
Pagi hari jimin bersiap berangkat kerja seperti
biasa berbeda dengan rachel yang tidak di
ijinkan untuk bekerja bahkan sekedar keluar
melihat-lihat sekitar apartemen saja Jimin
sangat melarang.
"Duduk diam dirumah dan jangan
mengerjakan apapun."Rachel yang
memasang dasi Jimin memajukan bibirnya
mendengar perintah Jimin.
"Sayang saya boleh bersih-bersih?."
"Tidak."jawab Jimin tak
terbantahkan."istirahatlah yang
cukup."mengerlingkan sebelah matanya
kearah Rachel."siang nanti Natan akan
mengantarkan makanan untukmu."mengecup
sekilas bibir Rachel yang selalu menjadi
candunya.
"Kalau begitu aku telepon Yuri eonni
dulu."Rachel langsung menghubungi Yuri dan
meninggalkan Jimin yang duduk disofa
menuggu Natan menjemputnya.
"Drt...drt...drt..."
Baru ingin menghubungi Yuri ponselnya
sudah lebih dulu berdering dan terlihat nama
Nicky di layar ponsel miliknya.
"Hello oppa ada apa?."
"Semalam kenapa kamu tiba-tiba menghilang
sweet heart?kamu kemana? ponselmu juga
tidak bisa dihubungi?Semua orang
mengkhawatirkan mu!.begitu banyak
pertanyaan yang Nicky lontarkan membuat
Rachel harus menjawabnya satu persatu.
"Oppa saya baik-baik saja, semalam tiba-tiba
perut saya sakit jadi saya pulang
duluan."jawab Rachel berbohong.
"Kenapa asisten tuan Jimin yang ambil
barang-barang kamu?."Nicky teringat saat
Natan datang dan meminta tas Rachel yang
tertinggal kepada Naira.
"Ahhhh itu____."tiba-tiba saja ponselnya
dirampas dari belakang.
"Berani sekali berbicara dengan pria
lain."Jimin yang hendak pamit pergi kerja
mendengar Rachel berbicara dengan
seseorang dengan menyebutnya oppa
membuat darah Jimin mendidih,dia tidak
ingin Rachel berbicara dengan pria lain
semanis itu bahkan menyebut pria lain
dengan sebutan oppa.
"Sayang kembalikan ponselnya."bisik Rachel
sangat pelan karena dia yakin benar
ponselnya belum mati.
"Ini."dengan santai Jimin memasukkan ponsel
Rachel kedalam vas bunga yang berisi
air."ambil saja."Jimin mengibaskan
tangannya dan tersenyum.
"Sayang". Rachel menghentakkan
kakinya."rusak".mengambil ponselnya yang
sudah tenggelam dalam vas bunga lalu
menatap Jimin dengan wajah cemberut.
Melihat kekesalan Rachel malah membuat
Jimin gemes dan menggendong Rachel
menuju sofa."Kalau kau selalu memasang
wajah jelek mu itu bagaimana bisa aku pergi
kerja."Jimin mendudukkan Rachel di pahanya
menghadap dirinya.
Rachel malah semakin kesal lalu memukul
dada bidang suaminya."jahat."Rachel
menangis mengingat ponsel yang dia beli
__ADS_1
dengan susah payah sudah tidak berfungsi
lagi.
"Salah sendiri."membelai suri rambut Rachel
dan mengusap air mata wanitanya."Aku pergi
ingat jangan melakukan apapun."Jimin
mengarahkan telunjuknya ke kepala Rachel.
Jimin meninggalkan Rachel yang masih kesal
dengan perbuatannya.tidak ada penyesalan
sedikitpun dari pria itu karena seenaknya
saja membuang ponsel wanitanya.
"Selamat pagi tuan". Natan membungkuk dan
membukakan pintu mobil untuk Jimin.
"Natan belikan ponsel keluaran terbaru dan termahal untuk istriku."
"Memangnya ponsel nona muda kenapa
tuan?."tanya Natan penasaran karena jelas
malam itu tas dan ponsel istri tuannya itu
sudah di bawanya.
"Sudah tidak usah banyak tanya."
"is tuan saya hanya nanya."gumamnya.
"Kau bicara sesuatu?."tanya Jimin yang
mendengar Natan bergumam tidak jelas.
"Tuan hari ini ada meeting dengan perusahan
filan."Natan mengalihkan pembicaraan dan
hanya mendapat anggukan dari pria yang
suka mengaturnya itu.
*
*
Siang hari Rachel hanya bersedih mengingat
yang terjadi pada ponselnya.rasanya ingin
berteriak marah,menghajar,memakai pada
Jimin namun apalah daya rachel hanya
rakyat jelata yang tidak punya keberanian.
"ting.....nong....Ting....nong..."
Suara bel apartemen yang sejak tadi berbunyi
membuat Rachel harus bergerak dan melihat
"Selamat siang nona muda."ucap Natan
dengan wajah yang sulit diartikan, sejak tadi
dia berdiri kakinya terasa pegal.
