
"Kalian sengaja pulang bareng atau gimana?" tanya tante memecah keheningan. Tante duduk di belakang sementara Dana duduk di samping Awan yang sedang menyetir.
"Ketemu di stasiun tan, sepertinya jatah pulang bulananku dan Awan hampir mirip." Dana masih mengetik pesan untuk kak Wisnu. Dirinya memang sengaja memberi kabar pada laki-laki itu agar ia merasa tenang.
Mereka bertiga lalu sampai di rumah tante Ari. Tante menyediakan handuk untuk Awan mandi. Dana lalu naik ke atas menuju kamarnya. Dirinya memang pernah kuliah di Jogja, oleh karena itu, ia mempunyai kamar sendiri yang tante siapkan jika Dana pulang ke Jogja.
"Awan pakai kamar bawah ya? siapa tau mau tidur." Kata tante pada laki-laki itu.
"Iya tante terimakasih." Tante meninggalkan Awan naik ke atas. Awan lalu mandi dan berganti pakaian agar lebih segar.
Tok tok! Dana mengetuk pintu kamar yang Awan tempati. Laki-laki itu lalu membuka pintu.
"Mau makan nggak? kalau mau, sekalian aku mau buat mie instan." Jam menunjukan pukul 3 pagi. Semua anak tante memang masih terlelap kecuali Nanda. Anak sulung tante.
Awan yang tak bisa tidurpun mengiyakan ajakan Dana. Mereka lalu pergi ke dapur dan duduk di meja makan yang ada di tengah ruangan.
"Nda tambah 1 mie nya." Kata Dana pada adiknya itu.
"Kaya di warteg aja," Kata Nanda pada kakaknya itu.
"Kan kamu yang bilang sendiri mau bikinin aku mie kalo pulang bawa jas yang kamu mau?" Dana duduk di samping Awan sambil menatap adiknya yang masih sibuk mengolah mie instan.
Tak lama kemuadian, mie yang dibuat Nanda pun jadi. Dana tersenyum melihat hal tersebut. Sejak kecil, dirinya memang sangat akrab dengan adik-adiknya. Keluarga Dana bisa dibilang keluarga yang sangat supportif satu sama lain.
"Wih enak nih." Kata Awan ketika melihat 3 mangkuk mie instan di depannya.
"Belum kenalan ya kak? Aku Nanda, adiknya kakakku ini. Sekarang lagi kuliah semester 1 di U*M." Awan menjabat tangan Nanda.
__ADS_1
"Salam kenal ya Nda. Aku Awan." Katanya pada Nanda.
"Kakak yang dijodohin sama kak Dana ya?" Dana yang sedang memakan mie sampai tersedak mendengar ucapan Nanda. Awan yang kaget mendengar Dana pun dengan refleks mengambil minum dan memberikan pada perempuan itu.
"Heh!" Dana memukul pelan adiknya itu menggunakan sendok yang ia pegang.
"Sakit tau!" Nanda mengeluh kesakitan karena ulah kakaknya itu.
Nanda telah menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Dirinya lalu pamit untuk tidur karena ia telah lelah dengan tugas kuliahnya.
"Kamu deket banget ya sama keluarga?" Dana masih mengunyah mie yang ada di mulutnya. Awan yang telah selesai pun menunggui Dana yang masih asyik makan.
"Ya gitu. Aku ini anak pertama, cucu pertama. Jadi, tanteku sama om ku sendiri itu sudah seperti orang tua aku. Bahkan sebelum anak perempuan tante lahir, aku ya seperti anak dia aja." Kata Dana menjelaskan tentang keluarganya.
"Enak ya? mama papa aku itu anak tunggal. Jadi ya sodaraku cuma sedikit." Dana menatap Awan yang sedang bercerita.
"Gak papa, asal deket aja." Dana tersenyum melihat Awan. "Asli deh, aku masih penasaran sama kertas yang kamu berikan ke kakek itu." Dana melanjutkan perkataannya.
"Ya aneh aja, untuk apa kamu berikan kertas padanya?"
