
Awan memarkirkan mobilnya di depan hotel itu. Dana hanya menghela nafas berat karena ia tak bisa melakukan apapun dengan kondisinya sekarang.
"Kamu tunggu disini, biar aku tanya kamar kosong dulu." kata Awan pada perempuan itu. Ia bergegas turun dari mobil dan merlari kecil menuju resepsionis. Suasana saat itu sedikit gerimis. Dana melihat ke sekeliling hotel itu.
Dilihatnya cukup banyak mobil terparkir di samping mobil Awan, menandakan jika banyak tamu yang menginap di dalam.
Awan bertanya di resepsionis.
"Mba, ada kamar kosong?" katanya pada staff di hotel itu.
"Ada kak, tapi mohon maaf untuk kamarnya tinggal 1 untuk yang single room. Untuk kamar lainnya adanya jenis Suite kak."
Staff resepsionis mencoba menerangkan kepada Awan. Awan tanpa pikir panjang mengambil kamar yang tersisa. Ia tak mau banyak berfikir mengingat kondisi Dana yang sudah seperti itu.
Awan lalu kembali ke mobil setelah mengambil kunci kamar.
"Yok turun? kamarnya tinggal 1 yang murah, lainnya dah penuh. Tinggal yg mahal." Kata Awan yang masih sibuk membereskan barang-barangnya. Ia membawa sarung dan koper milik Dana.
"Jadi pesan 1 kamar?" kata Dana sedikit kaget.
"Kamu mau bayar 5 Juta 1 malam?" kata Awan menatap perempuan itu. Dana tak punya tenaga untuk berdebat dengannya. Ia lalu menuruti ucapan Awan.
Dana yang tak sanggup untuk berdiripun terpaksa di gendong oleh Awan. Mereka melewati pintu samping agar tak banyak terlihat oleh orang di sana. Model hotel tersebut cukup unik karena berbentuk seperti resort dengan bermacam model kamar di dalamnya. Ada beberapa pondok kamar di beberapa tempat. Hotel ini bagaikan resort di tengah jalan tol.
Awan menurunkan perempuan itu tepat di depan pintu kamar.
Dana sangat canggung karena sedari tadi sudah 2 kali ia di gendong oleh Awan. Tubuhnya yang cukup mungil mungkin bukan masalah untuk laki-laki itu. Tapi, ia tetap merasa tak enak hati karena terus merepotkan laki-laki itu.
Mereka berdua memasukki kamar itu. Hanya ada 1 bed berukuran sedang di tengah kamar. Awan mulai meletakan barang-barangnya di atas meja. Dana masih memandang tempat tidur itu sedari tadi. Pikirannya terus melayang memikirkan bagaimana caranya ia tidur jika hanya ada 2 orang di dalam kamar ini. Ia tak akan tidur dengan tenang jika mengingat hal tersebut.
"Kamu gak pesan extra bed?" Tanya Dana spontan.
"Aku tidur di kursi saja." Kata Awan dengan tenang.
"Kamu sadar nggak sih kita bukan mukhrim?" Dana berbalik menatap Awan yang ada di belakangnya. Awan hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan dari perempuan yang masih berdiri di depannya.
__ADS_1
"Kenapa? takut aku macam-macam?" Dana mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Awan. Adek kelasnya itu memasang muka serius sehingga membuatnya sedikit canggung. Awan melangkah maju mendekati perempuan itu. Refleks Dana mundur melihat Awan yang terus mempersempit jarak diantara keduanya.
"Mau ngapain?" kata Dana sedikit ketakutan.
Dana berusaha memperlebar jarak sampai tak sadar ia sudah menabrak kasur yang ada di belakangnya. Perempuan itu terduduk di kasur dengan jarak yang semakin dekat dengan Awan. Tanpa sengaja Ia menutup matanya saat Awan mempersempit jarak diantara mereka.
"Kamu jangan macam-macam ya!" Dana mulai mendorong tubuh Awan. Tapi hal itu ternyata sia-sia mengingat tubuh Awan yang jauh lebih besar darinya.
Awan tersenyum geli melihat tingkah perempuan yang ada di hadapannya. Ia seperti mendapat kesenangan sendiri karena berhasil mengerjai kakak kelas yang sangat ia benci.
"Kunci mobil?" kata Awan pada perempuan yang masih terlihat ketakutan itu.