"Natan."membukakan pintu lebih lebar lagi.
"Ini makan siang anda."menyerahkan paper
bag yang berisi makan siang kepada Rachel.
"Terimakasih banyak Natan." mengambilnya
dan langsung berbalik.
"Nona sebentar."memanggil Rachel yang sudah berbalik dan hendak menutup pintu.
"Ini."menyerahkan paper bag kecil pada Rachel."hadiah tuan untuk nona."
"Apa ini?."mengangkat paper bag kearah
Natan.
"Nona lihat saja sendiri.saya permisi."Natan membungkuk dan pergi meninggalkan Rachel yang masih berdiri.
"Apa ini."mulut Rachel terbuka lebar setelah
melihat isi dari paper bag ternyata berisi
ponsel mahal dan keluaran terbaru.
"Ponsel mahal?."membolak-balik ponsel
seolah tak percaya.
"Drt...drt...drt..."
ponsel ditangannya berbunyi."Suami
tampanku."Rachel mengerutkan keningnya
membaca nama si penelepon tertera di layar
ponsel.
"Masih marah."Suara seorang pria yang
sangat dikenalnya terdengar begitu ponsel
diangkatnya.
"Tuan."
"Ulangi ucapan kamu biar saya pulang buat
hukum kamu."suara Jimin meninggi begitu
Rachel menyebutnya tuan.
"Maaf... sayang ini maksudnya apa?kenapa
membeli ponsel baru?. antara senang dapat
ponsel mahal atau Takut dihukum lagi.
"Itu milikmu dan ingat tidak boleh ada nama
__ADS_1
pria lain di ponsel itu hanya ada nama
saya.mengerti!."nada Jimi penuh penekanan.
"sedang apa?. tanya Jimin nadanya sudah
lembut kembali.
"Hanya duduk."jawan Rachel singkat.
"Sudah mandi?."tanya Jimin kembali.
"Belum".balas Rachel jujur.
Setelah ucapan Rachel itu ponsel kini beralih
menjadi panggilan video call.
Rachel mengerutkan keningnya melihat
panggilan video call dari Jimin.
"Tuan kenapa mengalihkan jadi video
call?."tanya Rachel bingung dengan tingkah
Jimin.
"Sekarang kamu mandi dan bawa ponselnya juga."
"what."
mata Rachel sampai ingin keluar mendengar
permintaan Jimin yang tidak masuk
akal.bagaimana dia bisa mandi dengan tubuh
polos dan membiarkan Jimin melihat segala
aktivitasnya dikamar mandi."Ni orang gak
beres."dalam hatinya.
"Cepat jangan banyak alasan."Jimin terlihat
sibuk menandatangani sesuatu.
"Sayang pasti sibuk!saya matikan ponselnya
ya..!."Rachel dengan selembut mungkin agar
Jimin bisa mengurungkan ide gilanya itu.
"Berani menutup Vidio call saya,detik ini juga
saya pulang buat kasih kamu hukuman."dan
senyuman itu selalu membuat Rachel
bergidik ngeri.
"Haissss.. baiklah."Rachel dengan terpaksa
membiarkan video call mereka
tersambung . membiarkan Jimin melihat
segala aktivitasnya.rachel sudah tidak perduli
dengan keadaan Jimin yang sudah
menegang disana dan terlihat gelisah
menahan sesuatu.
Dengan santai Rachel berendam dan
mennyabuni seluruh tubuhnya membuat
gerakan yang membuat Jimin semakin
panas dingin bersamaan.
"Haissss... wanita idiot kenapa malah
menggodaku?."jimin mengusap wajahnya
dengan kasar, frustasi melihat gerakan
Rachel yang memicu gairahnya membuat
benda keramatnya berdiri tegak dan merasa
sesak dibawah sana."Awas saja kau
nanti."memberi ancaman pada Rachel.
Rachel sibuk dengan rutinitasnya dan tidak
perduli dengan ocehan Jimin."Siapa suruh
buat ide gila seperti ini."Rachel tersenyum
penuh kemenangan padahal dia tidak
memperlihatkan bagian intinya hanya bagian
paha saja Jimin sudah tidak waras.
Hingga acara mandi Rachel selesai wajah
Jimin tidak terlihat di Vidio entah kemana
pria mesum itu pergi Rachel tidak ambil
pusing dan langsung mematikan ponselnya.
Sedangkan Jimin yang sudah tidak kuat
dengan aksi istrinya dikamar mandi dia juga
bergegas kekamar mandi yang ada
diruangannya untuk menyelesaikan
pertarungannya dengan tangannya sendiri.
"Kenapa dia selalu menggodaku."gerutu Jimin
begitu aktivitas Solonya tuntas.padahal ide itu datang dari mulutnya sendiri dan sekarang
dia malah menuduh Rachel yang
menggodanya.
🤭🤭🤭🤭Jimin mah gitu 🤭🤭🤭
__ADS_1