
"Kalau begitu, saya pesankan makanan untuk makan malam." Awan lalu memesan makanan untuk mereka. Dana lalu ditarik masuk oleh teman-temannya. Disusul Awan yang masuk ke dalam.
Tak lama, makanan yang Awan pesanpun datang. Mereka semua merasa kaget karena Awan memesan berbagai jenis makanan. Pizza, ayam, mie, bahkan minuman yang mungkin akan membuat mereka semua merasa tak mampu menghabiskannya.
"Banyak banget kamu belinya?" tanya Dana pada Awan berbisik.
"Aku gak tau mereka sukanya apa." Kata Awan berbisik. "Silahkan dimakan." kata Awan ramah.
"Lulus" kata Arin singkat. Dana hanya menghela nafas karena paham apa yang dimaksud oleh temannya itu.
"Setiap hari jemput Dana?" tanya Dina pada laki-laki itu.
"Iya, kalau antar kadang enggak sih, Dana suka gak mau soalnya." jawab Awan tersenyum.
"Oke lulus." kata Dina
"Apaan sih Din?" tanya Dana pada temannya itu. Ia menepuk lengan Dina.
Awan yang melihat ada saus yang menempel di tangan Dana lalu mengelapnya dengan tissue. Ia juga mengelap mulut perempuan itu.
"Lulus," kata Difa.
"Malam ini, Dana tidur sini." kata Wiwi pada mereka.
"Wi, aku harus beres-beres rumah. Aku baru saja pindah." kata Dana pada temannya.
"Gak papa sayang, biar aku yang beresin. Sehari saja ya?" kata Awan membelai rambut istrinya.
"Aku gak bawa baju." kata Dana pada mereka.
"Baju Arin kan ada." kata Wiwi
Dana mau tak mau harus menuruti kemauan teman-temannya. Wiwi yang mendengar hal itu lalu tersenyum.
"Lulus," kata Wiwi tersenyum.
Setelah makan, dan berbincang dengan teman-teman Dana, Awan lalu pamit untuk pulang. Ia berjanji akan menjemput Dana esok pagi buta. Bagaimanapun, Dana tak membawa baju untuk bekerja besok. Dana tak mengantar Awan ke depan. Ia ditahan oleh teman-temannya untuk tinggal di dalam kamar.
"Next!" kata Dina pada Bila. Dana hanya mengerutkan dahi tak paham. Bila lalu keluar dari kamar menyusul Awan.
"Wan?" Bila sedikit berteriak membuat Awan yang akan masuk ke mobil pun berhenti.
__ADS_1
"Kenapa mba?" tanya Awan pada teman Dana. "Boleh minta nomor handphone kamu? aku di Jakarta beberapa hari. Takutnya aku butuh sesuatu." Awan mengerutkan dahi mendengar ucapan teman istrinya itu. Bila tampak tersenyum menggoda Awan. Tapi, hal tersebut justru membuat Awan risih.
"Kalau butuh bantuan, nanti bisa hubungi Dana saja. InsyaAllah nanti kalau Dana dan saya bisa bantu, pasti kami bantu." Jawab Awan tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi pulang. Assalamualaikum," kata Awan yang langsung masuk menuju mobilnya.
Bila yang melihat sikap Awan lalu berlari menuju kamar dengan senang. Seluruh mata tertuju padanya. Difa dan Arin sangat penasaran akan hasil dari temannya itu.
"Gimana?" tanya Arin
"Lulus," kata Bila bersemangat memeluk Dana. Dana yang mendengar ucapan temannya itu haya tersenyum heran.
"Selamat anda telah lolos tahap penyisihan." kata Dina menyelamati Dana.
"Kalian ini ya bener-bener ya?" kata Dana tertawa.
Mereka lalu mengibrol banyak hal. Tentang karir yang mereka kini jalani, tentang pasangan dan juga yang paling inti adalah tentang Dana yang telah menikah secara mendadak beberapa hari yang lalu.
"Jadi gimana?" tanya Arin pada Dana.
"Apanya?" tanya Dana balik tak mengerti ucapan Arin.
"Udah begituan belum?" pertanyaan Dina benar-benar membuat Dana kaget. Ia sampai tersedak mendengar ucapan Dina.
"Apaan? ini enak sumpah, cobain deh." kata Dana mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Salting dia." kata Bila yang masih memakan pizza di tangannya.
"Kita nunggu nih." Kata Difa yang menatap Dana.
