
Minggu itu adalah hari yang sangat padat bagi Awan dan Dana. Minggu itu adalah saat bagi mereka menyebar undangan. Dana memilih undangan digital yang akan disebar pada orang-orang terdekatnya. Dana mengabsen satu per satu orang yang akan ia kirimi undangan pernikahannya.
"Total 150 loh Wan! pokoknya kamu gak boleh lebih dari itu." kata Dana pada Awan.
"List kamu sampe 250, gimana tuh?" tanya Awan pada istrinya.
"Iya nih! gimana dong?" Dana menggaruk-garuk kepalanya frustasi. Baginya, tak ada yang bisa ia hilangkan dari list tamu undangannya.
"Kurangin lah! nih temen Sekolah nih, ilangin! terus ini temen main? kamu masih main sama mereka?" Awan mengerutkan dahi melihat list tamu yang Dana buat.
"Masa aku gak undang temen SMA aku? temen main ini temen-temen aku kuliah dulu Wan, gak bisa! aku masih suka kontak mereka," kata Dana tak mau kalah.
"Yaudah ini dihapus," tunjuk Awan pada rentetan nama yang ada di list itu.
"Kamu nyuruh temen kantor aku gak dateng?" tanya Dana mulai kesal.
"Lagian punya temen banyak banget! liat nih list aku, sisa tau gak!" Dana melihat list tamu yang akan Awan undang.
"Sisanya bagi ke aku ya? Lumayan, 30 orang ini Wan!" kata Dana tersenyum.
"Enak aja, ini buat aku lah lumayan bisa undang mantan-mantan aku!" goda Awan.
"Banyak ya sampe 30 gitu mantannya?" sindir Dana.
"Iya lah, emang kamu temen doang banyak, mantan cuma satu," Dana benar-benar kaget dengan celotehan Awan. Matanya mulai menatap Awan dengan sinis.
"Artinya, aku setia dong? siapa aja tuh 30?" tanya Dana mengintimidasi.
"Percaya gitu 30? Mantan aku cuma 6, tenang saja." Kata Awan dengan santai.
"Cuma enam? wah... Gak tahu loh aku selama ini, banyak ya nyamuknya? pantesan gatel! gedung kita nanti harus di fogging deh kayaknya!" Dana lalu berdiri dari posisi duduknya. Ia berjalan ke arah dapur meninggalkan Awan. Laki-laki itupun tersenyum melihat tingkah istrinya yang lucu. Dana mengambil gelas yang ada di lemari untuk minum. Setelah selesai meneguk 1 gelas air putih, ia pun mencuci gelas itu.
__ADS_1
"Bisa-bisanya 6 itu cuma! tau gitu pacaran aja dulu aku! koleksi sekalian mantan tuh! dikira dia doang yang banyak mantannya? gebetan aku dulu banyak kok! aku tolak-tolakkin aja! ih kesel!" Gerutu Dana. Ketika akan meletakkan gelas itu di lemari, tanpa sengaja ia menjatuhkan gelas yang ia pegang.
'Pyar!' Dana yang kaget hanya mematung melihat pecahan gelas yang ada di sekitar kakinya. Awan yang mendengar hal tersebut langsung berlari dan menghampiri Dana.
"Kenapa?" tanya Awan panik. Dana tak menjawab pertanyaan Awan. Ia hanya menoleh menatap Awan yang juga menatapnya. Awan melihat kaki istrinya sudah berdarah terkena pecahan kaca. Awan lalu menggendong Dana agar menjauh dari tempat itu. Dana masih diam tak berkata apapun.
"Duduk sini, jangan kemana-mana!" kata Awan. Ia lalu mengambil kotak P3K untuk mengobati lukanya.
"Bisa-bisanya lo! kamu ini hati-hati dong!" kata Awan mengangkat kaki istrinya. Membiarkannya bertumpu pada pahanya.
"Ini aku cabut, tahan ya?" kata Awan melihat ada kaca yang menancap di kaki istrinya. Dana hanya mengangguk pelan.
"Aw!" Darah yang sempat tertahan oleh kaca kini menalir cukup banyak. Awan menahan luka itu menggunakan tisu, menekannya agar darah berhenti keluar.
