Jodoh Beda Kasta

Jodoh Beda Kasta
ep58.


__ADS_3

"Kau sudah bangun?".


Suara lembut seorang pria menyadarkan


Rachel dari kebingungannya.


Sejak membuka matanya Rachel begitu


terkejut sekaligus bingung kenapa dia ada


dikamar jimin.Seingatnya dia pingsan di


apartemen setelah melihat darah.


"Tuan kenapa s___."


"Berani sekali kau memanggilku tuan."seru


Jimin memotong ucapan Rachel."Apa kau


mau aku hukum sepagi ini?."Jimin yang baru


selesai mandi mendekat keranjang dimana


Rachel terbaring dengan wajah yang masih


bingung.


"Anda mau apa?." mata Rachel melotot


Melihat Jimin mendekat


buru-buru Rachel duduk bersandar di


headboard .pandangan matanya tertuju pada


dada bidang Jimin yang terekspos karena


Jimin hanya melilitkan handuk di pinggang.


Dengan susah payah dia menelan Salivanya


melihat buliran air yang masih tersisa


membasahi dada putih pria itu.rachel susah


payah berusaha menyembunyikan rasa malu


dengan cara mengalihkan pandangannya


kearah lain.Melihat pemandangan indah


dihadapannya yang selalu mendebarkan


jantungnya.Begitulah Rachel, imannya yang


dangkal selalu kalah dengan godaan tubuh


Jimin yang sangat gagah.


"Melihat dadaku saja air liurmu sudah


menetes."goda Jimin, melihat wajah Rachel


sudah bersemu merah menahan malu.


Duduk mendekat kearah Rachel mengikis


jarak diantara mereka.


Jimin suka melihat rasa malu-malu istrinya


walau sudah beberapa kali bertempur panas


dengannya tapi tetep saja wanitanya itu


masih ada rasa malu saat berhadapan


dengannya."Aku akan menghukum mu,itu


sudah pasti.tapi untuk saat ini kau


kulepaskan, berhubung tubuhmu yang kecil


dan kurus itu perlu lebih banyak tenaga untuk


melawan ku nanti."ucap Jimin tepat


dihadapan Rachel dan mengerlingkan sebelah matanya menggoda wanitanya.


Hal itu semakin membuat pipi Rachel


seperti tomat rebus .bagaimana tidak?, saat


pria tampan dihadapannya kini semakin


mendekatkan wajahnya ke arah Rachel.


Jantungnya seperti ingin melompat dari


tempatnya sungguh saat ini Rachel ingin


menghilang dari hadapan Jimin.


"Kenapa saya bisa ada disini?."tanyanya


kembali setelah Rachel teringat dirinya yang


terbangun dikamar Jimin.Berusaha mengalihkan pikiran kotornya yang hampir saja membuat tubuhnya membalas sentuhan


Jimin dibibirnya.


Tapi bukannya menjawab Jimin malah

__ADS_1


membawa Rachel kedalam


pelukannya."Mulai sekarang jangan ikuti


perintah siapapun.cukup dengarkan


aku."seraya membelai Surai rambut Rachel.


"Tuan saya susah bernafas."


"Haissss kau ini."Jimin melepaskan


pelukannya.Baru saja ingin melepas rasa


rindunya dengan memeluk wanitanya. rachel


malah tidak bisa diam dalam pelukannya dan


terus bergerak seperti cacing kepanasan


dengan alasan tidak masuk akal.


Sedangkan Rachel Masih ada rasa takut dan


ragu dihatinya kala


status atau lebih tepatnya kasta yang ada


padanya sangat tidak sepadan dengan


Jimin ,sama seperti yang pernah mommy


alin dan jeslin ucapan padanya jika langit dan


bumi tidak akan bisa untuk bersatu.


Sebenarnya Rachel sangat ingin tetap diam


dalam pelukan Jimin merasakan hangat dan


nyamannya pelukan pria itu tapi dia takut


hatinya ikut terlibat lebih dalam.


"Maaf."ucapnya lirih menahan rasa sesak


yang tiba-tiba menghantam dadanya.


