Jodoh Beda Kasta

Jodoh Beda Kasta
harus memilih ep10


__ADS_3

Seminggu telah berlalu setelah pertemuan


Rachel dengan wanita yang bernama nyonya


Kim alin Adalberto barnett,ditambah 3 hari


yang lalu notifikasi ponselnya mengingatkan


izin tinggalnya hanya tersisa seminggu lagi


dan harus segera memperpanjangnya


kekedutaan,uang yang ia kumpulkan untuk


tuan Lee juga masih banyak


kurangnya.rachel mulai gelisah memikirkan


satu persatu masalahnya.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketok sesorang


dan ia hapal betul dengan suara ibu kosnya


itu."Rachel kamu sudah tidur"mengingat ini


sudah larut malam,tapi hanya diwaktu seperti


ini ia bisa bertemu dan berbicara dengan


Rachel yang sibuk bekerja pagi dan


malam.rachel yang baru saja akan bersiap


istirahat mau takmau harus meladeni ibu


kosnya ntah keperluan apa yang


membawanya ke kamar Rachel.


"baru mau tidur Bu".setelah membukakan


pintu kamarnya dan mempersilakan ibu


kosnya itu untuk masuk.


"ibu sebenarnya


tidak mau mengganggumu tapi mau gimana


lagi kamu kan sudah nunggak uang kamar


kamu ini 2bulan.ibu ngerti kalau kamu lagi


kesulitan uang karna ulah teman kamu


itu,tapi ibu juga butuh uang buat merenovasi


kamar kos lainya.jadi ibu akan kasi kamu


waktu satu Minggu ya".


"oh ia saya lupa bu,baik Bu Minggu depan


akan saya bayar,trimakasi buat


pengertiannya ya Bu".ucap Rachel sopan


kepada pemilik kosnya."ya sudah ibu permisi


ya".pergi meninggalkan Rachel.


"ohh my God,kok bisa aku lupa,terus harus

__ADS_1


kemana lagi cari uang buat bayar kos".Rachel


menjambak rambutnya sendiri,terlalu pusing


mencari jalan keluar."yaaakk lebih baik mati


saja".Rachel menangis sejadi-jadinya


meluapkan sesak didadanya.


tanpa terasa waktu berputar menunjukkan


pukul 03:30,Rachel belum sedikitpun


terlelap,rasa kantuknya meluap begitu saja."aku harus apa sekarang".hanya kata-kata


itu saja yang selalu Rachel ulangi.matanya


sudah bengkak Karana terlalu lama


menangis."Tuhan,ntah dirimu nyata atau


tidak tapi yang pasti aku tidak tau harus


berbuat apa lagi disini".menutup wajahnya


dengan kedua tangannya,ia berharap ada


jalan yang membawanya keluar dari


masalahnya.sampai sinar matahari pagi


masuk melalui celah jendela kamarnya,ia


masih setia dengan posisinya tadi malam


duduk menyender didinding kamarnya


dengan kaki ditekuk dan tangannya yang


minta diisi pada akhirnya Rachel mengalah


dan harus segera mengisi perutnya supaya ia


bisa berpikir.


Dengan langkah yang gontai Rachel


mengambil dompet yang ada didalam tas


kerja,ntah sebuah kebetulan atau mukjizat


sebuah kertas jatuh tepat dikakinya,ia


mengambil dan teringat kembali


percakapannya dengan wanita yang ingin


membuat kesepakatan denganya."apa aku


menyetujui saja rencana nyonya


ini,tapi...".sangat bertentangan denga hatinya.


"tapi aku sudah tidak punya jalan lain,Tuhan


aku sudah mencoba jalan lain,biarkan aku


mencoba jalan yang ini".melipat kartu nama


dikedua telapak tangannya dan


mengarahkannya ke langit seolah meminta

__ADS_1


ijin untuk melakukanya.rachel mengambil


ponselnya dan mulai menekan nomor yang


tertera dikartu itu."hello siapa ini".terdengar


suara lembut dari seorang wanita,bukanya


menjawab Rachel malah diam seribu bahasa


ada ketakutan yang masih mengganjal


dihatinya.


"누구세요 (nugu-se-yo \=siapa ini)".


masih dengan nadanya yang lembut."yaa...


kamu mau bicara atau tidak".mulai


menaikkan suaranya kesal karena yang


menghubunginya tidak kunjung


berbicara.


"haisss,ni orang benar-benar


ya".menggeram dengan ulah


sipenelepon.rachel yang awalnya takut


mengumpulkan keberaniannya untuk


bersuara.


"nyonya ini saya Rachel".suaranya


sangat pelan dan penuh kehati-hatian.saya


menerima penawaran yang nyonya berikan".


menggigit bibirnya sendiri,dengan tangan


gemetar karna sudah mengambil langkah


sejauh ini.


"baik...hari ini asisten saya akan


memberikan beberapa persyaratan yang


harus kamu tanda tangani".menutup


panggilannya secara sepihak tanpa ada basa


basi.rachel sudah mengambil keputusan


walau ia sendiri tidak tau resiko seperti apa


yang akan ia hadapi nanti.ia hanya mampu


pasrah sebab pulang ke negaranya ia tidak


punya uang sepeserpun.ia memasukkan


ponselnya kedalam saku celana dan bersiap


keluar membeli sarapan.


"huhhh..".


menghembuskan napasnya panjang dan

__ADS_1


keluar dari kamarnya.


__ADS_2