"Belum." Dana lalu mengambil makanan yang ada di depannya dengan santai.
"What?" kata Arin kaget. "Kok belum?" Arin merapatkan posisi duduknya ke arah Dana. Sekuruh temannya pun melakukan hal yang sama. Mereka menunggu cerita Dana.
"Ya belum aja. Lagi pula baru juga berapa hari. Aku sibuk pindahan, sibuk kerja, ini itu." kata Dana menjelaskan.
"Normal kan dia Dan?" celetuk Difa asal.
"Ih, normal lah Dif. Orang dia pernah punya pacar juga." kata Dana mencibik.
"Tapi kalau normal nih Dan, walaupun baru nikah, kan kalian tidur 1 kamar. Gak mungkin dia tahan buat gak ngapa-ngapain kamu." kata Wiwi sangat frontal.
"Aku gak menarik mungkin buat dia. Kemarin saja dia memilih tidur di kamar lain."
__ADS_1
"What?" semua temannya pun terkejut karena cerita Dana.
"Gak bisa, gak bisa! jadi kalian belum ngapa-ngapain? kissing? peluk? atau deep talk gitu seenggaknya?" kata Difa gemas.
"Boro-boro." kata Dana yang juga terlihat putus asa.
"Kamu tau kan caranya? jangan bilang selama itu kamu jomblo, selama itu juga kamu gak ngerti cara ngelakuinnya?" kata Tiya pada Dana.
"Ngelakuin apa?" tanya Dana.
"Gak bisa mba, harus diajarin dia. Gak bisa beneran!" kata Difa sebal.
"Dana cantik sayangku cintaku, kamu itu harus bisa menggoda suami, biar dia klepek-klepek sama kamu. Kalau begini, yang ada kalian terus aja seperti pacaran." kata Arin dengan sabar.
"Tapi kan aku perempuan mba, masa aku yang memulai?" kata Dana cemberut.
"Gak penting mau cewe atau cowo yang memulai. Pokoknya, kamu harus inisiatif." kata Arin memberi petuah.
"Aku harus gimana?" tanya Dana merapatkan badan menunggu tips dari temam-temannya.
Arin lalu memberikan tips dan trik pada Dana. Sesekali teman-temannya yang lain juga menambahkan perkataan Arin. Dana seperti sedang berkonsultasi dengan pakar rumah tangga yang harmonis walaupun diantara mereka belum ada yang menikah. tapi Arin dan teman-temannya terdengar seperti expert dalam bidang menggoda laki-laki.
Tak lama, Awan memberi kabar pada Dana kalau ia sudah sampai di rumah. Awan lalu mandi dan berganti pakaian. laki-laki itu lalu mengecek handphone nya. Ternayata tak ada jawaban dari istrinya. Ia berkali-kali me-restrat handphonenya berharap Dana membalas pesan yang ia kirim.
"Kok gak di balas-balas ya?" kata Awan bermonolog. Awan lalu mencoba untuk berbaring di kasurnya dan mencoba tidur.
Di sisi lain, Dana dan teman-temannya masih tertawa menertawakan hal lucu yang mereka bicarakan. Ia sama sekai tak membuak handphone yang kini ia letakkan di atas tempat tidur Arin.
"Kamu udah beli baju dinas?" tanya Difa pada Dana.
"Gak beli, kalian tau, tante aku ngasih aku kado itu. Terus yang buka kadonya tau gak siapa? si Awan. Asli aku malu banget." kata Dana. Wajah perempuan itu merah padam ketika menceritakan pengalaman memalukkannya pada teman-temannya.
Sudah 1 jam Awan mencoba untuk tidur. Tapi yang ia rasakan sekarang hanya kegelisahan karena Dana tak kunjung membalas pesannya. Berulang kali ia membuka handphone nya untuk melihat pesan yang ia kirim untuk istrinya.
"Ini orang gak khawatir kah suaminya pulang sendiri? bisa-bisanya pesanku gak dibaca." kata Awan kesal.
"Kita punya hadiaj buat kamu." kata Tiya pada Dana. Sekotak kardus berukuran TV diturunkan dari atas lemari. Dana sempat kaget karena ukuran kotak itu mungkin muat untuk menampungnya di dalam sana.
"Buka!" kata Arin pada Dana.
Perempuan itu dengan semangat membuka kotak yang ada di depannya. Ia menerka-nerka apa yang mereka berikan untuknya sebagai hadiah pernikahan.
__ADS_1
...****************...