JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
WANITA


__ADS_3

Minggu pagi adalah saat yang tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Itu adalah hal yang mereka semua rasakan. Bercengkrama dengan hangat, tertawa bersama dan menceritakan hal yang menarik untuk mereka bahas.


Seusai sarapan, mama, Dana, Awan dan yang lain lalu duduk di ruang tengah menonton televisi. Mereka bercengkarama dan sesekali tertawa karena lelucon yang terlontar dari teman-teman Dana. Sampai pada siang harinya, beberapa dari mereka pamit untuk pulang ke kota asal masing-masing. Tinggalah kedua mamanya, adiknya, dan temannya si Difa yang masih berada di ruang tengah. Difa memang berasal dari kota yang sama dengan Dana sehingga ia akan mengikuti saran Dana untuk pulang bersama mamanya sore nanti.


Dana yang sedang memotong buah di dapur lalu di tarik oleh mamanya menuju ke halaman belakang.


"Nduk sini dulu." kata mama sedikit berbisik.


"Kenapa mah?" tanya Dana.


"Mama memberikan anaknya sebuah bungkusan berwarna hitam. Dana hanya menatap bungkusan itu dengan keheranan.


"Ini jamu, Mama dapat ini dari teman SMA mama yang baru saja pulang dari Taiwan. Dulu waktu mama muda, mama sering minum ini buat melancarkan peredaran darah. Bagus juga buat reproduksi, kamu minum ya? mama gak pernah mau maksa kamu buat cepet-cepet punya anak sebenernya, tapi kan buat apa ditunda-tunda to nduk?"


"Ma..." Dana menjeda perkataannya. "Oke nanti Dana minum." kata anak perempuan itu tersenyum. Dana tak mau bertengkar dengan mamanya di hari special ini. Menurutnya, apa salahnya mengiyakan ucapan mamanya untuk hal sepele seperti itu.


Dana lalu kembali ke ruang tengah setelah selesai dengan kegiatannya di dapur.


"Nduk sini, mama lagi ngobrol sama Awan, ini lo, kasur kalian kan tinggi, nanti kalo saran mama nih misal kalian udah mau punya anak, mending beli kasur lantai saja. Kayak mama dulu juga seperti itu, jadi nanti baby nya gak tidur di box, bisa lebih terjaga juga. Kalian juga bisa lebih dekat sama anak." Dana hanya menyimak ucapan mama mertuanya. Ia kini duduk di samping Awan yang langsung merangkul Dana.


"Iya ma, nanti kita beli kasur baru." kata Dana tersenyum. Mama Santi dan mertua Dana masih membicarakan soal momongan. Dana hanya menatap mereka dengan senyum. Pikirannya kini sudah berkelana entah kemana. Ia merasa bersalah karena belum bisa mewujudkan impian banyak orang di sekitarnya. Sementara itu, ia ingin tetap teguh dengan prinsip yang selama ini ia pegang.


Awan yang melihat senyuman Dana hanya menatap istrinya dengan seksama. Ia tahu jika perempuan yang kini duduk di sampingnya hanya menebar senyum palsu untuk membahagiakan orang tua mereka.


"Boleh ngobrol?" tanya Difa pada sahabatnya ketika Dana sedang mencuci piring di dapur.


"Boleh lah, masa enggak." kata Dana tersenyum "Mau ngobrol apa Dif?"


"Aku tahu kamu dari jaman kuliah dulu Dan, Aku tahu lah mimpi-mimpi kamu dari dulu. Aku cuma kepikiran aja sama ucapan mama kamu. Ya, cuma mau bilang aja gak ada yang perlu kamu pikirkan. Kamu gak harus membahagiakan semua orang Dan,"


Dana tersenyum mendengar perkataan Difa. Ia lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Thanks Dif,"


"Fokus saja sama kalian, Aku yakin mama kamu juga akan bahagia kalau kalian bahagia." kata Difa pada Dana.


