
Jimin berlari begitu melihat sebuah mobil
memasuki gerbang rumahnya.Tanpa
menunggu para bodyguard keluar dari dalam
mobil Jimin sudah lebih dulu membuka pintu
mobil dan menggendong tubuh istrinya yang
masih dalam keadaan pingsan.
Begitu sampai dikamar Jimin membaringkan
tubuh Rachel keatas ranjang dengan
hati-hati.
"Apa yang terjadi?."Michael tiba dikamar Jimin
tepat waktu sebelum Jimin hilang kewarasan
karena sifat molor waktu sepupunya itu.
Jimin langsung menoleh sumber suara yang
cukup hapal ditelinga."Bagus kau datang
cepat hampir saja aku ingin memotong habis
senjata andalan mu itu". tersenyum miring
pada Michael yang sudah berdiri
dihadapannya."Cepat periksa keadaan istri
ku."sentak Jimin yang melihat Michael hanya
memandangi Rachel.
"Is kau ini,aku sedang memeriksanya."
"Kau bukan sedang memeriksa istri
ku,kau hanya memandanginya."kesal Jimin.
Michael mengeluarkan stetoskop dan
memulai memeriksa Rachel seperti
keinginan sepupu arogannya itu.Tapi begitu
Michael mulai meletakkan stetoskop di dada
Rachel tangannya sudah ditepis dengan
kasar.
"Jangan kurang ajar Michael".memberi sorot
tajam pada michael.ya Jimin begitu marah
melihat Michael menyentuh miliknya walau
lebih tepatnya Michael ingin memeriksa
keadaan Rachel dan bukan menyentuhnya.
"Kalau begitu kau saja yang
periksa."melemparkan alat stetoskop kearah
Jimin.Michael geram dengan sifat protektif
berlebihan Jimin pada wanitanya."Bagai mana
bisa memeriksa pasien kalau dia tidak
menyentuhnya,dasar aneh."cibirnya dalam hati.
"Begini saja."Jimin mengambil ujung
stetoskop dan meletakkannya di dada
Rachel."Ayo lakukan tugasmu tanpa harus
__ADS_1
menyentuh tubuh wanitaku."meletakkan tepat didada Rachel.
"ck..ck aku kasihan padanya mendapatkan
pria sepertimu."ucap Michael sinis."Coba
saja waktu itu aku ya____."
"Michael."Jimin memotong ucapan Michael
dan menghunus tatapan tajam kearah
Michael."Hentikan omong kosong mu kalau
kau tidak ingin cepat ke surga".
Michael dengan kasar menarik alat stetoskop
dan meletakkannya kedalam kedua
telinganya lalu memulai memeriksa Rachel
seperti keinginan jimin.ya Jimin yang akan
meletakkan ketubuh Rachel sesuai arahan
Michael dimana akan diletakkan.
"Yasudah letakkan alatnya disitu".tunjuk
Michael."Aku bilang disitu kenapa kau malah
meletakkannya kearah yang salah".baru awal
mereka sudah ribut dan saling menyalahkan.
Pada akhirnya pemeriksaanpun selesai
dengan segala drama antara kedua sepupu
itu.Dimana Michael yang hampir habis
kesabaran karena letak alat periksa tidak
tepat.Begitu juga dengan Jimin yang tidak
alat yang dipegangnya.
"Sepertinya dia tidak makan, karena itu badan
sangat lemah."Michael sibuk mencoret
kertas menulis sesuatu sambil berbicara.
"Berani sekali dia membiarkan istri ku
kelaparan."geram Jimin."Natan biarkan
wanita itu mati dirumah sakit tanpa
perawatan."
Natan yang dari tadi sudah tiba dikamar Jimin
dan menyaksikan pertengkaran kedua pria itu
namun itu sudah menjadi rahasia umum jika
keduanya bertemu maka akan ada perang
dunia entah yang keberapa. setelah
melakukan membicarakan sesuatu hal
penting dengan para bodyguard yang
dibentuknya khusus untuk melindungi
Rachel kedepannya.
"Kau dengar tidak?."seru Jimin karena Natan
tidak merespon ucapannya dan hanya diam
seperti patung Pancoran.
__ADS_1
"Tuan rasanya tidak mungkin jika nona muda
tidak diberi makan, bukankah wanita itu
sahabat nona muda sendiri? akan lebih baik
jika bertanya langsung saat nona muda
sudah sadar."jelas Natan panjang lebar.
"is kau ini."melayangkan pukulan kearah
Natan meski Jimin tau betul jarak antara
dirinya dan asisten pribadinya berjarak
beberapa meter.
Melihat kelakuan keduanya membuat Michael
tertawa dan sudah pasti kedua pria
dihadapannya menatapnya dengan
tajam.namun Michael tidak takut sedikitpun
dan semakin membuatnya tidak bisa
menahan tawanya.
"Michael...tuan Michael". ucap keduanya
bersamaan.
"Sudah selesai". menyerahkan selembar
kertas pada Jimin."Siapkan kamar untukku".
Michael berbicara dengan
santainya.Melewati dua pria yang masih
menatapnya dengan tajam.
"Untuk apa kau tidur disini?apa apartemen
mu lagi kebanjiran?."ledek Jimin pada
sepupu laknatnya itu.
"Apa kau buta?."Michael mengarahkan
pandangannya kearah infus yang tergantung
didekat Rachel."Atau kau juga ingin
mencabutnya sendiri?."sindir Michael dengan
terkekeh puas melihat raut wajah kesal. Michael menjulurkan lidahnya kearah Jimin rasanya sangat puas bisa membalas Jimin tanpa perlawanan.
"Kau".tunjuk Jimin dengan jari telunjuknya
kearah Michael namun bukanya takut
Michael malah dengan sengaja memukul jari
telunjuk Jimin dan alhasil perbuatannya itu
membuat Jimin semakin kesal.Begitulah bila
mereka sudah bertemu akan ada
percekcokan yang tidak penting. siapa saja
yang melihatnya ketakutan akan ada adu otot
antara keduanya tapi hal itu tidak pernah
terjadi.
Keduanya bisa seperti dua sepupu yang
saling menyayangi dan kadang juga seperti
musuh bebuyutan yang tidak kenal kata
__ADS_1
damai.