JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
YAH KEMPES!


__ADS_3

"Itu dia datang." Dana menengok ke arah pintu masuk. Ia sangat kaget ketika melihat Awan datang dari arah pintu masuk.


"Mba, kenalkan ini Awan, dia yang akan menilai tanah saya. Sebenarnya saya kenal dia dari club yang pernah saya datangi. Dia sudah sering membantu saya mengurus tanah-tanah saya yang ada di Indonesia."


"Saya sudah kenal kok pak." Dana tersenyum pada pak Alex.


"Loh sudah kenal?"


"Iya, kami 1 daerah pak, dia juga pacar saya." Dana benar-benar kaget mendengar ucapan Awan. Bagaimana tidak, dirinya seperti tak percaya Awan akan mengakuinya sebagai pacar dibanding dengan teman satu daerah. Pak Alex lalu tertawa mendengar ucapan Awan. Ia benar-benar tak menyangka ada kebetulan yang sangat jarang terjadi ada di depan matanya.


"Loh benar ini pacar kamu? Wah, kalau begitu memang jodoh. Sudah hoki saya memilih kalian." Dana ikut tersenyum mendengar ucapan pak Alex.


Mereka ber tiga lalu duduk di sofa ruang tamu. pak Alex menyuguhkan banyak sekali makanan dan minuman di sana. Mereka berdiskusi dan menerangkan pada pak Alex tentang sistematika pajak yang akan dilaporkan juga izin dan pengukuran dari tanah yang akan pak Alex gunakan untuk bisnisnya.


Obrolan mereka tampak serius. Pak Alex sesekali bertanya pada mereka ber dua tentang hal yang belum ia mengerti. Awan dan Dana menjelaskan dengan detail tentang hal tersebut.


Sudah dua jam mereka berkutat pada lembaran kertas yang tercecer di meja. Beberapa kali juga Awan memberikan gambaran mengenai tanah itu dari ip*d nya.


"Memang tak salah saya memilih kalian. Benar-benar detail." Pak Alex lalu tertawa senang dengan hasil kerja Awan dan Dana. ia merasa tak sia-sia mempekerjakan mereka berdua.


"Untuk selanjutnya saya akan menghubungi pak Alex setelah mengihitung dan membuat tax planning nya. Mungkin minggu depan saya akan datang lagi kemari dengan rekan saya pak."


"Iya, iya... berarti sepertinya sudah beres ya?kalau sudah selesai saya izin pergi dulu. Saya ada rapat jam 12 ini. Kalian nanti makan dulu sebelum pulang. Asisten saya nanti yang akan menemani kalian. Pokoknya jangan pulang dulu ya?" Pak Alex lalu meninghalkan Dana dan Awan di ruang tamu. Ia lalu segera menuju ke luar untuk pergi menggunakan mobilnya.


"Kok bisa?" tanya Dana pada Awan.


"Entahlah, biasanya yang datang orang lain." kata Awan pada Dana.


"Iya, kak Rindang biasanya. Aku nggantiin dia, tuker client gitu." Dana tersenyum pada Awan.


"Kok bisa tuker client?"


"Ya, ada masalah lah sama client aku yang lama. Jadi ganti gitu. Kamu kok bisa ngurus perorangan gini?"


"Bisa lah, sebenarnya bukan ranahku sih, tapi pak Alex minta bantuanku. Biasanya aku sama temen aku yang ngurus. Aku seperti pengantar saja sih. Cuma hari ini ia memintaku menilai dulu sebelum nanti kita berdiskusi dengan temanku itu." kata Awan pada Dana. Walaupun tak terlalu faham akan ucapan Awan, perempuan itu tetap mengangguk mencoba mengerti.


"Kenal di mana sama pak Alex? akrab banget." tanya Dana pada Awan.

__ADS_1


"Di club." Dana lantas menengok ke arah laki-laki itu.


"Club... club?" Dana mencoba memastikan maksud dari ucapan Awan.


"Iya, kenapa? kaget aku pergi ke tempat seperti itu?"


"Kamu bilang kamu gak minum?"


"Ya memang, aku menemani Rachel di sana." Dana mengangguk tanda paham.


