
Awan lalu tidur setelah mengoleskan minyak ke tubuhnya. Dana masih menunggui Awan sambil sesekali mengganti kompresnya. Tak lama, Dana yang lelahpun tertidur meringkuk di kursi samping tempat tidur Awan. Tepat jam 2 malam, Awan terbangun dan mendapati Dana yang sedang tertidur. Ia lalu menyelimuti tubuh Dana dengan selimut cadangan yang ada di lemarinya. Awan lalu berjalan ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Setelah kembali dari kamar mandi, Ia menatap Dana yang tak merubah posisi tidurnya.
"Gak pegel kah dia?" Kata Awan bermonolog lirih. Awan lalu mengangkat tubuh Dana perlahan. Ia membaringkan Dana di tempat tidurnya. Dana yang terusik karena ulah Awan pun mengubah posisi tidurnya sehingga membuat tangan Awan tertindih tubuh perempuan itu. Tubuh Awan benar-benar menempel pada Dana. Ia pun menahan nafas karena hal itu. Beberapa kali Awan menelan air liurnya karena gugup. Suhu tubuhnya yang sudah tak begitu panaspun kini seperti mendidih. Jantungnya memompa darah dengan sangat cepat menghasilkan detak yang cukup kencang.
Perlahan Awan mencoba mengangkat tubuh Dana dan menarik tangannya. Awan menatap lekat perempuan yang tengah tidur di sampingnya. Sesekali ia membenarkan anak rambut Dana yang menutupi wajahnya.
Awan memilih untuk tidur di kursi tempat Dana tidur sebelumnya. Ia merasa lebih nyaman tidur di kursi dibandingkan harus tidur di samping kakak kelasnya itu.
Pagi itu, Dana bangun sebelum jam 5. Ia terkejut ketika menyadari dirinya yang tak lagi tidur di kursi. Ia lalu menengok ke Arah Awan yang tengah tertidur di kursi.
Dana lalu bangun dan mencoba membangunkan Awan.
"Wan, subuh. Bangun." Awan menggeliat dan mencoba membuka matanya.
"Jam berapa?"
"Lima, bangun deh. Masih panas?" Dana mengecek kening Awan. Dirinya lega karena Awan sudah tak lagi demam. "Syukurlah," Kata Dana melanjutkan.
"Mau aku bantu ke kamar mandi?" Dana menawarkan bantuan pada Awan.
"Gak usah, aku bisa sendiri." Awan lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Dana memilih untuk sholat lebih dulu. Awan duduk di kursi menunggu Dana selesai melaksanakan kewajibannya.
"Sudah?"
"Sudah,"
"Gak nunggu aku tadi?" Dana hanya menggeleng dan tersenyum mendengar ucapan Awan. Awan lalu bergantian melaksanakan kewajibannya.
Sembari menunggu Awan selesai, Dana membereskan tempat tidur Awan. Ia juga memesan makanan online dan beberapa cemilan seperti roti dan sereal. Dana yang harusnya bekerja meminta izin pada kantornya untuk berangkat siang. Ia akan mengerjakan tugasnya di rumah Awan.
"Di kulkas tak ada bahan makanan, jadi aku beli makan online gak papa kan?"
"Gak papa." Awan mulai bisa duduk di kursi.
"Aku bosan, mau nonton tv." Dana hanya mengangguk mendengar ucapan Awan. Perempuan itu lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat Dana berada di kamar mandi, Awan mendengar suara orang memencet bel rumahnya. Itu adalah kurir yang mengantarkan makanan yang Dana pesan.
"Terimakasih pak," kata Awan pada kurir itu. Ia lalu masuk ke dalam rumah dan membuka kantung plastik yang berisikan makanan. Dana yang sudah selesai mandipun melihat Awan yang sedang sibuk membuka kantong plastik yang ada di meja makan.
"Sudah sampai?"
"Iya,"
__ADS_1
"Makan dulu lalu minum obat." Kata Dana mengambilkan makanan untuk Awan. Mereka berdua lalu makan bersama di depan TV.
"Mau nonton apa?"
"Jam segini ada kartun deh sepertinya, coba cari." Kata Dana pada Awan.
Awan mengganti channel yang ada di TV nya. Sesuai request perempuan di sampingnya itu, ia memilih saluran yang menayangkan kartun.
Selesai makan, Dana lalu membantu Awan meminum obatnya.
"Wan, aku mau ngerjain tugasku dulu ya? kamu jangan ganggu." Awan hanya mengangguk tanda paham. Ia lalu meneruskan menonton TV.
