
"Siapa juga yang mengotori pikiran
mereka."Shane tak habis pikir dengan istrinya
yang ingin tau rasanya making love."Kalau
kau lupa rasanya aku akan membantu mu
mengingat kembali."Shane mengerlingkan
matanya sambil menarik tangan Yuri.
"Kau mau apa?."menatap Shane dengan mata
yang membola."Ada anak kecil disini."melirik
kearah Naira dan Rachel.
"Tidak ada anak kecil disini, mereka sudah
dewasa."jawab Shane tidak mau kalah.
"Oppa... eonni... setidaknya hargai aku yang
jomlo ini."seru Naira memajukan bibirnya.
Ucapan Naira justru memicu ledak tawa dari
ketiganya.hanya Naira saja yang belum
merasakan nikmatnya surga dunia itu.
"Sayang pergilah kekantor mu ".usir Yuri pada
shane.yuri ingin berbicara sebagai sesama
wanita.
"Sayang kenapa malah mengusirku".seru
Shane tidak suka.
"Kau lihat ini jam berapa?". menunjukkan jam
yang ada dipergelangan tangannya."sayang
bilang ada meeting kan?".Yuri mengingatkan
shane, akhirnya Shane beranjak dari
duduknya karena memang ada meeting pagi ini.
Sementara di ruangannya Jimin tiba-tiba
uring-uringan karna sejak tadi Rachel tidak
membalas pesannya.
"Natan apa masih ada meeting setelah
ini?."tanya Jimin setelah susah payah fokus
dengan meeting sekaligus makan siang di
hotel red garden miliknya.
"Sepertinya tidak ada tuan."seru Natan setelah
mencek ulang jadwal Jimin di layar iPad.
"Kalau begitu kita ke cafe tempat kerja
istriku". perintahnya pada Natan."sebelum itu
kita mampir ke toko pakaian dulu."Jimin
sudah menyusun rencana di otak kotornya.
"Untuk apa tuan?."tanya Natan bingung bukan
karena tuannya ingin ke cafe tempat istrinya
bekerja tapi bingung untuk apa Jimin
meminta pergi ke toko pakaian.
"Kamu mau mengumpulkan wartawan di cafe
itu lagi dan membuat tempat itu dipenuhi
lautan manusia?."mengingat kejadian waktu
itu, kedatangan Jimin ke cafe membuat
keramaian layaknya seperti konser BTS saja.🤭🤭🤭
Setelah berganti dengan pakaian yang lebih
santai lengkap dengan topi dan masker
berwarna hitam, membuat penampilan Jimin
dan Natan tidak dapat dikenali.
"Kenapa kau seperti perampok."ejek Jimin
tertawa geli melihat penampilan Natan
menggunakan pakaian serba hitam.
"is...tuan ini,dia yang menyuruh ku pakai baju
ini."kesal Natan tapi hanya dalam hati."Tuan
juga seperti sedang melayat ."ejek Natan tak
kalah sadis dan membuat dia mendapat
__ADS_1
tatapan maut dari Jimin.
"Berani sekali kau mengejekku."Jimin
menendang pantat natan.kesal karena
outfitnya disamakan seperti orang yang
hendak kerumah duka."Ayo cepat."Jimin
berjalan menyenggol bahu Natan yang masih mengusap pantatnya yang sakit.
Begitu mobil mereka berhenti keduanya
keluar dan memasuki cafe dan tidak satu
orangpun yang mengenali mereka itu artinya
penyamaran mereka sempurna.
"Selamat siang, ingin pesan apa?."tanya
Rachel ketika kedua pria bermasker itu
duduk disudut cafe.
Keduanya saling melirik dan menunjuk apa
yang ingin mereka pesan tanpa
mengeluarkan suara.rachel mengerutkan
keningnya sambil mencatat semua
pesanan keduanya dan berlalu."Apa mereka berdua bisu?."batinnya.
"Apa wajahku sangat buruk sampai-sampai
istri ku itu tidak mengenaliku."kesal Jimin
melihat Rachel bersikap biasa saja.
"ck...tuan anda sedang pakai
masker,topi,jaket."Natan menunjuk semua
yang disebutkannya ditubuh Jimin."Mana
mungkin nona muda mengenali saya dan
anda."jawab Natan geli dengan ucapan tuanya itu.
"Manusia jenius seperti anda ternyata bisa bodoh juga."Natan
mengulum senyumnya.
"Kau menertawakan ku?."sentak Jimin melihat
Natan menutup mulutnya."Seminggu ini jam
membuat Natan ciut. bagaimana tidak ciut
selama seminggu dia tidak bisa bertempur
diatas ranjang bersama para
wanitanya.melihat reaksi Natan ketakutan
Jimin tertawa penuh kemenangan.
