JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
KEBETULAN YANG TAK TERENCANA


__ADS_3

Malam itu, setelah menonton, Wisnu dan Dana pergi makan malam di salah satu restaurant. Mereka sengaja untuk mengambil temoat duduk di dekat jendela. Pelayan memberikan menu kepada mereka berdua.


"Mau pesan apa kak?" tanya pelayan itu ramah.


"Stawberry squash 1, Matcha latte 1 sama spagetti 2 ya mba." Kata Wisnu pada pelayan itu. Dana hanya tersenyum mendengar kak Wisnu berbicara.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya kak Wisnu keheranan.


"Kamu aneh, nonton film malah nonton aku, Sekarang pesen makanan kak Wisnu doang yang pesen." Kata Dana masih menatap lawan bicaranya itu.


"Tapi bener kan kamu mau pesen itu tadi?" tanya kak Wisnu sambil tertawa.


"Ya bener sih, sampe hafal ya saking gak pernah ganti menu lain." Mereka berdua tertawa karena ucapan Dana.


Mereka berbincang sambil menyantap makanan yang telah disediakan di atas meja. Setelah makan, Dana dengan sengaja izin untuk ke toilet. Ia berbohong pada kak Wisnu. Sebenarnya Dana pergi ke kasir untuk membayar bills. Ia tau, jika tak seperti itu, kak Wisnu pastilah akan membayar semuanya.


Saat Dana berdiri di depan kasir, tak sengaja seseorang menyenggolnya.


"Oops, maaf." Kata perempuan yang ada di depannya. Dana mengambil dompetnya yang terjatuh di lantai.


Dia merasa tak asing dengan perempuan itu. Perempuan tadi hanya menatapnya dengan sinis. Tatapannya kepada Dana membuat ia risih dan memilih menyingkir dari sana secepat mungkin.

__ADS_1


Saat ia berbalik, Dana melihat orang yang ia kenal berdiri di depannya. Laki-laki itu hanya diam tanpa merubah ekspresinya melihat Dana.


"Sayang, udah kan, ayok bayar dulu, setelah ini kita shopping kan?" perempuan itu terlihat sangat manja menempel pada laki-laki itu. Ia adalah Awan. Seperti dugaannya, adik kelas yang dijodoh-jodohkan dengannya sudah memiliki pacar. Dana sama sekali tidak kaget melihat pemandangan yang ada di depannya. Ia hanya berlalu meninggalkan mereka berdua tanpa menghiraukannya.


"Maaf lama." Kata Dana pada kak Wisnu. Kak Wisnu hanya tersenyum melihatnya.


"Sudah? yok?" kak Wisnu yang sudah selesai dengan makanannya segera mengajak Dana untuk pulang. Ia tau jika Dana tak suka pulang terlalu larut.


Kak Wisnu menuju kasir untuk membayar makanan.


"Sudah aku bayar, yok?" kata Dana merangkul tangan kak Wisnu. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu. Ia tak ingin bertemu dengan Awan sekali lagi.


"Kamu tuh, masa cewe yang bayar sih, aku gak enak lah." Kata kak Wisnu pada Dana saat berjalan keluar dari resto itu. Dana hanya tersenyum mendengar perkataan kak Wisnu.


Awan masih mengawasi perempuan itu dari dalam mobil. Ia yang penasaran dengan siapa perempuan itu pergi. Ia pun berpura-pura menerima telefon untuk menghindari kecurigaan pacarnya. Awan menerima telefon di luar mobil. Ia tersenyum sinis ketika melihat perempuan yang dijodohkan mama padanya ternyata tak lebih baik dari yang ia kira.


Awan melihat Dana merangkul tangan seorang laki-laki di sana. Sedikit banyak ia tau siapa laki-laki itu. Bagaimana mungkin ia tak tau jika laki-laki itu adalah alumni di sekolahnya dulu. Walaupun berbeda akademi, tapi orang yang bersekolah di akademi semi militer memang mempunyai lingkungan pertemanan yang luas. Jadi ia bisa mengenali orang itu bahkan dari jauh.


