JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
KAKAK


__ADS_3

"Makasih udah nganter pulang." Dana melepas sabuk pengamannya. Awan hanya tersenyum menengok ke arah perempuan yang ada di sebelahnya. Dari arah luar mobil, ia melihat orang yang berdiri memandang ke arah mobil Awan. Ia tau jika itu adalah kak Sad sepupunya. Sorot lampu yang ada di jalan jelas saja memperlihatkan Dana dan Awan yang ada di dalam mobil.


"Ada kakakku, mau kenalan dulu atau..."


"Aku ikut turun." Awan memotong perkataan Dana. Perempuan itu pun hanya mengangguk.


"Dan?" Sapa kak Sad yang melihat Dana.


"Kak, tumben malem-malem? udh lama?" Dana berjalan ke arah kak Sad.


"Barusan nyampe, ini mau telfon kamu tadi." Tatapan mata kak Sad teralihkan oleh seseorang laki-laki yang keluar dari mobil yang sama dengan Dana. Ia tau jika itu bukanlah Wisnu sahabatnya.


"Oh kenalin ini Awan kak,... pacar Dana." Dana sedikit canggung memperkenalkan Awan pada kakaknya itu. Kak Sad tak tau jika dirinya sudah putus dengan Wisnu. Kak Sad refleks menengok ke arah Dana. Ia bertanya-tanya mengapa Dana tak menceritakan hal ini padanya.


"Awan," laki-laki yang bersama Dana itu mengulurkan tangannya.


"Oh iya, aku sepupunya Dana." kak Sad terlihat canggung menjabat tangan Awan.


"Banyak denger kok soal kak Sad. Aku SMA 1 juga dulu." Kak Sad hanya mengangguk mencoba mengerti.


"Yasudah kak, aku langsung saja, sudah malam." kata Awan pada kak Sad. Ia lalu berpamitan dengan Dana dan sepupunya itu.


"Hati-hati." Dana tersenyum melihat mobil Awan yang melaju menjauh dari kost nya.


"Kamu gila?" kak Sad sedikit meninggikan suaranya pada adiknya itu. Dana membuka pintu gerbang kostnya.


"Gila gimana?"


"Wisnu?" Kak Sad mengikuti Dana dari belakang. Bapak kost yang sudah mengenal kak Sad pun menyapa kak Sad.


"Tuben datang malam mas?"


"Iya pak, tadi pas pulang kantor sekalian. Mari pak?"


"Iya mas," jawab bapak kost dengan ramah. Saat pertama kali datang ke Jakarta, kak Sad memang datang bersama mama untuk membantu adiknya itu mencari kost. Jadi bapak kost sudah hafal dengan kak Sad yang merupakan kakak Dana.


Dana membuka pintu kostnya. Kak Sad menyusulnya dari belakang.


"Aku sudah putus." Kak Sad benar-benar terkejut akan hal itu.

__ADS_1


"Kok bisa?"


"Tanya aja sama sahabat kak Sad itu." Dana meletakkan barang-barangnya di atas tempat tidur. Kak Sad lalu duduk di lantai depan kasur Dana.


Perempuan itu mengambilkan kakaknya itu minum dan menaruhnya di depan kak Sad.


"Dia nyakitin kamu? kenapa kamu gak cerita sama abangmu ini?"


"Terus kalo aku cerita, kak Sad mau ngapain? mukul kak Wisnu?" Dana duduk di depan kak Sad.


"Gila ya, harusnya aku gak kenalin kamu sama dia." Kak Sad mengusap wajahnya kasar. Ia merasa kesal dengan Wisnu yang lagi-lagi mempermainkan adik sepupunya.


"Udahlah, bukan salah kak Sad juga." Dana. menunduk dan memainkan kukunya.


"Tadi itu? kok aku kayak kenal?"


"Dia yang pernah aku bilang mau dijodohkan denganku."


"Jadi sekarang kamu mau nurutin tante Santi?"


"Entahlah, seengaknya dia baik." Dana meminum air yang sempat ia ambil sebelumnya. Kak Sad juga meminum air yang diberikan oleh adiknya itu.


"Nikah itu, gak cuma modal dia baik Dan. Kalau gak di dasari cinta, hambar."


"Kamu berhak memilih. Ini hidup kamu dek." Kak Sad menatap adiknya itu. Ia tau sejak dulu, Dana tak pernah bisa mengabaikan kemauan orang tuanya.