Begitu Rachel membawa pesanan mereka
Jimin langsung melancarkan aksinya."Boleh
tolong antara saya ketoilet soalnya ini kali
pertama saya kesini."Jimin mengubah
suaranya agar Rachel tidak mengenalinya.
"Baik,mari saya tunjukkan toilet pria."tanpa
rasa curiga Rachel menunduk dan
melangkah di ikuti Jimin berjalan mengikuti
dari belakang.
Beruntung sekali toilet nampak sepi tidak ada
orang yang lalu lalang.dengan cepat Jimin
menarik tangan Rachel dan membawanya
kesudut tembok.
"Jangan kurang ajar."bentak Rachel dan
berusaha berontak kaget dengan ulah pria
yang membuat dirinya terhimpit.
"Siapa suruh tidak membalas pesanku."Jimin
membuka topi dan masker yang
dikenakan."satu lagi,kenapa mengabaikan
panggilan ku tadi pagi?.menutup mulut
Rachel dengan jarinya ketika melihat Rachel
hendak berbicara.
"Anu__sa__."ucapannya terhenti ketika
sesuatu yang basah dan lembut menyentuh
__ADS_1
bibirnya.jimin mengulum bibir bawah Rachel
dengan lembut, Rachel yang terkejut dengan
serangan Jimin yang tiba-tiba membuat
matanya membulat sempurna.
"Gara-gara ulahmu aku harus menyamar
seperti ini."serunya sambil memperlihatkan
baju yang dia kenakan.jimin kurang nyaman dan tidak terbiasa dengan apa yang dia pakai saat ini.
Rachel melihat Jimin dari atas kepala sampai
kebawah.rachel tidak tertawa malah dia
terlihat senang melihat penampilan baru dari
seorang Kim Jimin Adalberto yang selalu
berpakaian rapi, mahal dan modis sedangkan
yang berdiri dihadapannya saat ini adalah pria
yang sama tapi dengan gaya yang
sederhana.
"Kenapa diam,kau sedang
mengejekku?."tanya Jimin melihat Rachel
yang terus memandanginya."kenapa diam
saja."Jimin mengulangi pertanyaannya.rachel
hanya menggeleng tanpa mengalihkan
pandangannya.
"Tuan sangat tampan."ucapannya tanpa
sadar.sungguh dia tidak menyangka jika Jimin sangat tampan walau hanya mengenakan busana yang sederhana.
"Kau memanggilku tuan lagi."Jimin menjitak
kepala Rachel pelan dan itu berhasil
membuat Rachel tersadar."Benarkah aku tampan mengenakan baju seperti ini?."tanya Jimin dan mendapat anggukan dari Rachel."Kalau begitu aku akan selalu
berpakaian seperti ini saja."seru jimin seraya
tersenyum bangga karena wanitanya memuji
ketampanannya.
"Bukan seperti itu maksudnya."ucap
Rachel berbisik.Ada rasa takut jika seseorang melihat mereka.
"Bicara yang jelas,kau mau seperti apa?."Jimin menggoda Rachel
dengan senyuman mautnya.melihat
senyuman Jimin yang begitu menggoda
membuat jantung Rachel dalam kondisi kritis
dan nyaris tidak berdetak.
"Sayang kenapa kemari?, cepat pergi nanti
ada orang yang lihat."Rachel yang tersadar
mereka ada dimana langsung mendorong
tubuh Mengalihkan pembicaraan.Rasanya tidak kuat melihat senyuman manis Jimin yang selalu membuatnya tidak aman.
"Baiklah tapi ini!."Jimin menunjuk
bibirnya.Dengan cepat Rachel
menggelengkan kepalanya.bagaimana bisa
dia berciuman ditempat umum seperti ini."Dasar siotak kotor."cibir Rachel dalam hati.
"Kalau tidak mau aku akan menculik
mu."ancam Jimin berbisik ditelinga Rachel dan tidak ada pilihan.
Tanpa menunggu lama Rachel mencium bibir
Jimin niat hati hanya kecupan namun apalah
daya Jimin sudah memegang tengkuk
lehernya dan membuat kecupan berubah
menjadi ciuman yang menuntut.
"Nanti ku jemput."seru Jimin setelah
melepaskan pagutannya dan mengusap
bibir wanitanya yang bengkak akibat
ulahnya.Berjalan melewati Rachel agar tidak
ada yang curiga.tanpa mereka sadari
sepasang mata tidak berkedip sedikitpun
melihat aksi mereka mulai dari awal sampai
keduanya meninggalkan tempat.
__ADS_1