"Kamu bisa hubungi aku kalau perlu apa-apa. InsyaAllah aku siap." kata Difa tersenyum.


Flashback!


"Mama kan sudah bilang, jangan banyak makan coklat! nanti kamu gemuk nduk!"


"Ma, tapi kan Dana ingin, sekali aja. Please!" Kata Dana merengek.


"No, lagi pula ini gak baik untuk kesehatan." kata mama pada anak perempuannya.

__ADS_1


Dana kecil hanya mengendus kesal dan masuk ke dalam rumah.


"Nduk, wanita itu seperti dagangan kalau kata orang dulu. Harus bisa merawat diri supaya dapat laki-laki yang baik. Harus pintar supaya tidak di rendahkan. Harus punya tata krama budi yang luhur untuk bekal kamu di masyarakat dan untuk bekal kamu dalam mendidik anak nanti." Mama duduk di samping anaknya yang masih duduk diam di tempat tidur. Dana masih marah pada mama karena sikap mama yang cukup keras padanya.


"Tapi kenapa wanita harus seperti itu ma? apakah laki-laki juga seperti itu?" Tanya Dana kecil yang masih penuh dengan tanda tanya. Mata anak berusia 12 tahun itupun menatap mamanya dengan mata yang berkaca-kaca. Menurutnya pertanyaan tentang kenapa dan kenapa soal perempuan dan laki-laki pun membuatnya muak. Mama selalu memperlakukannya seperti anak perempaun zaman dahulu. Tentunya dengan tuntutan-tuntutan yang menurutnya tak masuk di dalam akal sehat dari anak perempuan usia 12 tahun.


"Ketika dewasa kamu akan tahu betapa pentingnya merawat diri. Laki-laki beda nduk, wanita memang kodratnya di pilih, sementara laki-laki kodratnya memilih. Mama bilang ini ke kamu juga buat kebaikan kamu sendiri."


"Jadi kalau Dana gemuk dan jelek serta tidak bisa merawat diri tak akan ada yang menikah dengan Dana?" Mama menatap wajah anak perempuannya dengan hangat.


"Kalau begitu baguslah, Dana tak perlu punya anak dan membesarkan mereka seperti mama membesarkan Dana." Dana lalu pergi menianggalkan mamanya yang masih terduduk di ranjang miliknya.


(Hai readers... selingan dikit, ini hanya percakapan dari sudut pandang beberapa keluarga saja ya, mungkin beberapa readers masih mengalami ini, beberapa juga ada yang tidak. Author hanya mengambil sedikit sudut pandang dari keluarga Dana yang memang masih terdapat pembahasan seperti ini antara anak dan orang tua. Semoga bisa diambil pelajaran juga buat kita semua.)


Flashback off!


Sore itu, Dana dan Awan mengantar mama, adik dan Difa di depan gerbang rumah. Tangan Dana melambai ke arah mobil mereka.


"Yok masuk," kata Awan pada Dana. Ia lalu merangkul pundak istrinya sembari berjalan ke dalam rumah.


Dana membereskan bebberapa gelas yang tersisa di atas meja. Sementara itu, Awan melipat karpet yang ada di ruang tengah.


"Wan,"


"Hem?" Awan lalu menengok ke arah istrinya. Dana tampak berfikir sebelum membuka mulutnya.


"Perkataan apa?"


"Aku... aku kepikiran aja sama ucapan mama soal punya anak. Maksudnya, aku takut ngecewain mereka, pasti mereka punya harapan yang besar sama kita. Maksudnya, mungkin kalau mama aku bakal ngerti, tapi mama kamu..." Perkataan Dana terhenti karena pelukan dari suaminya. Pelukan yang entah mengapa membuatnya lupa akan kegelisahannya.


"Yang nikah kita Dan, aku gak ingin kamu memikirkan banyak hal," Dana menatap Awan lekat, entah mengapa tatapan Awan sangat menenangkan hatinya. Matanya seolah berkata kalau semuanya akan baik-baik saja.


