
"Kau sudah bangun?".
Suara lembut seorang pria menyadarkan
Rachel dari kebingungannya.
Sejak membuka matanya Rachel begitu
terkejut sekaligus bingung kenapa dia ada
dikamar jimin.Seingatnya dia pingsan di
apartemen setelah melihat darah.
"Tuan kenapa s___."
"Berani sekali kau memanggilku tuan."seru
Jimin memotong ucapan Rachel."Apa kau
mau aku hukum sepagi ini?."Jimin yang baru
selesai mandi mendekat keranjang dimana
Rachel terbaring dengan wajah yang masih
bingung.
"Anda mau apa?." mata Rachel melotot
Melihat Jimin mendekat
buru-buru Rachel duduk bersandar di
headboard .pandangan matanya tertuju pada
dada bidang Jimin yang terekspos karena
Jimin hanya melilitkan handuk di pinggang.
Dengan susah payah dia menelan Salivanya
melihat buliran air yang masih tersisa
membasahi dada putih pria itu.rachel susah
payah berusaha menyembunyikan rasa malu
dengan cara mengalihkan pandangannya
kearah lain.Melihat pemandangan indah
dihadapannya yang selalu mendebarkan
jantungnya.Begitulah Rachel, imannya yang
dangkal selalu kalah dengan godaan tubuh
Jimin yang sangat gagah.
"Melihat dadaku saja air liurmu sudah
menetes."goda Jimin, melihat wajah Rachel
sudah bersemu merah menahan malu.
Duduk mendekat kearah Rachel mengikis
jarak diantara mereka.
Jimin suka melihat rasa malu-malu istrinya
walau sudah beberapa kali bertempur panas
dengannya tapi tetep saja wanitanya itu
masih ada rasa malu saat berhadapan
dengannya."Aku akan menghukum mu,itu
sudah pasti.tapi untuk saat ini kau
kulepaskan, berhubung tubuhmu yang kecil
dan kurus itu perlu lebih banyak tenaga untuk
melawan ku nanti."ucap Jimin tepat
dihadapan Rachel dan mengerlingkan sebelah matanya menggoda wanitanya.
Hal itu semakin membuat pipi Rachel
seperti tomat rebus .bagaimana tidak?, saat
pria tampan dihadapannya kini semakin
mendekatkan wajahnya ke arah Rachel.
Jantungnya seperti ingin melompat dari
tempatnya sungguh saat ini Rachel ingin
menghilang dari hadapan Jimin.
"Kenapa saya bisa ada disini?."tanyanya
kembali setelah Rachel teringat dirinya yang
terbangun dikamar Jimin.Berusaha mengalihkan pikiran kotornya yang hampir saja membuat tubuhnya membalas sentuhan
Jimin dibibirnya.
Tapi bukannya menjawab Jimin malah
__ADS_1
membawa Rachel kedalam
pelukannya."Mulai sekarang jangan ikuti
perintah siapapun.cukup dengarkan
aku."seraya membelai Surai rambut Rachel.
"Tuan saya susah bernafas."
"Haissss kau ini."Jimin melepaskan
pelukannya.Baru saja ingin melepas rasa
rindunya dengan memeluk wanitanya. rachel
malah tidak bisa diam dalam pelukannya dan
terus bergerak seperti cacing kepanasan
dengan alasan tidak masuk akal.
Sedangkan Rachel Masih ada rasa takut dan
ragu dihatinya kala
status atau lebih tepatnya kasta yang ada
padanya sangat tidak sepadan dengan
Jimin ,sama seperti yang pernah mommy
alin dan jeslin ucapan padanya jika langit dan
bumi tidak akan bisa untuk bersatu.
Sebenarnya Rachel sangat ingin tetap diam
dalam pelukan Jimin merasakan hangat dan
nyamannya pelukan pria itu tapi dia takut
hatinya ikut terlibat lebih dalam.
"Maaf."ucapnya lirih menahan rasa sesak
yang tiba-tiba menghantam dadanya.
