
"Suka-suka aku lah," Awan menjawab pertanyaan Dana dengan enteng.
"Kau gila? om ku galak! kalau sampe dia tau aku pergi sama cowo..."
"Anggep aja aku taximu." Awan memotong perkataan Dana.
"Wan, aku bisa pergi sendiri." Awan tertawa geli mendengar perkataan Dana.
"Terus kalau kamu bisa pergi sendiri kenapa? aku kan cuma mau ikut ke Bandung. Bukannya mau nginep di rumah om kau di sana. Suka-suka aku lah mau ke Bandung, mau ke Bogor. Tapi karena kamu mau ke Bandung yaudah sekalian. Harusnya terima kasih kamu sama aku. Jadi irit kan?" Awan menengok ke arah Dana sekilas. Setelah itu pandangan Awan kembali fokus ke arah depan.
"Serah deh, yang penting aku gak nyusahin kamu ya? gak ada hutang budi!" Dana menekan kata-katanya. Awan mengiyakan ucapan perempuan itu.
Sesampainya di kost, Dana cepat-cepat mengemas pakaiannya. Ia hanya membawa 3 stell baju. Dirinya membawa koper ukuran kecil dan beberapa barang seperti laptop dan make up. Ia tau jika dirinya mengambil cuti, pastilah pekerjaanya akan menumpuk. Jadi, Dana membawa laptop untuk mengerjakan pekerjaannya dari jarak jauh.
Dana membawa barang-barang itu keluar dari kost nya.
"Udah? kok cepet?" tanya Awan yang menunggu kedatangan Dana di luar gerbang.
"Ya mau apa lagi lama-lama. Orang cuma ke tempat om, baju kurang tinggal minjem. Make up kurang tinggal minjem. Beres!" Dana menjawab kata-kata Awan dengan enteng. Awan yang mendengar perkataan oerempuan itu hanya tersenyum.
"Emang gak modal. Dah naik!" Kata Awan pada Dana.
Perjalanan mereka benar-benar menyenangkan. Sesekali, Dana melontarkan candaan yang membuat Awan tertawa. Dana juga memutar lagu yang disukainya. Terkadang ia menyanyikan juga lagu itu.
(Aku spill lagu yang menggambarkan keadaan Dana ya? Yang tau bisa ikut nyanyi.)
Everybody's laughing in my mind
Rumors spreading 'bout this other guy (girl)
Do you do what you did when you did with me
Does he(She) love you the way I can
Did you forget all the plans that you made with me?
'Cause baby I didn't
That should be me, holding your hand
That should be me, making you laugh
__ADS_1
That should be me, this is so sad
That should be me
That should be me
That should be me, feeling your kiss
That should be me, buying you gifts
This is so wrong
I can't go on
Till you believe
That should be me
-Justin Bieber: Thats Should Be Me-
Selesai menyanyikan lagu itu, Dana terdiam. Ia kembali mengingat kak Wisnu. Dana kembali menangis. Awan sedikit panik karena hal itu. Ia pikir perempuan disampingnya telah melupakan masalahnya dengan Wisnu. Mengingat pagi ini perempuan itu mengobrol dengannya seperti tak terjadi apa-apa. Ternyata, Dana hanya mencoba kuat dan menutupi rasa kecewanya. Awan lalu meminghirkan mobil yang dikendarainya. Sebenarnya sedikit sulit mengingat sebelumnya ia melaju cukup cepat di jalan tol itu.
"Kamu gak papa?"
"Bukan salahmu," Awan memeluk Dana. Ia membiarkan perempuan itu menangis di pelukannya. Laki-laki itu membiarkan baju yang dipakainya basah karena tangisan Dana. Setelah sekitar 30 menit Dana menangis, Ia lalu memberanikan diri untuk bercerita.
"5 Tahun aku nunggu dia. Aku pikir aku bisa benar-benar melupakannya. Aku bahkan menutup hatiku untuk siapapun. Tapi aku luluh hanya dengan 1 kali bertemu dengannya." Dana tersenyum getir ketika mengingat saat pertama kali bertemu dengan Wisnu setelah sekian tahun tak berkabar.
"Aku gak tau Wan, tapi ini lebih sakit dibandingkan saat dia tak memutuskan hubungan denganku dulu. Dia sama sepertiku sebenarnya. Mamanya menjodohkannya dengan seseorang. Sebenarnya aku bisa saja merebutnya Wan, tapi aku bisa apa jika dia berkata tak mau menikah dengan siapapun. Bahkan dengan aku, pacarnya. Dia terpaksa menikah karena permintaan mamanya." Dana melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan semuanya pada Awan. Awan yang tak paham pun lalu spontan bertanya pada Dana.
"Tak mau menikah sengan seiapapun? Kenapa?"
"Entahlah, aku tak tau persis bagaimana keluarga kak Wisnu. Yang ku tau ini ada sangkut pautnya dengan keluarganya." Dana menatap sedih ke arah depan. Sesekali ia menghapus air mata yang seperti tak punya rem keluar dari sarangnya.