"Kamu pernah dengar doa orang tua itu manjur? Aku hanya meminta doa dan restu dari kakek itu " Perkataan Awan semakin membuat perempuan itu mengerutkan dahi. Ia tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak paham.
"Ya pokoknya begitu lah, kamu tak perlu tau." Dana hanya mengangguk mengerti. Dirinya meneruskan menyendok mie yang ada di mangkuk miliknya.
Flashback!
"Aku mau ke kamar mandi dulu." Awan hanya mengangguk mendengar perkataan Dana. Dirinya masih fokus membaca buku yang ada di tangannya. Sesekali laki-laki itu membalik halaman buku miliknya.
__ADS_1
Awan melihat pasangan suami istri itu tertidur dengan pulas. Wanita tua itu tampak nyaman memeluk suaminya dan menyenderkan kepalanya di pundak laki-laki di sampingnya. Sekilas, ia teringat bayangan Rachel yang masih ia cintai. Dirinya merindukan perempuan itu.
Awan membuka halaman terakhir buku yang sedang ia baca. Dirinya mengambil pena yang ada di tas miliknya. Awan menulis sesuatu di kertas itu. Ia tau jika dirinya tak mungkin membangunkan pasangan suami istri itu untuk berpamitan.
Untuk kakek dan nenek
Saya menitipkan surat ini untuk kalian. Nama saya Awan kek, perempuan di samping saya bernama Dana. Sebenarnya, saya telah berdosa karena membohongi kalian. Saya menulis surat ini ingin menceritakan tentang perempuan di samping saya. Kami berdua belum menikah kek. Dia adalah perempuan yang dijodohkan dengan saya 2 tahun lalu. Tapi kami berdua menolaknya karena kami mempunyai orang lain di hati kami masing-masing.
Setelah pertemuan pertama kami beberapa bulan lalu, banyak sekali kebetulan yang saya dan Dana rasakan. Kami sering tak sengaja bertemu, berpapasan dan bertengkar. Entah mengapa, melihat kakek dan nenek mengingatkan saya dengan dirinya. Saya masih tak tau apakah ini adalah jalan dari tuhan untuk kami ataukah hanya kebetulan saja. Tapi yang pasti, hati saya masih belum berubah. Saya belum bisa menerima dia karena ada orang lain di hati saya.
Saya senang melihat kakek dan nenek yang terlihat sangat saling mencintai. Saya harap, hal tersebut akan berlanjut sampai di surga Nya. Semoga saya juga dapat menemukan cinta seperti kalian berdua. Maaf saya dan Dana tak berpamitan langsung dengan kalian. Semoga kita dipertemukan lagi jika tuhan menghendaki. Aamiin...
Tertanda: Zikri Hanif Hikmawan
Awan lalu merobek kertas itu dan melipatnya. Ia menutup bukunya ketika melihat Dana kembali ke tempat duduknya. Ia menyimpan surat itu di dalam halaman tengah buku miliknya.
"Sudah?" tanyanya pada perempuan itu. Dana hanya mengangguk mendengar pertanyaan Awan.
"Sebentar lagi sampai. Jangan ketiduran." Kata Awan pada Dana. Lagi-lagi perempuan itu hanya mengangguk mengerti.
Flashback off!
"Aku ngantuk, aku tidur duluan ya Wan? mamaku mau jemput nanti jam 6, jadi kamu juga bisa beristirahat terlebih dahulu." Dana membereskan mangkuk bekas mereka berdua.
"Biar aku yang cuci." Kata Awan pada Dana. Perempuan itu hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan Awan. Laki-laki itu tersenyum memandang Dana yang berjalan menaiki tangga ke lantai 2 tempat kamarnya berada.
Awan lalu mencuci piring dan bersiap untuk tidur. Dirinya sangat lelah mengingat di kereta ia hanya tertidur sebentar.
__ADS_1
Awan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia berusaha meluruskan otot-ototnya yang sedari tadi sangat pegal. Tak butuh waktu lama mata laki-laki itu telah terpejam. Awan sudah ada di dalam mimpinya.
...****************...