"Wisnu." kata Awan bermonolog. Matanya memicing melihat Dana yang terlihat akrab dengan laki-laki itu. Ketika Ia melihat kedua pasangan itu mendekat, Awan masuk ke dalam mobilnya. Ia menghidupkan mesin dan berlalu di depan mereka berdua.


"Awas kak," Dana sedikit terkejut melihat mobil yang tiba-tiba melaju di depan mereka.

__ADS_1


"Gila ya, di parkiran aja ngebut!" Dana terlihat kesal dengan ulah pengendara itu. Namun perempuan itu menyadari sesuatu. Itu adalah mobil Awan. Ia kenal betul dengan plat mobil Awan. Bagaimana tidak, Dana sudah sering melihat mobil itu sebelumnya.


Dana berusaha melupakan kejadian tadi. Ia tak ingin Awan merusak moment nya bersama kak Wisnu. Kak Wisnu mengantar Dana ke kost seperti biasa. Sebelum Dana turun dari mobil kak Wisnu, laki-laki itu mengenggam tangan perempuan di sampingnya.


"Aku janji, aku tak akan pergi lagi." Netra Dana membulat mendengar kata-kata itu. Ia tak menyangka jika hubungannya dan Kak Wisnu bisa berjalan sejauh ini. Ia hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata manis dari kakak kelasnya itu. Dana mengangguk tanda mengerti. Laki-laki itu melepaskan genggaman tangannya pada perempuan itu. Wisnu melaju dengan mobilnya setelah melihat Dana memasukki gerbang kostnya.


Hati perempuan itu bagaikan dibawa melambung tinggi ke awan. Ia sampai tak menghiraukan bapak kost yang memanggil namanya dari jauh. Dana terlihat sangat kegirangan memasukki kamar kost nya.


Dana ingin sekali menceritakan hal ini pada kak Sad sepupunya.


"Halo?" kata kak Sad sedikit mengeraskan volume suaranya. Dari dalam telefon Dana tau jika kakaknya itu sedang berada di luar rumah.


"Kakaku yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung." Kata Dana sangat kegirangan.


"Kenapa?" tanya kak Sad masih dengan nada yang tinggi. Mungkin karena bising ia sedikit mengeraskan suaranya.


"Aku seneng banget hari ini..." kata Dana pada sepupunya itu. Ia menceritakan semuanya pada kak Sad. Kak Sad tentu saja senang mendengar cerita dari adik sepupunya itu.


"Jadi udah jadian?" perkataan kak Sad membuat Dana berfikir keras. Kak Wisnu memang tak pernah menyatakan cinta padanya. Seketika Dana merubah ekspresinya. Ia bingung dengan hubungan yang dijalaninya dengan kak Wisnu.


"Gandengan tangan sama bilang kayak gitu kira-kira udah jadian belum sih kak? Kak Wisnu gak pernah bilang cinta tapi sama aku." Dana menjadi bimbang dengan sikap yang ditunjukan kak Wisnu padanya. Ia benar-benar tak tau bagaimana cara berpacaran. Dari dulu, Dana memang selalu menolak laki-laki yang mendekatinya. Menurutnya, berpacaran adalah hal yang tidak menguntungkan jika dilakukan saat masih bersekolah. Ia yang sangat ambisius memilih untuk tak berpacaran daripada hal itu mengganggu akademisnya.

__ADS_1


"Dia gak pernah bilang suka sama kamu? parah sih! Kamu tanya lah sama orangnya, walaupun aku teman baiknya aku kan gak tau dia deketin kamu niat mau macarin atau cuma mau berteman. Saran aku sih pastiin Dan." Perkataan kak Sad benar-benar membuat Dana takut. Ia takut jika sebenarnya dirinya menaruh harapan tinggi pada laki-laki itu. Belum tentu perasaan kak Wisnu sama dengan yang ia rasakan. Malam itu, Dana memikirkan semua kemungkinan terburuk yang akan ia terima tentang jawaban yang akan diberikan kak Wisnu padanya.


...****************...


__ADS_2