
Dana benar-benar kaget dengan tingkah laku Awan. Ia tak mengerti mengapa laki-laki itu memeluknya. Tak lama, Awan melepaskan pelukkan nya. Dana menatap Awan dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa?" tanya Dana pada Awan. Mata perempuan itu terus memandang laki-laki di depannya lekat. Ia menelusuri setiap titik disana berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Minggu depan, aku akan pergi ke Bandung. Aku ada janji dengan om kamu." Perkataan Awan benar-benar menimbulkan tanda tanya yang lebih besar dibenaknya. Bagaimana tidak, laki-laki yang memeluknya tadi sekarang mengungkit tentang janjinya dengan om Iyan.
"Untuk apa?"
"Aku ingin serius denganmu." Dana mengambil jarak dari Awan setelah mendengarnya. Dia benar-benar kaget mendengar perkataan Awan.
"Kau gila?"
"Dan, kamu sadar gak sih? banyak tanda yang membuat aku yakin kalau tuhan emang nakdirin kamu jadi jodoh aku?"
"Otak kamu gak waras Wan!"
"Tapi Dan,"
"Aku gak tau apa yang membuat kamu seperti ini. Tapi, aku tau kalau ini keputusan singkat darimu! Kenapa Wan? Apa hanya karena kamu meluk aku, kamu jadi seperti ini?"
"Aku sudah memikirkan ini lama Dan. Bagaimana kita bertemu, bagaimana kita terpisah, lalu sekarang kita dekat seperti ini, kamu gak ngerasa kalau ini bukan kebetulan?"
"Mau ini kebetulan atau bukan, aku tetep gak ngerti sama sikap kamu yang seperti ini." Dana lalu berjalan hendak meninggalkan Awan. Dirinya sangat dibuat bingung pada sikap Awan yang mendadak berubah. Selama ini, Dana memang terkesan membiarkan laki-laki itu dekat dengannya. Bukan karena ia suka padanya ataupun ia sudah melupakan Wisnu. Ia hanya ingin berteman dengan Awan, karena dirinya tak mau mempunyai musuh apalagi nasibnya benar-benad sama dengan Awan. Mereka sama-sama tak bisa bersatu dengan orang yang mereka cintai.
Awan mencegah Dana untuk pergi. Ia menghadang perempuan itu tepat di depan pintu.
__ADS_1
"Minggir Wan! Aku mau pulang!"
"Dan, aku ingin kita coba dulu. Kamu mau terus-terusan terbayang oleh Wisnu? laki-laki itu sudah mau menikah dengan pilihan mamanya. Kamu gak ingin membalas hal itu?"
"Aku bukan orang yang seperti itu Wan! aku tulus pada Wisnu! aku lepasin dia karena aku cinta sama dia!" Dana tampak marah mendengar perkataan Awan. Ia tak menyangka Awan berfikir seperti itu tentang dirinya. "Aku, gak pernah punya pikiran licik sedikutpun dengan kak Wisnu! Aku kira kamu baik Wan. Gak nyangka kamu berfikiran sangat pendek. Aku kecewa kamu menilaiku sebagai wanita tak berkelas seperti yang ada di otakmu Wan!" Dana lalu menyingkirkan tangan Awan yang menghalangi pintu di depannya. Ia lalu berjalan keluar dari rumah itu.
Awan hanya melihat kepergian Dana tanpa mencegahnya. Ia juga merasa bersalah karena membuat perempuan itu marah dan salah paham atas maksudnya. Awan berfikir jika perkataan Dana memang sepertinya benar. Dirinya mengambil keputusan yang terlalu cepat karena ucapan mama. Awan terbawa suasana, ia hanya memikirkan cara agar cepat melupakan Rachel.
Perempuan itu lalu memanggil taxi online dan memilih pulang ke kostnya. Dana tak mau dipermainkan lagi oleh laki-laki lain termasuk Awan. Ia menahan amarahnya pada Awan.
"Bagaimana bisa dia bicara seperti itu!" Dana memejamkan matanya, ia berusaha melupakan amarahnya pada Awan.
Malam itu, Awan begitu gelisah memikirkan Dana. Ia merasa bersalah atas perbuatannya yang sangat gegabah. Ia juga menyesali kata-katanya pada Dana. Awan yang tak bisa tidur pun mengambil kunci mobilnya dan mengendarai mobil menuju kost Dana. Ia tak bisa membiarkan keadaan ini berlarut.