"Lagi ngapain kok bisa gini?" Awan menatap Dana dengan kesal.
"Gak sengaja, maaf?" kata Dana lirih.
"Ini kalo aku tekan darahnya masin ga berhenti, kita ke rumah sakit!" Awan menghembuskan nafas kasar. Sesekali ia meniup luka yang ada di kaki Dana agar tidak perih.
"Ini kaki kamu luka lo! masih bisa tanya itu sekarang?" kata Awan gemas.
"Yaudah jawab aja! lagi pula kaki aku gak papa, luka kecil itu," kata Dana santai. Awan hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban istrinya.
"kok gak di jawab? 6 siapa aja?" Dana mengulang pertanyaannya.
"Reni, Lita, Caca, Zakia, Lexa, Rachel. Dah puas?" jawab Awan ketus.
"Lita? Smasa?" tanya Dana memastikan.
"Iya temen kamu," Dana hanya melongo mendengar jawaban suaminya.
__ADS_1
"Kapan pacarannya? kok bisa?"
"Bisa, buktinya jadi mantan kan? nenek dia tetangga aku, dulu dia kan sama nenek tinggalnya, yasudah ketemu terus jadian." jelas Awan.
"kapan?"
"Waktu dia kelas 7? Hem... iya bener kok kelas 7," jawab Awan mencoba mengingat.
"Wan, dia kelas 7 kamu kamu masih SD kelas 5! mama kamu tau kamu pacaran sejak dini?" tanya Dana menekan kata-katanya.
"Tau lah, temen ngaji. Tapi ya namanya juga anak kecil."
"Aku kalo punya anak gak mau ya pacaran-pacaran kayak gitu! amit-amit deh amit-amit, jangan nular dari bapaknya!" kata Dana menggetok kepalanya selayaknya orang Jawa tulen.
"Dih! ya biar dia kenal lah, jangan dilarang-larang gitu. Dinasihatin aja," Dana langsung memegang kepalanya. Ia memghembuskan nafas berat memikirkan tentang bagaimana Awan nanti akan mengasuh anaknya.
"Dah berhenti nih, aku kasih obat dulu, tahan ya?" kata Awan memberika. obat merah pada luka Dana. Perempuan itu hanya mengaduh menahan sakit. Awan lalu melilitkan perban untuk menutup luka.
"Berarti kamu pacaran sama yang lebih tua juga ya?" tanya Dana pada Awan.
"Enggak lah itungannya, Dia sama aku cuma selisih 7bulan aja deh kayaknya. Gak tua-tua amat!" Dana hanya menatap Awan datar. Awan yang tau dirinya salah berucap hanya menelan ludah dan pergi meningalkan Dana untuk mengembalikan kotak P3K. Ia juga membersihkan pecahan kaca yang ada di dapur. Dana hanya cemberut sambil melipat tangannya ke depan. Ia lalu mengambil handphone miliknya dan menelefon seseorang.
"Halo? Erlita? gimana kabarnya, baik?" kata Dana dengan suara yang sengaja ia keraskan.
"Halo Dana, baik kok kamu gimana?" tanya Erlita dengan ramah. Mereka lalu berbincang, sesekali Dana sengaja tertawa agar Awan melirik padanya. Dana terus saja memperhatikan gerak-gerik Awan selama menelefon teman sekolah nya itu.
"Iya Lit, kamu baik-baik ya? nanti aku kirim undangan pernikahan aku," Dana langsung menutup telefon itu ketika mereka telah selesai berbicara. Awan melirik ka arah istrinya, mencaba mencuri pandang ketika dirinya sedang membereskan kaca-kaca yang masih berserakan di lantai.
"Sayang? Undangan untuk mantan kamu Lita, biar aku yang kirim." Kata Dana tersenyum. Awan hanya menatap istrinya dengan datar. Tatapannya mengikuti ke arah istrinya pergi. Dana lalu berdiri dan berjalan menuju kamar. Ia menutup pintu dengan tidak santa, menimbulkan suara yang cukup keras.
'Brak!'
__ADS_1
"Salah lagi," kata Awan menjambak rambutnya frustasi.
...****************...