
"kenapa Rachel merasa mual apa dia....?"Yuri
menautkan alisnya tanpa meneruskan
ucapannya.memikirkan sesuatu yang
mungkin terjadi.
"Apa maksudmu? istriku kenapa?."Jimin
penasaran dengan ucapan Yuri yang tidak
jelas.
"Maksud saya..mungkin Rachel sedang
hamil !."seru Yuri, mengutarakan apa yang
dipikirkannya.karena sebagai wanita yang
sudah menikah dan mendengar cerita dari
sahabat-sahabatnya yang sudah punya anak
itu adalah salah satu tanda-tanda wanita
yang sedang hamil.
"what?."pekik Jimin keras dan membuat
orang-orang yang didalam ruangan kaget
terutama Natan yang berdiri didekatnya
sampai menutup telinganya merasa gendang
telinganya seperti pecah mendengar suara
tuanya."Istriku hamil?."Jimin terlihat bahagia
mendengar tebakan Yuri karena Jimin sudah
lama menginginkan Rachel mengandung
bibit unggulnya.
Naira yang terkaget memegang dadanya yang
serasa hampir copot karena teriakan Jimin
yang begitu kuat.Tapi detik berikutnya
Naira malah tertawa terbahak-bahak setelah
menyadari ucapan Yuri."Mana mungkin
Rachel hamil .eonni bercanda?".seru Naira
tak bisa menghentikan tawanya sambil
memegangi perutnya.
"Apanya yang tidak mungkin?."Jimin malah
emosi mendengar ucapan dari sahabat
istrinya itu.jimin tidak terima jika ada yang
meragukan kejantanan dan bibit unggulnya.
Melihat kemarahan di wajah Jimin membuat
Yuri memukul bahu Naira dengan
keras."Sibodoh ini."gumam Yuri yang masih
bisa didengar Naira walau tidak begitu jelas.
"Auh eonni sakit."Naira mengaduh sambil
mengusap bahunya yang terasa sakit akibat
pukulan yuri."Aku bicara benar,dokter itu juga
__ADS_1
bilang begitu."Naira membela diri karena Yuri
masih memukul bahunya.
"Dokter?."Jimin semakin bingung dengan
bicara Naira."Bicara yang jelas,atau kau mau
mati sekarang?."Jimin berdiri dari
duduknya.Kebahagian diraut mukanya
berubah menjadi rasa marah menatap
Naira ."Katakan apa maksud dari ucapan mu
itu!." Dia sudah tidak sabar mendengar
penjelasan lebih jelas dari mulut Naira.
Shane dan Yuri juga tidak ikut diam, pasangan
suami-istri itu juga mendekat pada Naira
ingin mendengar lebih jelas dari ucapan
Naira yang sudah hafal dengan sifat
cerobohnya.
"Rachel memasang alat kontrasepsi di
lengannya."jelas Naira yang merasa dirinya
terintimidasi dengan tatapan tajam dari tiga
Manusi yang ada dihadapannya.
"What?."pekik Jimin kembali tak percaya
dengan semua yang didengarnya.
Sedangkan Natan hanya diam tanpa bereaksi
areanya melainkan urusan antara suami dan
istri.
"Jadi istriku memasang alat sialan itu?."suara
Jimin bergetar."Natan kenapa kau bisa
ceroboh dan tidak tau hal seperti ini?."Jimin
beralih menatap tajam pada asistennya yang
nampak gelagapan dengan ucapan Jimin.
"Tuan sa____."
"Kumpulkan bodyguard dan supir cari tau apa
yang mereka lakukan waktu itu sampai tidak
tau kalau istri ku pergi menemui
dokter."Dengan wajah yang sudah merah
padam menahan amarah Jimin langsung
meninggalkan kamar Naira diikuti Natan yang
berjalan tergesa-gesa mengimbangi langkah
tuanya.Sambil berjalan Natan menghubungi
seseorang"Kumpulkan para bodyguard dan
supir nona muda."perintah Natan dengan
tegas dan terus berjalan.
"Kenapa kau selalu menyusahkan hidup
__ADS_1
Rachel."Yuri mukul kepala Naira
melampiaskan kekesalannya.
"Sayang..kau bisa membuatnya terluka
lagi."Shane menahan tangan istrinya kasian
melihat Naira menahan sakit dari lukanya
dan juga pukulan dari istrinya.
" Biarkan saja."Yuri menarik tangannya dari
Shane lalu kembali memukul naira.yuri tidak
menghiraukan teriakan kesakitan dari mulut
Naira sampai Akhirnya Naira berteriak kalau
Rachel lah yang memaksa dirinya untuk
memasang alat itu.Setelah mendengar itu
Yuri baru menghentikan pukulannya dan
duduk untuk mendengarkan penjelasan dari
Naira.
Begitu masuk kedalam mobil Jimin langsung
membuka jasnya dan melemparnya sembarangan lalu melonggarkan dasi yang
terasa sangat mencekiknya."Sial."geramnya mengusap wajahnya dengan kasar lalu
memukul kursi di depannya."Kenapa ini lolos dari pantauan mu?."
Bentak Jimin pada natan.jimin
merasa Natan lalai dalam hal ini."Pantas bibit
unggul ku tidak berkembang ternyata benda
sialan itu penyebabnya."geram Jimin dalam
hati.
"Tuan sepertinya nona muda sudah
merencanakan ini dengan sangat
hati-hati."jelas Natan yang sudah menerima
informasi dari laporan bodyguard.
"Tutup mulutmu."kesal Jimin."cepat hubungi
Michael suruh dia datang cepat."sentak Jimin
yang kini terlihat kacau dengan baju yang
sudah tidak beraturan lagi.
"Baik tuan".Natan langsung menghubungi
Michael dan menambah kecepatan laju
kendaraan agar segera sampai
dirumah.Natan tidak bisa membayangkan
semarah apa tuanya itu nanti pada istrinya.
Sepanjang perjalanan Jimin hanya diam dan
sesekali terdengar suara umpatan dari
mulutnya yang terdengar merutuki
kecerobohan dan kelalaian untuk mengawasi
istrinya.
__ADS_1