JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
RENGGANG


__ADS_3

"Batasan apa yang kamu maksud di sini Wan?" tanya Dana menyusul Awan. "Bisa-bisanya kamu nuduh yang enggak-enggak sama kakak aku juga?" Perempuan itu benar-benar kesal dengan tuduhan Awan yang tak berdasar pada dirinya.


"Aku cuma bilang 'kalau!" kata Awan mencoba membela diri.


"Tuduhan yang tak berdasar bakal jadi seperti ini Wan! hati-hati kalau ngomong ya!" kata Dana menatap marah pada Awan. "Duduk kita ngobrol! gak suka aku seperti ini sama kamu! gak dewasa tau gak!" kata Dana menarik kursi di ruang makan.


"Apa definisi dewasa buat kamu? usia? fine kamu lebih tua dari aku jadi kamu sok dewasa begitu? Dan, aku ini kepala rumah tangga di sini, aku gak suka kalau kamu perlakukan aku seperti anak kecil! selalu nganggep aku gak dewasa! cara kamu nasehatin aku, cara kamu buat ngobrol sama aku keliatan kalau kamu ngenggep aku remeh tau ga! kamu fikir aku suka diperlakukan seperti ini sama kamu? kamu selalu menganggap apa yang kamu bilang ke aku itu adalah nasihat terbaik kamu sebagai orang yang lebih dewasa dari aku. Kamu sadar enggak? hah! kamu posisikan diri kamu jadi aku deh!" Dana terdiam mendengar ucapan Awan. Ia tak menyangka jika niat baiknya untuk selalu terbuka dan membicarakan semua hal bersama tampak buruk di mata Awan.


"Pikir dulu!" Awan lalu meninggalkan rumah. Ia menyaut kunci mobil yang ada di atas meja dan pergi begitu saja.


Malam itu, Awan benar-benar tak pulang ke rumah. Dana hanya menunggu Awan di ruang tamu tanpa tertidur. Pikirannya benar-benar kalut memikirkan Awan. Dana tak menyangka jika Awan berfikiran seperti itu tentang dirinya.


Mata Dana terbuka ketika perlahan sinar matahari dari celah jendela menerpanya. Dana mencoba untuk menelefon Awan lagi, namun hasilnya bisa dengan mudah di tebak. Nihil! Awan mematikan ponselnya. Pertengkaran malam itu adalah pertengkaran terbesar yang pernah mereka rasakan selama menikah.


Dana Wan ini rumah kamu, tak sepantasnya kamu pergi dari rumah dan tidak pulang. Kalau kamu tidak merasa nyaman karena aku di rumah ini, take your time. Aku menginap di tempat Arin, kamu bisa pulang ke rumah. Kunci aku letakkan di atas pintu. √


Pagi itu, Dana sengaja mampir ke kost Arin membawa koper berisi barang-barangnya.


"Ngapain?" tanya Arin ketika membuka pintu kostnya. Ia melihat aneh ke arah Dana yang membawa koper ke tempat tinggalnya.


"Holiday!" kata Dana menerobos masuk.


"Gak, gak! ngapain bawa koper? kamu di usir sama Awan? emang kurang ajar ya dia! biar aku bilang sama dia, aku marahin dia!" kata Arin menekuk lengan bajunya.


"Heh! tugas kamu tu cuma menerima aku buat staycation di sini. Oke?" kata Dana tersenyum.


"Gak! kost aku sempit! pulang-pulang!" kata Arin mendorong Dana ke luar dari kost nya.


"Mba jangan dong!" rengek Dana.


"Gak! gak ada! kamu gak ngebolehin aku marah sama Awan, berarti kamu harus beresin masalah kamu sendiri! dah pulang sana!"


"Jangan! aku tinggal di mana," kata Dana mencoba berpengangan pada pintu kamar.


"Di rumah lah sama Awan! ada orang punya rumah gangguin orang ngekost? gak ada pulang sekarang!" paksa Arin masih menarik Dana keluar dari kamar kostnya.


"Jangan dong mba! aku yang bayar makan deh!"

__ADS_1


"Gak! pulang sekarang!"


"Makan siang, pagi, sore, malem deh!" bujuk Dana pada Arin.


"Oke!" jawab Arin melepaskan tangannya dari Dana.


Dana lalu menceritakan pertengkarannya dengan Awan. Tak semuanya, hanya saja ia menceritakan poin yang menjadi permasalahan mereka berdua.


