Istri Suamiku

Istri Suamiku
Pertemuan


__ADS_3

Tyas dan Gege sudah selesai sarapan. Mereka sedang menunggu bis jemputan.


Akhirnya bis jemputan yang di tunggu tiba. Mereka segera masuk.


"Mbak Tyas, tumben dirimu tidak bareng Pak Joe."


"Memang aku harus bareng pak Joe terus?"


"Kan biasanya gitu."


"Kan Sekali-sekali saja, kalau Pak Joe minta untuk berangkat atau pulang bareng."


"Lumayan mbak dapat sarapan gratis hahahhahaha. Gajian masih lama. Uang mingguan udah ngga ada."


"Lah tadikan udah sarapan? Memangnya masih lapar?"


"Iya Mbak. Masih lapar. Hamil kali ya, bawaannya lapar terus."


"Hush, kamu tuh pagi-pagi ngomongnya asal aja."


"Hahahah, gimana mau hamil lagi datang tamu bulanan."


"Gege, kamu tuh bukan anak kecil lagi. Tapi sudah besar, sudah dewasa. Umur kamu berapa coba?"


"Umur aku 26. Emang kenapa Mbak?"


"Mumpung masih muda, kejar cita-cita kamu. Kerja di pabrik bukan berarti tidak bisa mengejar cita-cita. Dan hitungan hari kamu sudah di kantor bukan di produksi lagi."


"Iya Mbak Tyas, siap Mbak Tyas."


"Kamu selalu bilang iya, iya dan siap. Tapi repeat until morning terus."


"Maksudnya repeat until morning?"


"Mengulang kata-kata asal jeplak dari pagi ketemu pagi."


"Oh ok. Hahahahah. Udah sampai pabrik. Turun yuk Mbak."


"Ya iyalah turun masa di dalam bis terus?"


"Mbak, aku duluan yah."


Tyas menganggukkan kepalanya. Tyas berjalan ke ruangan QC.


"Tumben pak Joe belum datang? Biasanya sudah ada di depan mejanya. Tyas melihat sudah ada beberapa yang datang.


Tyas merasakan hari ini berjalan sangat lambat. Sampai sore Tyas tidak melihat Pak Joe datang ke kantor.


Tyas dan Gege baru sampai rumah. Ternyata Ningsih sudah di rumah.


"Mbak Ningsih, apa kabar? Aku kangen dirimu? Gimana ibumu? Sudah sembuhkah? Terus gimana-gimana?"


"Woiiii, kangen sih kangen tapi nanya satu-satu kenapa sih!"


"Ya, ada satu lagi yang pms nih."


"Nah loe kadang-kadang aneh sih Ge."


"Terus gimana? Ya udah jawab aja. Daripada nanya satu-satu. Capek tahu."


"Ge, nanya nanti dulu. Kita kan juga baru sampai rumah. Terus kita ngga tahu apa Ningsih sudah di rumah dari tadi atau juga baru sampai. Mendingan mandi dulu. Baru setelah itu kita ngobrol-ngobrol."

__ADS_1


Gege dan Tyas masuk kamar. Sedangkan Ningsih masih di ruang tamu.


Tyas membuka tasnya dan mengambil handphone. Ada telpon dari Pak Joe.


"Assalamu'alaikum Tyas, kamu sudah sampai rumah?"


"Wa'allaikumsalam salam Pak Joe. Ini baru saja sampai rumah. Hari ini Pak Joe tidak masuk kerja, kenapa Pak?'


"Iya, saya tidak enak badan. Kamu bisa keluar sebentar ada yang mau saya bicarakan."


"Baik Pak Joe."


Tyas menutup telpon dan keluar kamar.


"Mau kemana Tyas?"


"Keluar, ada Pak Joe di luar."


"Oh ok."


Ternyata Pak Joe sudah di depan rumah Tyas.


"Masuk saja Pak. Kita bicara di dalam."


"Ngga papa Tyas. Kalau bisa saya mau ajak kamu keluar. Biar kita bisa ngobrol tanpa ada gangguan."


"Sebentar Pak, saya ganti baju dulu."


"Ngga usah, lagipula kan kamu tidak pakai seragam. Ayo ikut."


Tyas mengikuti Pak Joe dan masuk ke dalam mobil.


"Kok kesini Pak? Bukannya kita mau bicara?"


"Saya lapar dan kamu pasti juga lapar. Saya pengen makan terus bicara sama kamu mengenai sesuatu hal."


"Oh. Memang mau bicara mengenai apa pak?"


"Kita makan dulu."


Pak Joe memesan makan dan mereka makan.


Tyas melihat kedatangan Mirna dan Ahmad. Mereka berdua terlihat bahagia. Mirna dan Ahmad tidak melihat bahwa ada Tyas.


"Tyas. kok bengong? Ada apa?"


