
Tidak seperti pagi biasanya pagi kali ini
sangat berbeda.Diawali mandi bersama
dengan sedikit drama dengan ulah Jimin
yang selalu tidak membiarkan istrinya
mendahului dirinya dan berujung perdebatan
kecil yang selalu dimenangkan
jimin.Berlanjut dengan turun kelantai bawah
menuju meja makan dengan harus
bergandengan tangan.Jangan lupakan acara
sarapan pagi dimana Rachel harus duduk
dipangkuan suami mesumnya itu.
"Sayang aku bisa makan sendiri".rengek
Rachel dengan mulut yang penuh makanan
akibat Jimin menyuapinya dengan porsi
yang terbilang besar untuk ukuran mulut
Rachel yang mini.
rachel juga merasa kesal karena mulai hari ini
dia tidak lagi bekerja di cafe Yuri dan harus
ikut kekantor bersama Jimin setiap hari,
dengan alasan agar Jimin bisa mengajarinya
sebelum masuk kuliah.
Ya.rachel akan masuk kuliah bulan depan
sesuai permintaan Jimin suaminya dan tentu
saja Rachel tidak menolaknya.Kuliah
merupakan impiannya sejak dulu walau
Rachel tidak terlalu pintar.Namun impiannya
itu harus dikuburnya dalam-dalam mengingat
ekonomi kedua orangtuanya kala itu sangat
memprihatinkan , dan sekarang ada peluang
untuk itu maka Rachel tidak akan
menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Jangan membantah."seru Jimin menarik
pinggang istrinya yang berusaha lari dari
pangkuannya."Aku tidak suka melihat
tubuhmu yang kurus ini."
Dengan wajah cemberut Rachel menerima
suapan demi suapan dari jimin tanpa ada
bantahan lagi sampai akhirnya seluruh isi
piring Rachel tandas tak tersisa.
"Bagus..."senyum Jimin terukir kala istrinya
__ADS_1
sudah menghabiskan makanannya."ajumma
jangan lupa vitamin untuk istriku."
Segera ajumma mengambil dan menyerahkan
vitamin yang Jimin minta.setelah acara
makan selesai Jimin dan Rachel berangkat
kekantor dan jangan lupakan cara duduk
Rachel yang akan selalu dipangkuan Jimin
suami mesumnya itu.
"Tuan ini semua buku-buku yang nona
butuhkan untuk ujian masuk perguruan
tinggi." Dengan susah payah Natan
meletakkan buku yang cukup banyak diatas
meja Jimin.
"Sayang buku sebanyak ini?."tunjuk Rachel
dengan mata melotot pada tumpukan buku
yang menjulang tinggi di atas meja kerja
suaminya."Untuk apa?."tanya Rachel
kebingungan.Baru saja tiba dikantor milik
suaminya Rachel sudah disuguhkan
pemandangan yang membuatnya
tercengang.
sambil mencek ulang semua buku yang
dibawa Natan keruangannya.
"what?"
pekik Rachel tak percaya."Bagaimana bisa
aku membaca semua itu!."protes rachel
dengan setengah berteriak tak percaya jika
dia harus belajar mati-matian untuk masuk
kuliah.
"chagia are you ok?."tanya Jimin bergegas
menghampiri Rachel yang terlihat lemas dan
memegangi kepalanya.
"Aku tidak mau kuliah".seru Rachel dengan
suara lemah setelah Jimin menuntunnya
duduk disofa.
Awalnya Rachel sangat antusias ketika Jimin
menyuruhnya untuk kuliah tapi hari ini
sepertinya dia tidak lagi menginginkannya
lagi.Otaknya tidak sepintar itu untuk bisa
mengingat setiap isi dari buku-buku yang
__ADS_1
diberikan Natan.
"Jangan khawatir itu semua buku-buku
referensi tentang jurusan.kau tinggal pilih
saja jurusan apa yang kau inginkan chagia."
"Jadi aku tidak harus menghapal buku itu
semua?". Pertanyaan Rachel langsung
mendapat sentilan dari Jimin tepat di
keningnya.
"Apa kau pikir aku suami yang sudah
gila?."balas jimin dengan senyum
khasnya."Aku juga akan membantu
mu.apapun itu."ucap Jimin memberi
semangat pada istrinya."kau tau suamimu ini
sangat jenius."ucap Jimin dengan
sombongnya.
Mendengar ucapan Jimin Rachel akhirnya
bisa mengukir senyuman indahnya dan
memeluk Jimin dengan penuh
haru."Gomawo."seru Rachel dalam pelukan
Jimin.
"Karena aku baik maka hukuman mu akan
bertambah".ucap Jimin dengan seringai iblis
mesum dibibirnya.
"Haissss...kau ini". Rachel memukul bahu
Jimin dan menarik tubuhnya dari pelukan
Jimin dengan kesal."Apa tidak bisa sehari
saja untuk tidak menghukum ku?."protes
Rachel memeluk tubuhnya sendiri.
"Tidak bisa chagia".bantah Jimin diiringi tawa
dan menarik tubuh kecil Rachel kembali
masuk dalam pelukannya.
Seharian ini keduanya sibuk dengan kegiatan
masing-masing dan sesekali Jimin akan
mengusik ketenangan istrinya dengan
bercumbu dengan alasan untuk
menghilangkan rasa lelahnya dari pekerjaan.
Rachel walau terlihat kesal dengan segala
kelakuan suaminya yang terkadang seperti
bayi tua yang ingin dimanja dan diperhatikan.
pada akhirnya Rachel juga tidak tega dan
__ADS_1
menuruti kemauan sibayi tuanya itu.