
Hari minggunya, Dana pergi ke stasiun untuk pulang ke Jakarta. Liburannya telah usai. Seperti biasa, Ia menaiki kereta pukul 4 sore. Hari itu ia tak melihat Awan. Dana tak menanyakan hal tersebut pada laki-laki itu. Ia berfikir mungkin Awan mengambil cuti untuk penyembuhannya.
Perjalanannya bisa dibilang tak ada yang istimewa. Dirinya hanya memandang ke luar jendela. Setelah berjam-jam dirinya duduk di kursi penunpang, ia sampai ke Jakarta.
Dana keluar dari stasiun pagi itu. Seperti saat biasa, hanya gelap yang ia lihat karena jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Dana," Perempuan itu sedikit terkejut karena melihat Wisnu datang menjemputnya. Laki-laki itu memeluk Dana dengan erat.
"Kok dijemput sih?" kata Dana tersenyum. Dirinya hanya memberi kabar pada Kak Wisnu jika ia menaiki kereta untuk pulang ke Jakarta kemarin sore. Ia tak menyangka jika kak Wisnu akan menjemputnya di stasiun.
Dana dan Wisnu lalu menaiki mobil. Wisnu mengantar perempuan itu ke kost miliknya. Beberapa kali Wisnu bertanya tentang aktifitas perempuan itu selama di kota kelahirannya. Setelah mengantar Dana pulang, Wisnu lalu langsung pulang ke rumahnya. Ia harus bersiap untuk bekerja nanti.
Wisnupun membuka pagar rumahnya. Ia hendak memasukkan mobil ke dalam. Ketika ia menggeser pagar itu, ia sangat terkejut pada kedatangan kedua perempuan di depannya. Itu adalah mamanya dan juga Vega.
"Ma, kok mama gak ngabarin kalau mau datang?" Wisnu menjabat tangan mamanya itu. Dirinya masih kaget melihat kedatangan mereka berdua.
"Iya, kemarin mama disuruh check up ke dokter di rumah sakit. Lalu katanya, mama harus ke rumah sakit yang lebih besar di Jakarta. Jadi mama meminta Vega untuk menemani mama ke sini. Tadinya, mama tak ingin merepotkanmu nak, Tapi Vega bersikeras memaksa mama untuk bilang padamu soal ini." Mama melihat mobil Wisnu yang masih terparkir di luar.
"Kamu habis dari mana memang pagi-pagi buta begini?"
"Wisnu lembur di kantor ma," Wisnu mencari alasan agar mamanya tak curiga.
"Pegawai Negeri lembur sampai pagi ta le?" tanya mama pada Wisnu.
"Wisnu kan beda ma, kerjanya lebih fleksibel beda dengan Pegawai Negeri lainnya." Wisnu memberikan alasan untuk hal tersebut. Mama yang memang berasal dari Desa hanya mengiyakan ucapan anaknya. Ia sama sekali tak protes dengan jawaban Wisnu.
Vega masih diam berdiri di sebelah mama. Perempuan itu sama sekali tak mengatakan sepatah katapun. Walaupun Vega tau sebenarnya Wisnu hanya mencari alasan, tapi menurutnya itu bukanlah ranahnya untuk ikut campur.
__ADS_1
"Ayo masuk?" kata Wisnu mengajak mama dan Vega masuk ke rumah.
Karena Wisnu tau jika mama akan berobat di rumah sakit, ia sengaja mengambil cuti hari itu. Meskipun mengambil cuti, ia harus tetap absen di kantor agar tidak kena tegur oleh atasannya.
"Ma, Wisnu ke kantor dulu ya? nanti Wisnu temani mama pergi ke dokter jam 10. Wisnu harus absen dulu ke kantor." Mama Wisnu hanya mengangguk mengerti. Laki-laki itu dengan cepat menghilang dari balik pintu. Suara mobilnya menandakan jika ia telah meninggalkan rumah itu. Tinggal Vega dan mama yang masih tinggal di dalam.
"Ma, apa mas Wisnu akan setuju dengan perjodohan ini? Vega takut hal tersebut akan membebaninya." Vega berbicara sangat halus pada wanita yang kini duduk di depannya.
