
Pagi ini seperti biasa Rachel mengurus
semua kebutuhan Jimin suaminya,meski
badan masih terasa lemah karena tidak lagi
berselera makan dengan alasan masih
kenyang pada Jimin.
Jimin belum tau tentang keadaan Rachel
karena Rachel juga tidak ingin membuat
suaminya mencemaskan dirinya.
"Chagia,jam berapa mata kuliahmu hari
ini?."Tanya Jimin mengeratkan pelukan di
pinggang istrinya."Kenapa wajahmu
pucat?."Timpal Jimin saat menyadari ada
yang berbeda dengan wajah istrinya yang
terlihat pucat dan lemah.
"Tidak apa-apa,mungkin kelelahan karena
akhir-akhir ini banyak tugas kuliah ."Jawab
Rachel tetap fokus memakaikan dasi
Jimin."Sudah rapi."ucap Rachel kemudian
dengan senyum setelah selesai memasang
dasi suaminya.
"Jangan paksakan dirimu."Menangkup kedua
pipi istri tercintanya dengan kedua
tangan."Biarkan Natan atau aku yang
menyelesaikan tugas-tugas kuliahmu."
"Mana bisa begitu."Memanyunkan
bibirnya."Kau juga sudah banyak membantu
ku."Lanjut Rachel kembali.ya, selama ini
Jimin selalu membatunya menyelesaikan
tugas kuliah yang menurutnya susah,maklum
Rachel masih terbatas dalam mengerti
bahasa Korea dan Inggris.
Jimin juga dengan senang hati membantu
__ADS_1
Rachel setiap saat meski Jimin sibuk dengan
berbagai proyek barunya,namun Rachel
selalu menjadi prioritas utamanya.
"Apa yang tidak bisa bagi orang lain itu tidak
berguna bagi seorang Kim Jimin Adalberto
barnett.kau mengerti...?dan apa kau lupa
sejenius apa suamimu yang tampan
ini?."Jimin berucap dengan menunjukkan sisi
narsis sekaligus sifat arogannya.
"Aku tidak mau."Jawab Rachel kesal dengan
sikap Jimin yang selalu memakai kekuatan
namanya dalam segala hal.
Jimin malah tersenyum melihat kekesalan
Rachel yang menurutnya sangat
menggemaskan dan selalu Jimin
melabuhkan kecupan bertubi-tubi di wajah
dan dibibir Rachel.
dengan ulah Jimin yang menghujaminya
dengan ciuman."Sudah sana berangkat."Usir
Rachel karena meladeni Jimin itu sama
artinya membuat pria itu tidak jadi bekerja
dan akan menghabiskan waktunya dengan
mengurung istrinya didalam kamar dan
sudah dapat dibayangkan apa yang akan
dilakukan Jimin sepanjang hari dikamar
dengan Rachel.
Hal itu sudah sering terjadi dan Rachel sudah
hapal dengan gelagat jimin.Jika sudah begitu
maka Natan akan melakukan perkejaan
berlipat ganda karena Jimin akan
menyuruhnya menyelesaikan semuanya
tepat waktu tanpa perasaan bersalah sama
__ADS_1
sekali.
"Sayang mana berani aku mengusirmu".Bujuk
Rachel menurunkan nada suaranya."Tapi
walau kau berkuasa sekalipun kau kan tetap
harus punya rasa tanggung jawab untuk
pekerjaan-mu."Rachel mencoba menjinakkan
Jimin dengan segala rayuan mautnya.rachel
juga tidak ada tenaga untuk melayani
kegilaan Jimin bercinta kali ini disebabkan
tubuhnya yang masih lemah.
"Ck..kau pintar sekali merayuku."Menarik
pinggang istrinya lalu mengecup lembut
mulai dari kening sampai kebibir ranum
istrinya yang selalu menjadi candu dan bisa
membakar gairahnya.
Jimin akhirnya turun dengan tetap
menggenggam tangan istrinya.Rachel
dengan telaten melayani Jimin walau pria itu
hanya ingin dia duduk disampingnya dan
membiarkan para maid yang akan
melakukanya namun Rachel tidak
mendengar dan sampai hari ini dia dengan
setia melayani jimin di meja makan.
"Ajumma buatkan aku jus jeruk."Seru Rachel
begitu selesai memberangkatkan Jimin
untuk bekerja.
"Nona muda tidak makan?."Tanya ajumma,lalu
membuatkan jus jeruk untuk Rachel.
"Tidak nanti saja."Jawab Rachel lalu
meminum jus jeruk buatan ajumma dengan
sekali teguk."Aku ingin kembali tidur
saja."Timpal Rachel sambil berlalu menuju lip
__ADS_1
untuk kembali ke kamarnya.