
"Michael... Michael kenapa lama sekali?."
Seru Jimin menggedor-gedor pintu kamar
terdengar memekakkan telinga.Jimin sudah
habis kesabaran menunggu Michael yang
cukup lama didalam kamarnya."Michael
awas kalau kau berani macam-macam."teriak
Jimin penuh emosi dari luar kamar.
"Haissss... mengganggu saja."
Namun bukan Jimin namanya kalau bisa
sabar.Jimin membuka pintu kamar dengan
kasar tanpa menunggu jawaban dari dalam.
"Kau ini tidak sabaran."ucap Michael dengan
sengit melihat kelakuan Jimin yang tidak
bisa menunggu kesempatan kerjasama
antara dirinya dan Rachel ."Ikut aku ada yang
mau aku bicarakan."menyeret tangan Jimin
kembali keluar dari kamar."Ini tentang wanita
cantik itu".sambil menyentak tangan Jimin
karena sepupunya tidak mau mengikutinya.
Jimin akhirnya mengikuti Michael keluar,dia
juga penasaran dengan apa yang ingin
Michael bicarakan yang berkaitan dengan
wanitanya.
"Ada apa?.tanya Jimin setelah duduk dengan
muka memalas.Tidak sabar rasanya ingin
menghukum Rachel karena telah berani
memasang alat kontrasepsi tanpa
sepengetahuan siapapun termasuk dirinya.
"efek dari alat kontrasepsi yang digunakannya
membuat tubuhnya semakin kurus."terang
Michael menyerahkan benda berbentuk
jarum kecil yang dia keluarkan dari lengan
Rachel.
"Sudah kuduga."balas jimin memandangi
benda yang diberikan Michael.sejak lama jimin
sudah merasa ada perubahan yaitu tubuh
wanitanya yang semakin hari semakin
kurus.Tapi Jimin tidak pernah menyangka
jika itu semua karena efek samping dari alat
itu."Jadi apa solusinya?."sungguh Jimin ingin
membuat Rachel selalu disisinya yaitu
dengan membuat wanitanya mengandung
bibit unggul darinya.
"Tidak ada, hanya saja cukup perhatikan pola
makanan yang dia makan dan cukup istirahat
jangan terlalu kecapean."jelas Michael
dengan serius."Ya sudah aku mau ketemu
aunty dan ungle dulu mumpung masih ada
waktu." Michael membuka suara setelah
keduanya terdiam dengan pikiran
masing-masing.michael menepuk paha
Jimin lalu berdiri untuk menemui mom dan
__ADS_1
Deddy Jimin yang kebetulan ada dirumah.
Biasanya setiap Michael berkunjung atau
datang itu karena Jimin selalu menyuruhnya
datang dan tidak pernah bertemu dengan
orang tua jimin yang terkenal super sibuk.
Jimin melangkah menuju kamarnya,ada
banyak pertanyaan dibenaknya saat ini.
"Kau bisa jelaskan benda sialan ini?."Jimin
melemparkan kotak berisi jarum kecil
didalamnya yang jatuh tepat dihadapan
Rachel.
"Ini!."suara Rachel tertahan."Maaf."
hanya kata itu yang keluar dari mulutnya dan
setelah itu Rachel kembali menunduk dan
tidak berani menatap mata Jimin.
"Sudah berapa lama kau
memakainya?."Sentak Jimin yang sudah
mulai emosi melihat Rachel yang hanya
tertunduk."jawab jangan diam saja."bentak
Jimin kembali dengan nada lebih keras.
Suara bentakan Jimin bahkan terdengar
sampai kelantai bawah karena pintu kamar
mereka memang tidak tertutup atau lebih
tepatnya Jimin tidak menutup pintu saat
masuk kedalam kamar.
Mendengar suara Jimin membentak Rachel
membuat mommy alin tersenyum penuh
keduanya berakhir secepatnya walau di tidak
tau masalah apa yang membuat
putranya itu murka pada Rachel.
Rachel bahkan sampai terlonjak kaget
mendengar suara Jimin dan tanpa di sadari
airmatannya sudah menetes.
"Saya hanya tidak ingin hati saya terluka lebih
dalam lagi."ucap Rachel dengan bibir
bergetar menahan tangisnya dan menahan
rasa takutnya."Saya takut jika saya hamil dan
nanti anak saya akan menderita karena tidak
diakui.Kalaupun menderita biar saya
saja."karena hal itu lah Rachel berinisiatif
memasang alat pengaman untuk menjaga
hatinya agar tidak terlalu merasa sakit bila
waktu perpisahan diantara mereka berdua
tiba.
"Omong kosong apa lagi ini?."Jimin tidak
percaya kalau Rachel berpikir sampai sejauh
itu."Kalau aku ingin mencampakkan mu
sudah kulakukan dari dulu."tegas Jimin yang
memang menginginkan Rachel selalu
disisinya.
"Saya mau menikah karena terpaksa.tuan
tidak mencintai saya". Rachel terisak, hatinya
__ADS_1
begitu sakit saat mengingat perlakuan Jimin
terhadapnya dulu ."Saya harus bisa
membuang rasa cinta saya bagaimanapun
caranya."mengeluarkan semua yang terganjal
di hatinya.rachel sudah tidak bisa menahan
dan akhirnya tangis Rachel pecah juga.
Melihat Rachel menangis sesenggukan
membuat hati Jimin bagai disayat.jimin yang
dari tadi berdiri kini mendekat dan duduk
disebelah Rachel.Menarik wanita itu masuk
kedalam pelukannya.
"Kau sudah mencintaiku?."tanya Jimin,terselip
senyum kebahagiaan begitu melihat Rachel
mengiakan dengan mengangguk."Dan
kenapa kau kembali memanggilku
tuan?."Jimin malaj kembali kesal kala Rachel
berulangkali memanggil dirinya tuan.
"Maaf".jawab Rachel singkat.
"Apa kau tidak merasakan cintaku?."Suara
Jimin terdengar lembut.jiminmendekap
Rachel dan membelai Surai rambut
wanitanya dengan lembut dan penuh cinta.
Rachel menggelengkan kepalanya dalam
pelukan Jimin.Memang dia bukanlah tipe
wanita yang peka dengan sikap dan perilaku
pria terhadapnya.
"Kau tidak tau atau pura-pura idiot?."geram
Jimin masih mengeluarkan suaranya dengan
lembut.
Rachel malah menangis kembali dan
membuat Jimin semakin bingung.Bingung
kenapa istrinya itu menangis lagi sedang dia
tidak menaikkan suara sedikitpun.Jimin
kembali membawa Rachel kedalam
pelukannya karena Rachel sempat mengurai
pelukannya karena ucapan jimin barusan.
"Tuan tidak mencintai saya karena tuan selalu
memanggil saya idiot."ucap Rachel terisak
dengan suara tangis yang semakin menjadi.
"Ha..ha .ha.."
tawa Jimin pecah setelah melihat Rachel
marah dengan tangis bersamaan."Baiklah..jadi kau ingin aku
memanggil mu apa?."tanya Jimin balik
sambil tersenyum bahagia sambil
menghapus air mata Rachel.Bahagia melihat
istrinya itu ternyata bisa marah dan tidak ada
seram-seramnya sama sekali.
"Tidak ada".jawab Rachel memanyunkan
bibirnya.
Jimin memberi waktu pada Rachel untuk
lebih tenang.Dengan tetap memeluk tubuh
kecil istrinya memberi ruang pada mereka
__ADS_1
untuk merasakan kehangatan satu sama lain.