"Wisnu itu anak yang baik nduk, mama yakin jika dia akan setuju."
"Vega tidak mau jika mas hanya ingin menikahi Vega karena kondisi mama saja. Itu akan sangat menyakitkan bagi Vega dan mas."
"Nduk, mama hanya ingin anak laki-laki satu-satunya mama mendapat wanita baik untuk jadi istrinya. Kamu wanita terbaik untuk dia nduk." Wanita itu mengelus kepala Vega.
**
Di jalan, Dana menelfon kak Wisnu. Ia khawatir karena laki-laki itu tak memberikannya kabar sama sekali setelah mengantarnya.
"Halo sayang, maaf aku lupa buat ngabarin tadi, ada kepentingan mendesak soalnya." Wisnu masih menyetir mobilnya.
"Iya gak papa, aku cuma cemas saja kak Wisnu tak memberi kabar. Sudah di jalan mau ke kantor kah?" Dana masih bersiap untuk bernagkat ke kantornya. Ia membereskan berkas yang akan dibawanya ke client hari ini.
"Iya aku mau izin sama kantor, mama aku dateng soalnya."
"Mama kak Wisnu?" Dana sangat senang mendengar hal itu. Dirinya sangat berharap bisa bertemu dengan mama kak Wisnu.
"Iya sayang, mama minta diantar check up ke rumah sakit."
__ADS_1
"Mama kak Wisnu sakit?" Wisnu hanya tersenyum mendengar ucapan Dana yang terdengar khawatir. Dirinya tau jika perempuan itu sebenarnya tengah bersemangat karena mendengar mamanya datang ke Jakarta. Tapi, Wisnu tau jika ini bukan saatnya mengenalkan Dana pada mamanya. Ia tak mungkin membawa perempuan itu menemui mama mengingat ada Vega disana.
"Tidak, hanya check up biasa, anjuran dari dokter." Jawab Wisnu pada perempuan itu.
Dana merasa lega akan perkataan Wisnu. Ia menutup telefonnya setelah mengetahui kabar dari Wisnu.
Dana yang mendengar kabar mama Wisnu yang ada di Jakarta ingin sekali menemuinya. Ia berencana untuk menemui mereka sepulang dari bekerja.
Pagi itu setelah datang ke kantor, Dana langsung bersiap untuk pergi lagi ke perusahaan tempat clientnya. Ia harus meminta maaf pada client yang bermasalah dengannya beberapa hari yang lalu.
"Maaf pak karena tak bisa menyelesaikan kontrak dengan bapak, ini saya perkenalkan pada bapak pak Rindang yang akan meneruskan menjadi konsultan untuk perusahaan bapak."
"Makanya, jangan berani menentang saya. Yang namanya konsultan itu, harusnya ya nurut juga sama client. Ini malah menolak kemauan client, gimana sih!" Dana hanya bisa sabar mendengar ucapan client nya itu. Kak Rindang dan kak Lita juga hanya tersenyum mendengar ucapan dari client mereka.
Setelah berdiskusi dan perkenalan, Mereka bertiga pamit untuk meninghalkan perusahaan itu.
"Gila ya, kayaknya aku bakal stress ngadepin dia." Kata Kak Rindang setelah keluar dari pintu perusahaan.
"Sabar ya kak, semua akan berlalu" Dana menepuk-nepuk pundak seniornya itu. Mereka lalu memasukki mobil dan melaju menuju tempat mereka bekerja.
Setelah seharian bekerja, Dana sangat bersemangat ketika jam telah menunjukkan pukul 4 sore. Tak seperti biasanya ketika ia lembur, hari ini ia sangat bersemangat untuk pulang tepat waktu.
"Kak aku duluan ya?" Dana berlalu tanpa menunggu jawaban dari kak Lita. Kak Rindang yang melihat perempuan itu keluar dari ruangan divisinya langsung menatap kak Lita. Mereka tampak keheranan melihat tingkah Dana yang begitu semangat.
"Kesambet apa dia? seseneng itu kah ngelepasin 1 client?"
"Padahal gaji dia dipotong bulan ini." Jawab kak Lita masih melihat ke arah perginya Dana.
__ADS_1
Mereka berdua hanya bertatapan tak mengerti.
...****************...