
Natan membawa jeslin kearah lift namun
tangannya langsung dihempas jeslin dengan
kasar."Tidak perlu saya bisa pulang
sendiri."jeslin langsung masuk kedalam lift
dengan mata sembabnya.hatinya begitu
hancur dengan penolakan dari pria yang dulu
sangat mencintainya."Aku akan melakukan
apapun agar kita bisa seperti dulu lagi."tekad
jeslin sudah bulat walau dia harus
mempertaruhkan segalanya.
Sesudah jeslin keluar dari ruangannya Jimin
merasa kepalanya sangat pusing.jimin duduk
sambil memijat pangkal hidungnya entah
kenapa hari ini banyak masalah yang harus
dihadapi.
"Tuan anda baik-baik saja?."Natan yang baru
masuk melihat Jimin yang tertunduk di
kursinya.
"hmm apa dia sudah pulang?.Natan kau
atur ulang jadwal pertemuan hari ini."
rasanya tidak mungkin meneruskan
pekerjaannya sedangkan hatinya sangat
tidak bersemangat.
"Memangnya anda mau kemana?."Natan
mengerutkan keningnya menatap Jimin yang
mengambil jasnya.
"Saya mau pulang."Jimin menepuk bahu
Natan dengan keras."kamu cek ulang semua
berkas yang ada diatas meja saya."berlalu
meninggalkan Natan.
*
*
Begitu sampai rumah Jimin mendapati
Rachel yang sedang memasak.jimin berjalan
mengendap-endap kearah Rachel dan
langsung memeluk wanitanya dari belakang.
"Auw".
Rachel telonjak kaget begitu mendapat
pelukan dadakan dari seseorang, menoleh
kebelakang untuk melihat orang yang
memeluknya."Isss... sayang mengagetkan
saja."mengelus dadanya menatap Jimin
__ADS_1
penuh selidik karena pria itu sudah tiba
dirumah padahal ini masih jam kerja.
"Siapa yang mengijinkan mu masak? aku
sudah. bilang jangan melakukan
apapun."Jimin memencet hidung Rachel
gemas rasa lelah dan pusing yang
dirasakannya terbang begitu saja begitu
menghirup aroma strawberry dari tubuh
Rachel.
"Sayang saya rindu makanan ini."Rachel
memajukan bibirnya lalu melingkarkan
tangannya dileher Jimin.
"Kenapa tidak membelinya saja, aku tidak
ingin kau kelelahan ". mengecup bibir
wanitanya yang selalu menggodanya.jimin
tidak tau sejak kapan hatinya dipenuhi wanita
yang ada dihadapannya saat ini.
Senyum Rachel selalu berhasil
menghilangkan beban dihatinya bahkan
sejak memaksa wanitanya memanggil
dirinya dengan sebutan sayang hatinya
seperti bunga yang bermekaran.
"Sayang anda dengar saya tidak?."Rachel
Jimin karena pria itu hanya memandangnya
tanpa menanggapi ucapannya sejak tadi. jimin hanya tersenyum dan mengangguk
tanpa mengalihkan pandangannya.
"Anda kenapa?."tidak biasa Jimin pulang lebih
awal dan terlihat banyak pikiran."Apa anda
sakit!."Rachel meletakkan tangannya di
keningnya Jimin. memeriksa apakah Jimin
sedang sakit atau tidak.
"Aku baik-baik saja."Jimin memegang tangan
Rachel."Aku hanya lelah ".mematikan kompor
dan membawa Rachel menuju kamar.
"Anda mau apa?". pikiran kotor Rachel mulai
muncul melihat Jimin membawanya masuk
kedalam kamar mereka.
"Jangan pikir yang macam-macam ".
menyentil kening Rachel."aku hanya ingin
istirahat sebentar."merebahkan tubuhnya dan
menarik tubuh Rachel kedalam
pelukannya."Biarkan seperti ini saja".
__ADS_1
memejamkan matanya mencoba
mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Rachel membiarkan tubuhnya di dekapan
Jimin,begitu banyak pertanyaan yang ingin
dia tanyakan namun harus di pendam
mendengar suara napas Jimin yang teratur
menandakan pria itu tengah tertidur.
Setelah memastikan Jimin benar-benar
tertidur pulas.
Rachel mengangkat tangan Jimin perlahan
supaya pria tidak terusik.rachel kembali
kedapur melajutkan masakan yang sempat
tertunda.
Setelah menghabiskan waktu dua puluh
menitan masakan yang di buat akhirnya
selesai.rachel menatanya diatas meja dan
ingin segera mandi.begiti selesai mandi
Rachel membangunkan jimin untuk makan
malam.
"Makan apa ini?."merasa aneh dengan
makanan yang terhidang di meja makan.
"Ini namanya nasi goreng seafood". Rachel
mengisi piring Jimin dengan porsi
sedikit."Anda coba dulu."memberikan
sesendok ke mulut Jimin."Enak kan."tanya
Rachel begitu melihat Jimin menganggukkan
kepalanya.begiti seterusnya sampai Rachel
mengisi piring Jimin untuk kedua kalinya.
"Deddy tadi datang kekantor."Jimin
memutuskan untuk memberitahukan pada
Rachel tentang kedatangan Deddynya
disela-sela makan malam mereka.
"Kita pulang sekarang!."
Dengan cepat Jimin menggeleng, rasanya
tinggal di apartemen lebih menyenangkan
baginya."Besok saja, malam ini kita disini
dulu."
Rachel menuruti keinginan Jimin tanpa
banyak bicara.baginya setiap keputusan yang
diambil pastilah sudah Jimin pikiran terlebih
dahulu.Dia tidak bisa berharap lebih selagi
Jimin belum bisa mengungkapkan cinta
__ADS_1
pada Rachel dan selama itu pula Rachel
hanyalah orang lain di hidup Jimin