"Maaf Pak Joe, kita bisa pindah tempat tidak? Saya ngga nyaman disini."


"Kenapa? Karena ada Ahmad dan pacarnya atau istri barunya? Saya juga lihat kedatangan mereka kok. Ngga usah kuatir. Lagipula sebentar lagi Jerry juga datang."


"Baik Pak Joe."


Tidak berapa lama Jerry datang dengan salah seorang perempuan.


"Joe, sorry, macetot jadi gue telat."


"Macetot itu apa Pak Jerry?"


"Hahahah, kamu itu polos banget ya Tyas. Macetot itu macet total."


"Gue makan dulu ya. Oh iya kenalkan ini Dewi yang nanti akan temani kamu selama sidang perceraian."

__ADS_1


"Maksudnya Pak Jerry?"


"Kamu itu perlu pengacara untuk masalah perceraian kamu."


"Memang harus pakai pengacara ya Pak? Seperti artis-artis yang cerai gitu. Saya kan bukan artis, saya pikir saya cerai tidak perlu pengacara. Yang penting saya bisa segera bercerai. Lagipula tidak ada harta yang bisa dibagi dan anak."


"Ya bisa juga seperti itu. Tapi alangkah lebih baik jika kamu didampingi pengacara. Karena kita tidak tahu keberadaan Ahmad sekarang dimana dan jangan sampai terjadi hal-hal yang akan merugikan kamu nanti selama persidangan."


"Oh, begitu Pak. Maaf soalnya saya tidak ada uang buat bayar pengacara."


"Masalah uang tidak usah dipikirkan. Semuanya sudah dibayar sama Joe."


"Pak Joe?"


"Iya Tyas, ngga usah kuatir. Yang penting kamu ngga stress dan bisa bangkit lagi untuk hidup dan fokus bekerja."


"Tapi Pak Joe, saya jadi tidak enak sama Pak Joe karena sudah banyak membantu saya."


Ahmad melihat Tyas. Mereka sudah selesai makan dan akan pergi.


"Sayang, itu ada Tyas. Kita lewat sana. Biar Tyas tahu bahwa aku sudah ada kamu."


"Ngga usah Mas, aku ngga enak sama mbak Tyas."


"Biar saja. Biar dia tahu bahwa aku sudah sama kamu. Dan aku masih bisa menikah. Dia tidak akan pernah bisa menikah karena aku tidak akan menceraikan dia."


"Oh, jadi Mas Ahmad tidak mau menceraikan Tyas? Jadi buat apa aku nikah sama Mas Ahmad! Mas Ahmad aku tidak mau poligami. AKU AKAN MENUNGGU SAMPAI MAS AHMAD MENCERAIKAN MBAK TYAS, BARU KITA MENIKAH!"


"Iya sayang, iya."


Ahmad berdiri dan menggandeng Mirna. Dan sengaja melewati meja Tyas dan Joe juga Jerry.


"Eh, ada Tyas, perempuan mandul yang membuat suaminya menikah lagi sama perempuan lain."


Tyas terkejut dengan kedatangan Ahmad dan Mirna.


"Jerry dan Dewi. ini Ahmad, suami Tyas. Kamu bisa langsung ngobrol sama Ahmad mengenai perceraian supaya cepat selesai urusannya."


"Oh, perceraian? Baguslah! Jadi Tyas yang akan urus perceraian? Sudah punya uang banyak hasil selingkuh sampai pakai jasa oengacara."


"Mbak Tyas kok diam saja? Aku mau menikah sama mas Ahmad. Tapi aku mau mbak Tyas dan mas Ahmad bercerai secepatnya. Karena aku tidak mau di ganggu perkawinanku nantinya di ganggu sama mbak Tyas."


Tyas hanya diam. Tidak membalas omongan Ahmad maupun Mirna."


"Oh jadi ini Pak Ahmad, suami Tyas. Bagus kita ketemu disini. Kenalkan saya Jerry dan ini Dewi. Saya minta alamat Pak Ahmad agar pengadilan dapat mengirimkan surat panggilan untuk bercerai."


"Dengan senang hati. Tolong dicatat."


Mirna memberikan alamat apartemennya.


"Ayo sayang. Jadi aku tidak perlu keluar uang untuk bercerai. Dan Tyas, aku pastikan tidak ada laki-laki yang mau menjkah dengan perempuan mandul seperti kamu."


"Tutup mulut kamu Ahmad!"


"Sudahlah Pak Joe jangan narik urat sama laki-laki yang tidak bisa menghargai perempuan. Hanya memanfaatkan perempuan sebagai mesin anak."


Tyas tiba-tiba bicara yang membuat Ahmad kesal.


Ahmad dan Mirna keluar dari rumah makan.


"Tyas? Tumben kamu bisa bicara seperti itu. Tapi ok, dengan kamu bicara seperti itu. Akhirnya Ahmad pergi."

__ADS_1


__ADS_2