"Hah? cuma karena Angit? kocak!" kata Arin kaget.


"Makanya... gak berdasar kan mba?" kata Dana pada Arin.


"Sebenernya ada benernya sih Dan, mungkin Awan gak suka kamu dekat dengan laki-laki lain. Harusnya bagus lah, tandanya dia sayang sama kamu." kata Arin tersenyum.


"Sayang? aku bilang i love you aja gak pernah di balas!" Dana melipat tangannya ke depan.


"Love you too." jawab Arin memberikan simbol cinta ala korea.


"Ih bercanda mulu, serius!" kata Dana kesal pada Arin.


"Dan, sayang itu gak perlu di ucapin aja sudah kelihatan. Aku yakin Awan sayang sama kamu. Kalau enggak, gak mungkin lah dia gak ngapa-ngapain kamu." kata Arin menatap Dana dengan tatapan menelidik.


"Kamu udah kan sama dia?" tanya Arin memastkan.


"Apaan sih kok jadi ke sana!" Dana menepuk lengan Arin kesal.


"Dana, you know what i mean!"


"Gak gak ngerti!" kata Dana menoyor kepala Arin.


"Dah ah kamu gak ngerti-ngerti! Intinya, dia cemburu jadi kamu harus jaga perasaan dia. Ya aku tahu susah pasti aku tau lah kamu temenan sama semua orang, kamu temenan sama Angit juga, tapi kamu juga harus pikirin Awan, Kalau mau pernikahan kamu awet. Turunin ego kamu juga. Aku yakin nih, Awan pasti punya caranya sendiri buat nyelesaiin masalah. Tinggal kamu kasih dia kesempatan, tunggu dia belajar. Semuanya itu tentang adaptasi dan proses Dana." Dana lalu menatap Arin dengan serius. Ia mencoba mencerna ucapan teman baiknya itu. "Kamu gak kerja?" tanya Arin beranjak dari posisi duduknya.


"WFH!" Dana lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Arin.


"Enak ya? nih lama-lama aku aku pindah ke tempat kamu kerja tau gak!" kata Arin berkacak pinggang.


"Pindah aja! bagus lah aku ada temen makan siang baru." kata Dana dengab santai.

__ADS_1


"Kamu kira pindah kerja kayak milih makanan di warteg!" Kata Arin menyubit tangan Dana. Dana hanya mengaduh kesakitan karena ulah dari temannya.


Hari itu, Arin meninggalakn Dana yang sedang bekerja di kostnya. Sementara itu, Awan pulang ke rumah setelah semalaman pergi meninggalakan Dana. Ia sudah menduga jika Dana benar-benar meninggalkan rumah. Awan lalu berjalan menuju arah dapur untuk mengambil minum.


Dilihatnya di atas meja, sebuah roti dan selai telah tertata rapi di meja makan. Ada notes di atas meja yang ditinggalakan oleh Dana.


'Kalau kamu pulang, jangan lupa sarapan. Aku pergi beberapa hari ke kost Arin. Take your time Wan!'


Awan menghela nafas berat. Ia mengusap wajahnya kasar. Awan lalu memakan roti itu. Ia lalu bersiap untuk pergi ke kantor.


***


Sudah beberapa hari semenjak Dana pergi dari rumah. Awan hanya menatap kosong ruang tamu yang tampak sepi malam itu. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak. Tak ada gurauan dan ocehan Dana di rumah itu. Awan benar-benar tak tahan lagi. Ia menyaut kunci mobilnya dan pergi dengan mobil Miliknya.


"Kamu sampai kapan mau numpang di sini?" tanya Arin menyindir Dana.


"Sampai Awan jemput." kata Dana pada Arin.


"Jadi kalau dia gak jemput kamu gak akan pulang?"


"Hem," angguk Dana santai.


"Dana! please ya, jangan libatin aku di tengah kalian, oke?"


"Siapa yang libatin, aku cuma nginep di tempat kamu, tenang aja." kata Dana meyakinan Arin.


"Gak bisa! aku telfon Awan sekarang buat jemput kamu!"


"Jangan dong!"


"Gak, pokoknya aku telfon sekarang!" kata Arin mencari kontak hanphone milik Awan.


Tok, tok, tok!


Dana dan Arin saling memandang menebak siapa orang yang mengetuk pintu kostnya malam-malam.


Dana lalu berdiri dan membuka pintu itu perlahan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2