"Hah! jadi judul trip kali ini adalah obat galau?" Awan mencoba mencaikan suasana. Dana tersenyum karena ucapan Awan.
"Okey, jadi judulnya obat galau untuk 2 orang yang baru putus dari pacarnya?" Dana mencoba untuk menghapuskan kesedihannya. Ia mengusap air matanya dan menatap Awan.
"Pulang dari Bandung kita harus move on!" Awan memegang pipi Dana. Dirinya menghapus air mata yang ada di ujung matanya. Refleks Dana kaget karena perilaku tak biasa dari laki-laki itu. Dana mengangguk dan tersenyum. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Awan sengaja memutar lagu sangat keras, ia memutar lagu yang dapat mengembalikan mood baik Dana.
Setelah beberapa jam mereka berkendara, akhirnya mereka keluar dari tol.
__ADS_1
"Lewat M Toha kan?" tanya Awan pada Dana.
"Iya, belok kiri." Awan lalu mengambil lajur kiri dan keluar dari pintu tol. Perempuan itu mengarahkan Awan untuk menyetir ke arah rumah om nya. Tak lupa, Dana memberikan kabar pada tante dan om nya jika ia sudah hampir sampai ke rumahnya.
"Nanti masuk ke gang sebelah pasar saja Wan, lebih dekat lewat situ." Kata Dana pada Awan. Laki-laki itu lalu menuruti perkataan Dana.
Sesampainya di rumah om nya itu, Dana melihat sosok anak kecil yang menunggunya di depan pintu gerbang. Ia adalah adik sepupu Dana. Anak om nya itu memang masih sangat kecil. Dana tersenyum ke arah adik sepupunya itu. Cepat-cepat Dana membuka pintu mobil Awan.
"Shanum!"
"Mba..." Dana menggendong Shanum yang masih berumur 2 tahun. Jarak umur mereka memang sangat jauh. Mereka berbeda 21 tahun. Om memang baru memiliki shanum setelah 13 tahun menikah. Bisa dibayangkan jika orang tak tau, mereka pasti mengira Dana adalah ibu dari Shanum.
"Macet enggak?" tanya om pada Dana.
"Enggak," Dana menyalami tangan om nya itu. Awan lalu keluar dari mobil. Om sedikit kaget melihat Dana datang dengan seorang laki-laki. Tapi, hanya melihat sekilas om tersenyum padanya.
"Awan ya?" Dana sedikit kaget mendengar perkataan om nya. Bagaimana ia tahu jika orang yang bersamanya adalah Awan. Awan tak kalah kaget. Ia bahkan membelalakkan mata karena tebakan dari om Dana itu.
"Iya om," Awan lalu menyalami om Iyan, om dari perempuan itu. Dana yang masih menggendong Shanum lalu melirik ke arah Awan.
"Om banyak dengar soal kamu. Ayo masuk." Om Iyan dengan sangat ramah mengajak Awan untuk masuk ke rumahnya. Dari arah dalam rumah, istri om Iyan muncul.
"Loh, ada tamu ibukota ternyata. Masya Allah, ini Awan bukan ya?" tanya tante Eni pada mereka. Awan lalu menyalami tangan tante Eni dengan sopan. "Maaf ya kotor, habis masak soalnya. Duduk mas!" kata tante Eni ramah.
Dana sedikit heran dengan tingkah om dan tantenya.
"Lah yang ponakannya itu yang mana? cuma Awan saja yang disambut?" Dana menyalami tante Eni. Ia menurunkan Shanum dari gendongannya.
"Kamu kan sudah sering kesini. Gak usah manja. Dah bantu tante itu buat minum buat Awan. Barang-barangmu bawa ke kamar atas. Biar kamar bawah buat Awan." Tante Eni lalu berbalik hendak menuju dapur.
"Gausah tante, Awan gak nginep kok di sini." Awan mencoba menjelaskan pada tante Eni.
"Langsung pulang Jakarta?" tanya tante lagi.
"Awan cari hotel saja tante, gak enak ngerepotin." Dana hanya memutar bola matanya mendengar ucapan dari adik kelasnya itu.
"Loh, ngapain? di sini aja ada kamar kosong. Dah nginep sini saja." Kata om Iyan pada Awan.
"Kenapa? gak enak sama Dana? wes, ini rumah om sama tante, dah pokoknya kamu nginep di sini." Awan tak bisa menolak tawaran dari tante Eni dan om Iyan.
Dana meletakan barang-barangnya di kamar atas. Sementara Awan meletakan tas ranselnya di kamar yang ditunjukkan oleh tante Eni.
__ADS_1
Rumah tante dan om memang tak terlalu besar. Rumah itu bergaya minimalis dengan 3 kamar tidur. 2 Kamar tidur berada di atas, dan 1 lagi ada di bawah bersebelahan dengan ruang tamu.
...****************...