Dana dengan perlahan membuka matanya. Dilihatnya wajah Awan dari dekat. Awan merebut kunci yang sedari tadi dipengang oleh kakak kelasnya itu. Dana masih terdiam bahkan setelah Awan menjauh darinya.
"Aku beli obat dulu, kamu bisa tidur selagi aku pergi. Aku akan meminta kunci tambahan ke Resepsionis. Kamu mau aku belikan sesuatu?" tanyanya pada Dana. Perempuan itu hanya menggelengkan kepala setelah mendengar pertanyaan Awan.
Laki-laki itu sedikit heran dengan tingkah kakak kelasnya yang terkadang sangat aneh.
Awan dengan cepat menghilang di balik pintu.
"Aku ingat sekarang siapa Awan sebenarnya." Perempuan itu berkutat dengan pikirannya. Ia baru menyadari satu hal yang dapat menjawab pertanyaannya selama ini. Pertanyaan tentang mengapa Awan tampak telah mengenalnya sejak lama. Pertanyaan mengapa Awan mengatakan jika ia lupa akan wajahnya. Hal yang selalu membuatnya penasaran dan bertanya-tanya.
Dana memilih untuk tidur sambil menunggu Awan membeli obat. Kepalanya masih pening karena demam. Dana menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia merasa menggigil meskipun AC yang ada di kamar itu telah dimatikan.
Tak lama, Awan datang setelah membeli obat dan beberapa makanan. Ia mendapati Dana yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur. Awan menghampiri perempuan itu. Waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Ia mengecek kening perempuan yang sedang tidur itu.
"Masih panas!" katanya lirih. Awan mengeluarkan kompres penurun panas dan menempelkannya di dahi kakak kelasnya.
Ia memperhatikan Dana yang masih tertidur.
"Bisa-bisanya dia diam cuma kalau tidur saja." Awan tersenyum melihat Dana.
Awan yang sudah cukup lelahpun tak sengaja tertidur di kursi yang ada di kamar. Cukup lama sampai ia kembali terbangun. Dilihatnya jam yang ada di handphone nya. Perempuan itu masih tidur dengan nyenyak. Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari.
Awan kembali mengecek suhu tubuh kakak kelasnya itu. Dana tampak sudah lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
"Dan, bangun. Minum obat dulu." Awan membangunkan perempuan itu dengan lembut. Dana tampak membuka matanya perlahan. Ia menurut pada Awan untuk meminum obatnya.
Awan mengganti penurun panas yang ada di kening perempuan itu.
"Masih pusing?"
"Enggak, hidungku mampet." Kata Dana padanya.
Awan memberikan minyak angin pada Dana. Ia tak mungkin menyentuh perempuan itu. Jadi ia membiarkan Dana mengoleskan sendiri minyak itu pada tubuhnya dan tentu saja hidungnya.
"Pergi sekarang?" kata Dana pada Awan.
"Kalau panasmu sudah turun." Jawab Awan singkat.
Dana kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia menatap Awan yang masih sibuk membereskan obat yang tadi ia minum.
"Maaf ya jadi merepotkan kamu."
"Istirahat aja biar panasnya cepat turun." Awan menatap perempuan yang ada di depannya.
"Sudah telfon mama?" tanya Dana penasaran.
"Sudah, Aku bilang besok pagi kita sampai sana." Kata Awan membalas pertanyaan Dana. Suasana cukup canggung saat itu. Tak ada percakapan diantara Awan dan Dana setelahnya. Awan hanya memainkan handphone nya sementara Dana mencoba untuk kembali tidur.
Sekeras apapun Dana mencoba memejamkan matanya, tetap saja dirinya tak kunjung bisa tidur.
"Wan, boleh aku bertanya sesuatu?" kata Dana membuka pembicaraan.
"Tanya apa?" katanya dengan lembut.
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu anak paskib?" pertanyaan Dana membuat Awan sedikit kaget. Ia tak menyangka jika Dana ingat padanya.
"Untuk apa juga aku memberi tahu soal itu." Jawab Awan singkat.
Dana ingat betul seberapa keras ia menghukum Awan saat itu. Ia sudah menghukum Awan bahkan saat di hari pertama latihan. Mungkin karena itu Awan tak suka dengannya.
__ADS_1
...****************...