"I know. Kak Sad kenapa malam-malam ke sini?" Dana mengganti topik pembicaraan mereka.


Kak Sad mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dana sedikit penasaran apa yang kak Sad bawa untuknya.


"Bulan depan lamaran." Dana sangat kaget bercampur senang mendengar ucapan kakaknya. Ia dengan cepat melihat undangan yang kak Sad bawa.


"Alhamdulillah... Akadnya?" Dana membolak-balik undangan itu. Ia sangat senang karena akhirnya kakaknya itu memutuskan untuk menikah. Dana sangat tau siapa calon istri kak Sad. Ia adalah teman SMA Dana satu angkatan.


"September. Dateng ya?"


"Auto cuti sih aku." Dana tersenyum senang.


"Hah! harus bawa undangan 1 lagi nih!" Kak Sad mengubah posisi duduknya menyandar ke tembok di belakangnya.

__ADS_1


"Maksudnya?" Dana masih tak paham dengan ucapan kakaknya itu.


"Ya aku kira kan kamu bisa datang dengan Wisnu. Jadi aku cuma bawa 1 undangan."


"Yaudah ini buat kak Wisnu aja. Aku kan adekmu. Ngapain juga bawa undangan." Dana mengembalikan undangan yang sedari tadi ia pegang. Kak Sad tersenyum melihat adiknya itu. Ia lega ternyata Dana telah menanggapi leluconnya dengan enteng tanpa bersedih.


"Dateng ntar sama Awan."


"Ya, pasti."


"Dan," Kak Sad menampakkan raut muka serius pada Dana.


"Kamu ini sudah seperti adik kandungku. Kamu bisa bercerita apapun padaku. Kamu tau kan?"


"Aku tau kak," Dana tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu.


"Aku cuma berharap kamu bahagia dengan laki-laki yang kamu cintai Dan. Kamu gak harus menuruti kemauan tante dan om. Turuti aja kata hati kamu." Dana mengangguk mendengar ucapan kakaknya itu. Ia benar-benar sangat beruntung memiliki kakak sebaik kak Sad.


"Ah! kakakku mau nikah. Aku sedih deh!" Dana mengusap air mata yang ada di pelupuk matanya. Entah ia sedih karena kakaknya akan menikah atau ia terharu karena ucapan kak Sad.


"Apaan sih, lebay!" Dana dan Kak Sad lalu tertawa karena hal itu. Cukup lama mereka berbincang membicarakan Awan. Dana bercerita banyak pada kakaknya itu tentang awal mula dirinya bisa dekat dengan Awan. Sampai ketika mereka berlibur di Bandung. Beberapa kali Dana tampak mengubah ekspresinya dari sedih lalu senang, lalu kesal. Kak Sad yang memperhatikan adiknya itu hanya dapat mengambil 1 kesimpulan.


"Kamu lagi jatuh cinta dek." Kata-kata kak Sad benar-benar mengagetkannya.


"Apaan sih kak!" Dana tampak salah tingkah mendengar ucapan kakaknya itu.


"Dan, aku tau jika Awan juga punya rasa yang sama denganmu." Kak Sad tersenyum mengatakan hal itu.


"Ih kak, gak lucu ah, nyebelin." Dana mencibik mengatakan hal itu.


"Mana ada cowo yang mau bela-belain cuti buat nemenin orang lain pergi jauh? cuma buat ngehibur kamu? ya antara dia gak ada kerjaan atau dia emang suka sama kamu. Itu pandangan aku dari sudut cowok ya."


"Gabut dia," Dana menimpali perkataan kakaknya itu.


"Liat aja nanti." Kak Sad tersenyum melihat Dana yang masih mencoba untuk mengelak.


Cukup lama mereka berbincang. Kak Sad pamit pulang setelah malam mulai larut. Ia harus segera pulang agar dapat beristirahat mengingat juga kost Dana cukup jauh dari rumahnya


"Hati-hati" Dana mengantar kakaknya itu ke depan pintu gerbang kost. Kak Sad lalu melaju pergi dengan mobilnya.

__ADS_1


Dana terus memikirkan ucapan kakaknya itu. Tak mungkin jika Awan menyukainya. Tak mungkin juga Ia mempunyai rasa pada Awan. Hanya itu yang berada di benak Dana saat ini.


...****************...


__ADS_2