
Dana kembali ke kost setelah bertemu dengan Arin dan mengobrol lama di cafe lain. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Dana menghembuskan nafas panjang mengingat kejadian yang baru saja ia alami.
Rasanya hatinya kembali luluh atas senyum kak Wisnu hari ini. Hati yang telah lama ia simpan hanya untuknya. Cinta pertamanya.
Dana mengambil Hand phone yang ada di tasnya. Ia melihat pesan dari kak Sad.
Kak Sad Kamu ketemu Wisnu tadi? √√
^^^Dana Kok tau?√√^^^
Kak Sad Dia chat aku, Wisnu ngajak ketemu seperti dulu.√√
^^^Dana Entahlah, √√^^^
Kak Sad Sudah gak ada rasa nih?√√
^^^Dana Takut canggung,√√^^^
Kak Sad Nanti aku bantu.√√
^^^Dana Terserah sih, aku ngikut aja kak, √√^^^
Kak Sad Nah gitu dong. Oke nanti aku atur.√√
Dana tak yakin apakah ia akan berhasil dengan kak Wisnu. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya yang tak ia ketahui dari mana sumbernya. Mungkin ia takut jika kak Wisnu hanya main-main dengannya. Dana takut jika ternyata laki-laki itu menganggapnya tak lebih dari adik. Ia juga takut jika kak Wisnu meninggalkannya seperti dulu.
Tak lama setelah itu, ia pun tertidur. Hari- hari dilalui dengan kehidupan yang normal. Dana bekerja seperti biasa, beberapa kali juga ia menemui Arin untuk sekedar melepas penat setelah bekerja. Sampai waktunya Dana pulang ke kampung halamannya.
Dana memang sering menyempatkan waktu 1 bulan sekali untuk kembali ke kampung halamannya. Mama akan mengomel jika ia sibuk dan tak bisa pulang untuk megunjunginya. Jadi, Dana memutuskan untuk pulang ke rumah hari Jumat besok.
Ia membereskan baju yang akan dibawanya besok. Tak banyak, mungkin hanya 3 stell baju saja. Ia memasukkan pakaian ke dalam koper yang lebih kecil dari yang dibawanya bulan lalu.
Dana yang memang sering berpergian, sengaja untuk membeli beberapa koper dangan ukuran berbeda agar memudahkannya untuk mengemas pakaian.
Mama menelfon ketika ia sedang berkemas.
"Hallo ma?"
"Halo nduk, sedang apa?"
"Berkemas, aku pulang besok sore ma. Dana tak dapat tiket kereta, jadi pulang naik bis deh." Dana mengatakannya dengan nada memelas.
"Sudah beli tiketnya?" kata mama di balik telefon.
"Belum, besok pagi mau beli."
"Ya sudah, tak usah beli. Kamu pulang sama Awan saja nduk."
__ADS_1
"Ih, mama apaan sih? enggak mau!" Dana sangat sebal mendengar ucapan mama saat itu. Menurutnya ucapan mama benar-benar tak masuk akal. Bagaimana mama bisa mempercayakan anak perempuannya pada laki-laki yang bahkan baru dia kenal beberapa tahun.
"Dari pada naik bis, mending kamu naik mobil sama Awan, ya kan?" mama masih saja mencoba untuk membujuk anaknya.
"Pokoknya gak mau mama, mending Dana naik bis lah!"
"Gak aman sayang, Sudah pokoknya kamu pulang sama Awan ya? hubungi dia nanti!"
Mama mematikan telefonnya. Dana masih terheran- heran mendengar ucapan dari mama.
"Mama pikir kalau aku pulang sama Awan bakal aman? ih sebel deh, bisa-bisanya mama percaya sama Awan gitu aja? dia pake pelet apa sih ke mama?" Dana menggerutu sebal.
Tak lama setelah mama menutup telefonnya, Dana mendapat telefon dari orang yang tak ia kenal. Nomor itu menelfonnya sampai 2 kali. Dana memang tak pernah menjawab telefon dari orang asing. Namun, karena ia terusik oleh suara HP nya, Dana dengan terpaksa mengangkat telfon itu.
"Halo?"
"Halo nduk, Assalamualaikum?" Dana benar-benar kaget mendengar suara yang tak asing dari balik telefon. Itu adalah suara tante Hesti. Dana yang masih tak percaya, membuka profile dari orang di seberang telfon.
Hesti Utami Puji
Orang itu benar-benar tante Hesti.
"Halo tante, Waalaikumsalam." Katanya mencoba ramah pada tante Hesti.
"Nduk, besok jadi pulang?" kata tante Hesti bersemangat.