"Sudahlah."ketus Jimin masih
kesal."Istirahatlah ajumma akan membawa
makanan kesini jadi jangan coba-coba untuk
lari lagi, tidak perduli siapapun yang
menyuruhmu."Jimin kembali mengeluarkan
Rachel.
Jimin sudah menugaskan dua orang
bodyguard berjaga diluar dan mata-mata dan
jangan lupa cctv yang terpasang disetiap
sudut ruangan kamar tanpa sepengetahuan
Rachel.Jadi apapun aktivitas Rachel didalam
kamar Akan bisa Jimin lihat melalui layar
ponselnya.
Jimin tidak ingin kejadian Tiga hari yang lalu
terulang karena kelalaiannya mengawasi
istrinya.
"Hmm."angguk Rachel dengan senyuman
mautnya yang berhasil membuat Jimin
terkekeh."Naira... bagaimana keadaannya?."
gumamnya Rachel celingak-celinguk mencari
ponselnya."Kenapa aku melupakan anak
itu!."batinnya.
"Tidak usah khawatir dia sudah
dirawat."jawab Jimin sambil mengenakan
baju kerjanya.
Mendengar perkataan Jimin Rachel bisa
tenang.Naira terluka karena melindungi
dirinya.
"Apa wanita itu mencelakai mu? kenapa dia
bisa terluka?."
"Tidak."jawab Rachel cepat."Naira terluka
karna menyelamatkan saya". jawabnya jujur
karena memang itulah kenyataannya.
__ADS_1
"Benarkah?ya sudah nanti aku akan
mengabari keadaannya."Jimin memang
berniat melihat keadaan Naira dan
menanyakan kejadian sebenarnya.Bukan dia
tidak percaya dengan Rachel,tapi lebih
tepatnya Jimin ingin Rachel memulihkan
tubuhnya."Makanlah yang banyak, minta
ajumma membuatkan makanan yang kau
suka".seru Jimin yang sudah rapi.
Jimin mengecup kening Rachel dan
menyerahkan ponsel miliknya yang Jimin
simpan sejak tadi malam sebelum dia
berangkat kerja.
Rachel diam terpaku dan memegangi kening
bekas kecupan Jimin.Bahkan ajumma yang
sudah dari tadi menyapanya tidak di sadari
sampai akhirnya ajumma menyentuh
pundaknya.
"Ajumma". Rachel tersentak melihat ajumma
yang sudah ada didalam kamar dengan
nampan ditangannya yang berisi makanan.
"Nona muda ingin ajumma masakin
apa?."tanya ajumma membuyarkan lamunan
Rachel. sambil tersenyum melihat raut wajah
Rachel yang terkejut namun bingung di detik
berikutnya ."Ini sarapan nona muda,tuan
Jimin bilang makanan apapun yang nona
inginkan ajumma akan berusaha
membuatnya."jelas ajumma yang mengerti
dengan kebingungan Rachel.
"Tidak ada, itu sudah cukup."ucap Rachel
seraya berjalan kearah meja tempat makanan
yang ajumma letakkan.Rachel mengusap
perutnya melihat makanan yang begitu
menyelarakan.
Tanpa menunggu lebih lama Rachel langsung
duduk dan segera menyantap makanan
dihapanya.
"Nona makanya jangan buru-buru nanti
tersedak."pesan ajumma melihat Rachel yang
melahap makanannya seperti orang yang
tidak pernah makan.
Benar saja baru berapa suapan Rachel Sudak
terbatuk-batuk dan memukul-mukul
dadanya.Ajumma dengan sigap
menyodorkan air minum dan Rachel
meneguknya sampai tak tersisa.
"Makasi ajumma."
Ajumma merasa sangat senang melihat Rachel sudah kembali kerumah."Nona jangan pergi lagi kasian tuan Jimin."ucap ajumma setelah melihat Rachel sudah menandaskan makanannya.
Rachel tak lantas menjawabnya dia lebih
memilih diam dan hanya mengangguk. Rasa
kantuknya datang setelah melahap makanan
dan kini perutnya sudah terisi penuh.
"Ya sudah nona lanjut istirahat saja."ajumma
menyuruh Rachel kembali ketempat tidur
sementara ajumma kembali kedapur
melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1