Di kost, Dana merasakan hal yang sama. Ia sama sekali tak bisa tidur. Ia lalu menelfon om Iyan.
"Halo, kenapa nduk? kok tumben malam-malam telefon?" Jawab om Iyan.
"Dana mau tanya, Awan punya janji apa sama Om?" Om Iyan tersenyum mendengar pertanyaan Dana.
"Dia setuju?"
"Om, Dana paham maksud om Iyan baik. Tapi, Dana mohon jangan paksa dia seperti itu. Dana tak mau jika ia memutuskan untuk bersama Dana hanya karena tekanan dari kalian."
"Nduk, om tak pernah memaksanya. Om hanya memberinya kesempatan pada nya."
__ADS_1
"Tapi itu membebaninya om, masa dia tiba-tiba bilang mau datang menepati janji dengan om? Dana tak mau ia melakukannya karna terpaksa."
"Kamu tau kenapa om bersikap seperti itu pada Awan?" Dana mengerutkan dahi mendengar pertanyaan om Iyan. Jujur ia benar-benar tak paham apa maksud om nya itu. "Om itu laki-laki nduk, om mu ini tau kalau sebenarnya kalian nyaman bersama. Terlepas dari kalian yang masih cinta atau apapun itu dengan pasangan kalian dulu. Tapi om yakin, gak mungkin Awan mau mengantarkanmu ke sini, nginep di sini. Bahkan sampai cuti hanya untuk mengantarmu."
"Om salah paham akan hal itu, dia ke Bandung karena dia juga perlu liburan, Dia putus dari pacarnya yang dulu." Om Iyan tak menanggapi perkataan Dana. Ia hanya menghela nafas berat.
"Nduk, mau sampai kapan kalian seperti itu? sampai kapan kamu mau menutup hatimu untuk orang lain?" Perkataan om Iyan benar-benar membuat Dana berfikir. Apakah ia memang masih menutup hatinya rapat-rapat untuk orang baru. Dana tak tau apakah ia melakukan hal itu tanpa sadar. Hatinya yang telah lama terkunci sudah dibuka kembali, bahkan dipatahkan lagi oleh orang yang sama.
"Dana harus bagaimana om? Dana nggak bisa memutuskan apapun." Perempuan itu mulai menitihkan air mata. Entah mengapa ia lelah akan semuanya.
"Minta petunjuk Allah nduk, cuma dia yang tau jawabannya."
Dana menutup telefon dari om Iyan setelah berbincang lama dengannya. Pikirannya terus kalut memikirkan perkataan om tentang Awan. Perempuan itupun mencoba untuk tidur setelahnya.
Dana tidur dalam tangisannya. Tapi entah mengapa pikirannya membawanya terbangun di tengah malam. Ia lalu duduk di tempat tidurnya. Memandang kosong ke ruangan kostnya.
Jam dinding menunjukkan pukul 1 dini hari waktu itu. Dana hanya tidur selama 2 jam. Ia berinisiatif mengambil wudhu dan menjalankan salat malam. Dirinya memohon petunjuk pada tuhan atas kebimbangan hatinya. Ia hanya berharap diberikan yang terbaik untuk hidupnya. Setelah sholat dan berdoa, ia lalu membuka kitab miliknya. Dibacanya tulisan Arab yang ada di dalam kitab itu. Dana tampak khusyuk membaca dan memahami tulisan di dalamnya.
Setelah kurang lebih 1 jam, dirinya mulai mengantuk. Mata perempuan itu terpejam mencoba untuk tidur. Masih dengan mukena yang ia pakai tadi. Sayup-sayup, ia mendengar suara mobil yang berhenti di depan kostnya. Perempuan itu tak memperdulikan suara dari luar. Dirinya hanya mencoba terpejam dan memeluk kitab yang ada di tangannya.
Dret... dret...
Suara handphone yang ada di atas meja mengusik telinganya. Ia sedikit kesal karena ada seseorang yang menelefonnya malam-malam.
"Siapa sih, gak ada kerjaan banget nelefon malem-malem." kata Dana bermonolog.
__ADS_1
...****************...