"Oh, bagus kalo gitu, Awan besok juga mau pulang. Kamu pulang sama dia aja ya nduk? buat temen Awan dijalan juga biar gak ngantuk."
"Aduh tante, Dana gak enak sama Awan, ngerepotin terus nanti."
"Enggak nduk, lagipula dari pada naik bis kan? mending naik mobil saja sama Awan. Nanti biar dijemput Awan ya?" katanya memaksa.
"Dana mau ke tempat teman dulu tante, gak enak nanti Awan pulangnya kelamaan karena mampir-mampir," Dana mencoba mencari alasan.
"Gak papa, udah pokoknya besok sore jam 5 Awan jemput kamu ke kost ya? Assalamualaikum," kata tante Hesti.
"Waalaikumsalam, halo tante?" Belum selesai Dana berbicara, tante Hesti sudah mematikan telefonnya.
Ia benar-benar kesal dengan hal itu. Dana tak paham mengapa tante Hesti dan mama senang membuatnya tersiksa.
Hari ini, Dana pergi ke kantor seperti biasa. Perempuan itu sengaja berangkat pagi agar bisa pulang lebih awal.
"Hari ini mudik Dan?" tanya kak Lita pada rekan kerjanya itu.
"Iya, mau dibawakan Carica lagi?"
"Hehe, boleh lah," jawab kak Lita bersemangat. Dana memang sering membawakan makanan ke kantor. Dari semua teman-teman kantornya, Ia orang yang paling sering mudik ke rumah. Hal itu membuat teman kantornya sangat senang. Jika Dana mudik, maka makanan akan melimpah ruah di kantor Senin depan.
__ADS_1
"Kak, aku izin pulang jam 3 ya nanti?" kata Dana pada kak Lita.
"Loh, kenapa memangnya? jadwal bus nya lebih awal?" tanyanya keheranan. Dana memang biasa menggunakan bus atau kereta yang berangkat setelah maghrib.
"Iya," katanya tersenyum.
"Ya sudah, gak papa." Dana sangat lega mendengarnya. Ia memang sengaja pulang awal agar punya alasan untuk mudik tanpa Awan.
15.00 WIB
Dana pulang dari kantor tepat waktu. Ia langsung menuju kost. Dana langsung merapikan semua barang-barangnya dan bersiap untuk berangkat. Setelah siap, Dana cepat-cepat mengunci pintu kost dan berlari menuju gerbang depan.
Ia sangat senang karena bisa pulang tanpa Awan. Masa bodo jika mama memarahinya. Ia bisa beralasan jika pekerjaannya selesai lebih awal sehingga akan lama jika menunggu Awan untuk menjemputnya. Alasan yang cukup untuk menghindari pulang kampung 1 mobil dengan Awan.
Dana membuka gerbang kostnya. Betapa terkejutnya dia melihat orang yang telah siap menunggunya di depan gerbang.
"Kamu ngapain di sini?" Dana masih kaget melihat kedatangan Awan.
"Feeling mama memang tak pernah salah," Ia berbicara pada kakak kelasnya itu sambil melipat tangannya di depan. Awan tersenyum sinis padanya.
"Naik!" kata Awan singkat.
"Aku mau naik bus saja, gak usah repot-repot. Bilang saja ke mamamu aku sudah berangkat."
Dana mendengar suara HP yang bergetar. Itu suara HP milik Awan.
"Bilang sendiri ke mama coba?" Awan menunjukan telefon yang masuk di HP nya. Itu telefon dari tante Hesti.
Dana hanya mengendus kesal dibuatnya.
"Halo ma?" kata Awan di dalam telefon. Tante Hesti melakukan video call dengan Awan.
"Halo, sudah sama Dana?" tanyanya bersemangat.
"Sudah, ini calon menantu kesayangan mama!" kata Awan menakan kata-katanya. Ia mengarahkan kamera HP nya pada kakak kelasnya itu.
"Halo sayang, hati-hati di jalan ya? Awan jangan boleh ngebut nanti. Gak usah buru-buru, kalau ngantuk istirahat saja ya nduk?" kata tante Hesti panjang lebar.
Dana hanya tersenyum mengengarnya.
"Iya tante tenang saja, aman."
"Udah ya ma? nanti lagi, keburu sore!" kata Awan singkat. Akhirnya Dana dengan terpaksa menurut untuk ikut Awan naik mobilnya.
Awan sama sekali tak membantunya membawakan koper. Untungnya koper yang ia bawa cukup kecil sehingga Dana tak kesusahan untuk mengangkatnya ke bagasi mobil.
...****************...
__ADS_1