"Tyas, tadi Gege telpon katanya besok dia sudah bisa pulang dari rumah sakit."


"Wah, bagus dong. Rumah ramai lagi. Kalau kita berdua kurang ramai heheheh.'


"Iya benar. Gege bisa menghidupkan suasana."


"Ning, aku sholat dulu ya. Kamu sudah sholat?"


"Belum, kita sholat sama-sama Tyas."


Ningsih mengajak Tyas sholat bersama.


"Tyas, ini masih ada sisa waktu. Aku mau tanya sama kamu."


"Mau tanya apa?"


"Mengenai kamu sama Ahmad. Jadi rencananya bagaimana? Kamu sudah yakin akan cerai dengan Ahmad?"


"Iya, aku yakin untuk cerai sama Ahmad. Aku tidak mau terus-tetusan seperti ini. Mau ke kiri susah mau ke kanan susah, mau ke depan ya memang harus ke depan."


"Bagus, aku salut sama kamu. Kamu terlalu sabar. Harusnya kalau kamu tahu dari awal kalau Ahmad selingkuh kenapa tidak dicerai saja dari dulu."


"Ya kalau aku tahu seandainya saja dari dulu aku cerai dari Ahmad mungkin hidupku tidak rumit. Banyak pertimbangan saat itu Ning. Setelah semua pengalaman pahit yang aku terima sekarang aku yakin untuk cerai dari Ahmad. Semoga yang terbaik buat hidupku nantinya."


" Amin Tyas. Sudah bel. Kita kerja lagi."


"Iya Ning. Sampai bertemu sore nanti ya."


"Hahahha, ok, siap."

__ADS_1


__ADS_2