
Bahkan sampai pagi hari saat Jimin
terbangun dari tidurnya Rachel sudah tidak
ada disampingnya.sebenarnya dia ingin
bertanya pada Rachel apa yang membuatnya
diam seribu bahasa tapi setelah Jimin
menyelesaikan pekerjaannya Rachel sudah
tertidur dan Jimin tidak tega
membangunkannya dan berniat akan
bertanya esok paginya tapi nyatanya Rachel
sudah berangkat kerja lebih dulu tanpa
membangunkannya seperti biasa.
"Ajumma jam berapa istriku berangkat?."tanya
Jimin begitu sampai diruang
makan.sedangkan mommynya menatap
Jimin dengan wajah ketidaksukaan pada
sikap Jimin yang sudah berubah dan lebih
memperhatikan Rachel.
"Nona muda berangkat pukul tujuh pagi
tuan,nona bahkan tidak sarapan."terang
ajumma yang juga merasa ada sesuatu yang
terjadi.
"Jim.. sempatkan waktumu melihat keadaan
jeslin."mommynya mencoba mengalihkan
pembicaraan karena telinganya terasa panas
mendengar putranya menghawatirkan
Rachel.
"Mom jeslin tidak kenapa-kenapa,mom liat
sendiri kan!."tidak habis pikir mommynya
selalu memusingkan hal yang tidak
penting."Jimin pergi."beranjak dari duduknya
menghindari perdebatan dengan
mommynya.
Dimobil Jimin menghubungi Rachel namun
tidak diangkat sama sekali bahkan pesan
yang dikirimnya tak satupun dibalas wanita
itu.
"Haiiisss.. idiot kau menguji kesabaran
ku!."membentak foto Rachel yang dipajang
dilayar ponselnya."Natan kita ke cafe."Jimin
ingin memberikan hukuman pada Rachel.
"Tuan kita ada meeting pagi ini."seru Natan
mengingatkan Jimin dengan skedul hari ini.
"Yaaa...tunda saja."geram Jimin "Atau
batalkan sekalian."baginya bertemu dengan
Rachel dan bertanya kenapa wanitanya itu
mendiaminya padahal sebelumnya mereka
baik-baik saja.
"Tidak bisa tuan,kita sudah tiga kali
membatalkan pertemuan ini."tidak mungkin
Natan membatalkan pertemuan yang sudah
beberapa kali Jimin undur dengan alasan
__ADS_1
yang tidak jelas.
"Haaiisss..kau ini."Jimin mengusap kasar
wajahnya.keinginan menemui istrinya dan
menghukum sesuai keinginannya
gagal."Setelah ini aku akan buat perhitungan
dengan mu". ancamnya pada Natan karena
tidak bisa mengabulkan perintahnya.
Mendengar ancaman tuannya Natan hanya
bisa mengucapkan kata maaf dan
pasrah.mengingat Jimin manusia yang tidak
mau disalahkan dalam hal apapun.
Sepanjang hari Jimin menyelesaikan
pekerjaannya dan ingin memberikan kejutan
pada rachel.namun baru ingin memikirkan
cara menghukum wanita itu Natan sudah
lebih dulu datang dan mengatakan mereka
harus berangkat ke pulau Jeju siang ini.mau
tidak mau Jimin akhirnya berangkat ke pulau
Jeju bersama Natan.
*
*
Rachel memasuki rumah dengan wajah
muram.seharian ini dia hanya banyak diam
dan tidak bergairah melakukan pekerjaannya.
"Nona muda."sapa ajumma
membungkuk saat melihat Rachel yang baru
pulang."Kenapa dengan wajah nona
pipi Rachel untuk memastikan apa Rachel
sakit atau tidak.
"Kau sudah pulang."belum sempat menjawab
pertanyaan ajumma sebuah suara
menghentikan pembicaraan
keduanya.mommy alin yang kebetulan baru
sampai dirumah tak lama setelah Rachel
sampai.
"Mommy". Rachel menoleh mommy alin yang
berada dibelakangnya lalu membungkuk.rasa
canggung sebab baru kali ini mereka berdua
saling bertegur sapa sejak Jimin
membawanya ke apartemen.
"Saya mau bicara,ikut saya."seru mommy alin
seperti memerintah melewati Rachel dengan
memasang wajah angkuhnya.kini mommy
alin menggunakan bahasa formal saat
berbicara dengan Rachel sikapnya kini telah
berubah.
"Saya tidak ingin basa-basi."terang mommy
alin begitu mereka duduk diruangan khusus
yang terletak dilantai tiga."Perjanjian
saya tarik dan kamu bisa keluar dari rumah
ini sekarang juga."kata-kata mommy alin
__ADS_1
membuat Rachel tercengang." gak usah takut
kamu tetap dapat bayaran sebesar yang
tertera dalam surat perjanjian itu,dan
masalah tiket dan dokumen kamu Pak'ben
akan mengurusnya,jadi saya harap
secepatnya ku tinggalkan rumah ini". wajah
mommy alin menunjukkan ketidak sukanya
pada Rachel.
mommy alin langsung meninggalkan Rachel
begitu selesai berbicara.
Rasanya sudah saatnya mengusir Rachel dari
rumahnya setelah menunggu saat yang tepat
untuk berbicara dengan Rachel tanpa
jimin.kini waktu itu tiba ketika mommy alin
tau Jimin sedang berada di pulau Jeju untuk
beberapa hari mengurusi proyek hotel yang
sedang ada masalah.
Terang saja kesempatan itu tidak disia-siakan
mommy alin.Dia tidak ingin Rachel menjebak
putranya lebih dalam lagi.
Rachel belum beranjak dari tempat duduknya
tatapannya nampak kosong bahkan
airmatannya seolah tidak bisa keluar sama
sekali.hingga akhirnya dia tersadar suara
ponselnya.
"Nai___."ucapan Rachel terhenti."Bisa aku bisa
tinggal di tempat mu?."ucapannya kembali
setelah menarik napas yang dalam.
"Memang kenapa?,kalian bertengkar?."Naira
mendengar suara Rachel yang berat.Naira
menelepon Rachel untuk menanyakan
kenapa sahabatnya itu seharian ini nampak
murung tapi tidak sempat bertanya karena
kesibukan keduanya.
"Perjanjian ku sudah berakhir".tetes
airmatannya perlahan mulai mengalir."aku
tidak ada hak untuk tinggal lebih lama lagi
disini."Rachel menunduk mengusap
kepalanya sendiri.hatinya belum siap entah
kenapa hatinya begitu berat menerima
kenyataan kalau hari ini akan tiba juga.
"what".
"Datang lah, nanti kita bicara,tidak bagus
bicara melalui ponsel."tutur Naira yang
tiba-tiba memiliki pemikiran yang benar.naira
juga andil dalam masalah yang dihadapi
Rachel karena dirinyalah yang membuat
Rachel masuk dalam situasi ini.
Rachel mematikan ponselnya dan berjalan
menuju kamarnya untuk mengemasi
barang-barangnya.mengabaikan ponselnya
__ADS_1
yang berdering karena sudah tau siapa yang
menghubunginya.