"Sudahlah."ketus Jimin masih


kesal."Istirahatlah ajumma akan membawa


makanan kesini jadi jangan coba-coba untuk


lari lagi, tidak perduli siapapun yang


menyuruhmu."Jimin kembali mengeluarkan


Rachel.


Jimin sudah menugaskan dua orang


bodyguard berjaga diluar dan mata-mata dan


jangan lupa cctv yang terpasang disetiap


sudut ruangan kamar tanpa sepengetahuan


Rachel.Jadi apapun aktivitas Rachel didalam


kamar Akan bisa Jimin lihat melalui layar


ponselnya.


Jimin tidak ingin kejadian Tiga hari yang lalu


terulang karena kelalaiannya mengawasi


istrinya.


"Hmm."angguk Rachel dengan senyuman


mautnya yang berhasil membuat Jimin


terkekeh."Naira... bagaimana keadaannya?."


gumamnya Rachel celingak-celinguk mencari


ponselnya."Kenapa aku melupakan anak


itu!."batinnya.


"Tidak usah khawatir dia sudah


dirawat."jawab Jimin sambil mengenakan


baju kerjanya.


Mendengar perkataan Jimin Rachel bisa


tenang.Naira terluka karena melindungi


dirinya.


"Apa wanita itu mencelakai mu? kenapa dia


bisa terluka?."


"Tidak."jawab Rachel cepat."Naira terluka


karna menyelamatkan saya". jawabnya jujur


karena memang itulah kenyataannya.

__ADS_1


"Benarkah?ya sudah nanti aku akan


mengabari keadaannya."Jimin memang


berniat melihat keadaan Naira dan


menanyakan kejadian sebenarnya.Bukan dia


tidak percaya dengan Rachel,tapi lebih


tepatnya Jimin ingin Rachel memulihkan


tubuhnya."Makanlah yang banyak, minta


ajumma membuatkan makanan yang kau


suka".seru Jimin yang sudah rapi.


Jimin mengecup kening Rachel dan


menyerahkan ponsel miliknya yang Jimin


simpan sejak tadi malam sebelum dia


berangkat kerja.


Rachel diam terpaku dan memegangi kening


bekas kecupan Jimin.Bahkan ajumma yang


sudah dari tadi menyapanya tidak di sadari


sampai akhirnya ajumma menyentuh


pundaknya.


"Ajumma". Rachel tersentak melihat ajumma


yang sudah ada didalam kamar dengan


nampan ditangannya yang berisi makanan.


"Nona muda ingin ajumma masakin


apa?."tanya ajumma membuyarkan lamunan


Rachel. sambil tersenyum melihat raut wajah


Rachel yang terkejut namun bingung di detik


berikutnya ."Ini sarapan nona muda,tuan


Jimin bilang makanan apapun yang nona


inginkan ajumma akan berusaha


membuatnya."jelas ajumma yang mengerti


dengan kebingungan Rachel.


"Tidak ada, itu sudah cukup."ucap Rachel


seraya berjalan kearah meja tempat makanan


yang ajumma letakkan.Rachel mengusap


perutnya melihat makanan yang begitu


menyelarakan.


Tanpa menunggu lebih lama Rachel langsung


duduk dan segera menyantap makanan


dihapanya.


"Nona makanya jangan buru-buru nanti


tersedak."pesan ajumma melihat Rachel yang


melahap makanannya seperti orang yang


tidak pernah makan.


Benar saja baru berapa suapan Rachel Sudak


terbatuk-batuk dan memukul-mukul


dadanya.Ajumma dengan sigap


menyodorkan air minum dan Rachel


meneguknya sampai tak tersisa.


"Makasi ajumma."


Ajumma merasa sangat senang melihat Rachel sudah kembali kerumah."Nona jangan pergi lagi kasian tuan Jimin."ucap ajumma setelah melihat Rachel sudah menandaskan makanannya.


Rachel tak lantas menjawabnya dia lebih


memilih diam dan hanya mengangguk. Rasa


kantuknya datang setelah melahap makanan


dan kini perutnya sudah terisi penuh.


"Ya sudah nona lanjut istirahat saja."ajumma


menyuruh Rachel kembali ketempat tidur


sementara ajumma kembali kedapur


melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2