
"Sudah merasa baikan?." tanya Jimin lembut
setelah beberapa menit memberi waktu pada
wanitanya agar lebih tenang."Sekarang jawab
jujur sudah berapa lama kau memasang alat
sialan itu?."tanya Jimin, mengurai pelukannya
mengulangi lagi pertanyaan yang selalu ingin
dia tanyakan.
"Sejak pertama kali kita melakukan itu."jawab
Rachel dengan nada pelan nyaris tak
terdengar sambil menggigit
bibir bawahnya. Sangat malu rasanya bila
kembali Mengingat pertama kali
beradegan panas dengan Jimin walau
keadaannya kala itu tidak sadar sepenuhnya.
"어머(Omo\=apa?)."kaget Jimin tak menyangka
kalau Rachel sudah memasang pertahanan
dirinya selama itu."Lalu sekarang hukuman
apa yang pantas kuberikan untukmu?."tanya
Jimin kesal namun ada terselip kelicikan
Jimin yang terpancar jelas diwajahnya.
"Hukuman apapun saya akan menerimanya
tuan."seru Rachel pasrah pada hukuman
apapun yang akan Jimin berikan padanya.
"Baik kalau begitu."Jimin mengusap-usap
dagunya berpura-pura memikirkan
sesuatu."Berhenti menggunakan bahasa
formal berbicara dengan ku.Mengenai
hukuman mu,kau hitung sendiri jumlah yang
harus kau bayar setiap malamnya."otak kotor
Jimin mulai bekerja dengan baik bila itu
tentang hukuman yang menjurus pada
pergulatan panas.
"Maksud anda?."tanya Rachel bingung
memikirkan cara menghitung hukumannya.
"Haissss...kau ini! coba kau hitung berapa
banyak bibit unggul yang ku keluarkan
terbuang sia-sia karena alat sialan yang ada
di tubuhmu ."tunjuk Jimin ke kotak kecil yang
dilemparnya pada Rachel dengan memasang
muka kesalnya.Jimin jelas kesal mengingat
perjuangannya untuk mengembangbiakkan
__ADS_1
bibit unggulnya tidak berjalan lancar karena
alat kontrasepsi yang Rachel gunakan
menghalangi bibit unggulnya berkembang.
"Lalu bagaimana mana cara
menghitungnya?."tanya Rachel dengan
polosnya.saking polosnya membuat Jimin
kembali ingin mengerjai Rachel.
"Tentu saja tak terhitung,itu artinya kau harus
membayarnya dengan waktu yang
cu...kup...la...ma...."jelas Jimin serius sambil
merentangkan kedua tangannya
menggambarkan hukuman Rachel yang
seakan tidak akan ada lunasnya.
"Cara membayarnya bagaimana?."dengan
polosnya Rachel bertanya kembali pada
Jimin.Sambil membayangkan hukuman yang
harus dijalaninya.
Ingin rasanya Jimin berteriak kegirangan
melihat kepolosan istrinya yang unik dan
sekaligus menggemaskan Dimata Jimin.
"Kau bisa mencicilnya setiap malam."goda
Jimin mengerlingkan sebelah matanya pada
rachel yang kini sudah bersemu merah
karena godaan Jimin.
Keduanya saling menatap dan saling
mengunci pandangan satu sama lain.ada
rasa bahagia yang tidak bisa Rachel
gambarkan saat ini begitu juga Jimin yang
tidak bisa mengalihkan pandangannya dari
sorot mata yang selalu menghiasi
hari-harinya.
"Saya siap menerima hukuman anda
tuan."ucap Rachel dengan suara setengah
berbisik tepat dihadapan Jimin.
"Idiot Kau berbicara formal lagi?kau manggil
ku tuan lagi?."kesal Jimin.bagaiman tidak
kesal saat dirinya sudah hampir terbawa
suasana romantis malah kacau mendengar
nada bicara formal Rachel padanya.
"Kau juga masih memanggil ku idiot."Memukul dada jimin Rachel dengan rasa kesal.
rachel juga secara spontan tidak memakai
__ADS_1
kata formal lagi pada jimin.jimin melongok
mendengar Rachel akhirnya bisa berbicara
santai padanya berbeda dengan Rachel yang
langsung menutup mulutnya ketika sadar
dirinya mengeluarkan kata yang kurang
sopan pada pria yang kini tersenyum lebar
kearahnya.
"차기아(chagia\=sayang)".panggil Jimin
dengan suara lembutnya sambil menarik
dagu Rachel mendekat kearah wajahnya."정말
사랑해 (jeong-mal-sa-rang-hae\=sungguh aku
mencintaimu)".Jimin menyatakan cintanya
pada Rachel lalu mencium bibir
wanitanya dengan penuh kelembutan.
"나도 사랑해요 (na-do-sarang-hae-yo\=aku juga
mencintaimu)."jawab Rachel lembut dan
malu-malu saat tautan bibir keduanya
terlepas.Wajah Rachel terasa panas
mendengar ungkapan cinta Jimin yang
terdengar begitu indah telinganya.Hatinya
seperti taman bunga yang bermekaran
karena sekarang dia tau isi hati Jimin pada
dirinya.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku
lagi aku sungguh tidak bisa jauh darimu 차기아\=sayang."ucap Jimin tersenyum bahagia
mendengar ungkapan kata cinta dari
wanitanya."Aku mencintaimu istriku."kembali
memeluk Rachel dengan dipenuhi rasa
bahagia.
Wanita yang selalu mampu membuat
tubuhnya panas dingin setiap
berdekatan.wanita yang mampu membuat
warna baru dalam hidupnya.sungguh Jimin
tidak ingin kehilangan Rachel karena itu bisa
membuatnya bisa gila.
"Apa ini masih sakit?."tanya Jimin sambil
menyentuh lembut lengan yang tertutup
perban kecil.
"아니(a-ni\=tidak)."jawabnya jujur, karena mang
Rachel tidak merasakan sakit sedikitpun
pada lengannya yang sudah tertempel
__ADS_1
perban kecil guna menutupi bekas sayatan.