"Setelah putus masih suka ke sana?" tanya Dana sedikit ragu. Ia takut pertanyaannya menyinggung hati Awan. Ia juga takut Awan tak nyaman mendengar pertanyaan Dana itu.


"Enggak," Dana lagi-lagi mengangguk mendengar jawaban laki-laki yang ada di sebelahnya.


Tak lama, Asisten pak Alex menyuruh mereka berdua untuk makan. Di atas meja, bannyak sekali hidangan yang telah disiapkan oleh pemilik rumah. Dana yang tergolong masih anak kost sangatlah dimanjakan dengan makanan yang ada di depannya. Sesekali, Dana dan Awan berbincang tentang pekerjaan mereka.


"Pak Alex memang sebaik itu?"


"Ya, dari yang aku kenal sampai sekarang sih seperti itu. Sering juga mengajak liburan jika dia sedang pergi ke luar kota juga."


"O iya?"


"Client pertamaku. Sayangnya sekarang sudah tak tinggal di Indonesia."


Selesainya mereka makan, Dana dan Awan pamit untuk kembali ke kantor.


"Dana, nanti pulang dari kantor kamu ada acara gak?"


"Gak ada sih, kenapa?" tanya Dana pada Awan. Terdapat sedikit kecanggungan diantara mereka. Dana tak tau mengapa ada perasaan tak nyaman antara dirinya dan Awan semenjak malam itu.


"Aku jemput ya? kita makan malam diluar?"


"Boleh," Dana mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Awan.


"Oke, kalau begitu aku balik ke kantor dulu ya?" Awan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal. Ia juga merasakan hal yang sama dengah Dana. Semenjak semalam, ada rasa canggung diantara mereka yang tak bisa dijelaskan.


"Iya, aku juga."

__ADS_1


Mereka berdua lalu menaiki mobil masing-masing menuju kantor mereka. Dana pergi lebih dulu disusul Awan di belakangnya mengendarai mobilnya. Arah kantor mereka memang melewati rute yang sama sehingga, Awan mengikuti Dana dari belakang. Mobil mereka melewati jalan tol. Dana yang memang sudah bisa menyetir memilih untuk sedikit ngebut.


Setelah 20 menit mengendarai mobilnya, Dana merasakan ada hal yang aneh dari mobil yanh dibawanya. Ia mengabil lajur kiri dan memelankan mobilnya.


"Kenapa ya? kok kaya gini?" Dana akhirnya turun dan mengecek mobilnya.


"Yah, kok kempes sih!" Dana mengendus kesal karena ban mobil yang dikendarainya ternyata kempes.


Dana lalu menelefon mobil derek untuk mengangkut mobilnya. Tak lama setelah menelefon, ia melihat mobil berhenti di depan mobilnya.


"Kenapa?" Tanya Awan turun dari mobil. Ia menghampiri Dana yang masih perdiri di samping mobilnya.


"Mobil aku kempes."


"Udah manggil mobil derek atau bengkel?" tanya Awan pada Dana.


"Udah, barusan telefon."


Awan menunggui Dana sampai mobil derek itu datang. Ia lalu mengajak Dana untuk ikut bersama dengan mobilnya.


"Dan, ikut aku aja, nanti aku antar ke bengkelnya." Dana lalu mengikuti ucapan Awan. Tak lupa perempuan itu memberi kabar pada kantor jika dirinya harus pulang telat karena harus ke bengkel.


"Makasih ya Wan," kata Dana sambil mengaitkan sabuk pengamannya.


"Sama-sama" kata Awan pada Dana. Mereka lalu melaju mengikuti mobil derek itu.


"Mobil baru?" tanya Awan pada perempuan yang kini duduk di sampingnya.


"Bukan, mobil kantor." Kata Dana menjawab.


Awan hanya mengangguk tanda mengerti. Setelah sampai di tempat itu, Awan membantu Dana mengurus mobil. Setelah 30 menit menunggu, mobil itu telah selesai diperbaiki.


"Makasih ya Wan. Kalau gak ada kamu, aku pasti sudah pusing mengurus mobil."


"Sama-sama." Awan tersenyum melihat Dana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2