Dana membuka laptopnya dan mulai mengerjakan tugas kantornya yang sempat tertunda. Dirinya benar-benar tak memalingkan wajah dari layar di depannya hingga siang hari. Setelah selesai, Dana mengirimkan file itu pada kak Lita. Ia menelefon rekan kerjanya itu untuk mengkonfirmasi tugas nya.
"Halo kak, aku sudah send email ya?"
"Oke Dan, aku sudah buka emailnya. Makasih ya? o iya, hari ini aku kasih kamu tambahan file saja deh, kamu gak usah datang ke kantor, tanggung juga kalau datang kan?"
"Yasudah kak, send email ya, biar aku kerjakan di sini." Jawab Dana
Dana menutup telefonnya setelah selesai. Ia langsung membuka file yang kak Lita berikan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Dirinya lalu beristirahat sejenak mengambil minum dan camilan yang sempat ia beli.
"Mau makan apa Wan siang ini?" tanya Dana pada Awan yang masih menonton Tv.
"Sudah sembuh berarti. Sudah bisa request." Dana mencari camilan yang sempat ia beli tadi pagi. Tapi, Dana sama sekali tak menemukannya.
"Wan, liat sari g*ndu* yang aku beli tadi gak?" Dana menghampiri Awan yang ada di depan TV.
"Ih kok di makan sih?" Dana melihat makanan kesukaannya di makan oleh Awan.
"Ya aku kira kamu beli buat aku."
"Kamu kan suka yang lain. Kenapa ini juga dimakan Awan." Dana merengek sebal pada Awan. "Sini sisanya!" Dana meminta makanan yang masih Awan pegang di tangannya.
"Dih, orang lagi di makan."
"Sini gak! balikin Wan, itu punyaku!" Dana mencoba merebut makanan tersebut.
Awan yang memang jahil membawa makanan itu kabur menjauhi Dana. Perempuan itu lalu mengejar Awan ingin merebut haknya.
"Wan, aku mau kerja, sini!"
"Kerja tinggal kerja."
__ADS_1
"Kasih gak! aku masih baik ya!"
Awan yang melihat kakak kelasnya itu marah justru meledeknya.
"Awan! awas ya!" Dana mengejar Awan lagi. Mereka bahkan kejar-kejar an mengitari rumah hanya karena camilan itu.
Awan yang sudah kewalahan lalu masuk ke kamarnya hendak mengunci kamar itu. Tadi, Dana berhasil masuk sebelum Awan menutup pintu. Dana menarik baju Awan hingga dirinya terjatuh di lantai.
"Sini gak!" Awan lalu memakan habis camilan itu. "Awan!" Dana akhirnya hanya mendapatkan plastik kosong bekas camilan yang ia sukai. Awan tersenyum puas melihat Dana tampak meratapi camilan itu.
"Maaf, nanti beli lagi deh." Awan tertawa melihat ekspresi Dana.
"Awas ya kamu!" Dana lalu mengunci tubuh Awan dengan tangan dan tubuhnya dari belakang. Ia menarik dengan kuat leher Awan. Tangan Awanpun di tarik ke belakang sehingga Awan merasa kesakitan.
"Aaaaa... Sakit Dan lepas Dan!" Awan mengaduh sakit karena Dana menarik tangannya.
"Minta maaf gak!"
"Iya maaf..."
"Gak denger! ulang!"
"iya maaf!"
"Kamu pikir semudah itu setelah mengambil makananku?" Dana menguatkan kuncian tubuhnya.
"Iya, iya Sakit!" Awan yang mempunyai tubuh lebih besar dari perempuan itu langsung berusaha melepaskan diri. Ia lalu membalik tubuhnya yang lebih besar dari perempuan itu dan mengurung tubuh Dana di bawahnya. Dana tentu berontak karena Awan mencoba mengurung tubuhnya.
Dana dan Awan saling menatap satu sama lain.
"Lepas!" Dana mencoba melepaskan cengkraman tangan Awan.
"Sekarang siapa yang kalah?" Awan merasa sangat puas melihat Dana yang kalah darinya. Dana tak menyerah, ia terus berontak dan hal itu membuat tangannya kesakitan.
"Aw Wan! Sakit! Tanganku!" Dana memukul tangan awan yang masih mencengkram tangannya.
Ceklek!
Pintu kamar Awan yang tadi sempat tertutup kini terbuka.
"Astaughfirullah..."
...****************...
__ADS_1