***


Hari berganti hari. Selama seminggu itu, Dana sibuk dengan kegiatan kantornya. Tentu saja dengan segudang berkas yang menggunung akibat dari review yang ia buat. Kepalanya sungguh penat dengan pekerjaan itu.


"Hai, gimana harinya?" tanya Awan ketika menjemput Dana di kantor.


"Hai, aku pusing banget, padahal baru tengah bulan. Pingin cepet-cepet selesai." kata Dana memegangi keningnya.


"Kamu kalau di rumah tidur makanya, sudah di kantor kerja, di rumah lembur." Kata Awan memijit bahu istrinya. "Dan, kamu kalau mau resign gak papa loh. Aku masih bisa nanggung kamu." kata Awan pada Dana.


Mendengar perkataan suaminya, Dana sontak menoleh menatap Awan.


"No, ini kerjaan impian aku Wan, dan tentunya impian semua orang. Belum tentu kalau aku keluar bisa dapet lagi." kata Dana menjelaskan.

__ADS_1


"Yaudah, kita bisa pulang sekarang?" tanya Awan pada istrinya. Dana hanya mengangguk menjawab pertanyaan Awan.


Tak lama, merekapun sampai di rumah. Sesampainya di rumah, Dana mendapatkan telefon dari kak Lita.


"Halo kak?" tanya Dana dari telefon.


"Halo Dan? sudah sampai rumah? Bisa minta tolong kirimkan berkas pak Andi padaku? aku butuh buat sekarang soalnya."


"Bisa kak, wait ya aku buka laptop dulu." kata Dana dengan segera membuka laptopnya. Ia lalu mengirimkan file yang diminta rekan kerjanya. Awan yang melihat itu hanya berlalu menuju ke kamar. Dana yang kepalang tanggung dengan pekerjaannya akhirnya memilih untuk meneruskan bekerja di rumah. Bahkan perempuan itu belum mengganti pakaiannya. Ia hanya duduk di lantai dengan laptop yang ada di meja ruang tamu.


Awan melihat Dana yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Ganti dulu Dan," kata Awan pada Dana.


"Iya Wan sebentar, aku buat review 1 client lagi." kata Dana yang masih tak menatap Awan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, Dana masih tak beranjak dari tempat ia duduk.


"Maghrib dulu, mandi juga. Kamu belum ganti pakaian dari tadi." kata Awan pada Dana.


"Iya Wan, 5 menit lagi," kata Dana.


"Dan," kata Awan yang sudah bersiap menunggunya untuk salat maghrib. "Maghrib waktunya pendek." kata Awan lagi.


"Oke, oke..." Dana akhirnya menurut. Ia menutup laptop itu dan bergegas untuk mengambil air wudhu. Mereka lalu salat berjamaah. Setelah itu, Dana mandi dan membersihkan diri. Tak lupa ia memasukkan baju ke dalam mesin cuci. Dana juga langsung mencuci baju yang sudah menumpuk di dalam mesin cuci miliknya.


Sembari menunggu mesin itu bekerja, ia membuka lagi laptop miliknya. Menginput data dan tentunya membuat review.


"Bisa gak kalau di rumah itu gak ngurusin kerjaan?" tanya Awan yang menatap istrinya yang dari tadi sibuk dengan pekerjaannya.


"Wan, kalau gak di cicil bakal numpuk. Kerjaan bulan ini memang sudah menumpuk, kalau gak di cicil gimana coba? kita kan mau pulang minggu ini, kamu mau aku kerja juga besok dirumah? enggak kan?" kata Dana sesekali menengok ke arah suaminya yang kini duduk di shofa ruang tamu.


"Di luar kamu memang wanita karir Dan, tapi di rumah kamu istri aku."


"Apaan sih Wan? please aku gak mau berdebat ya! aku capek serius Wan, please understand me, oke?" Awan tak menanggapi ucapan Dana. Ia hanya berlalu menuju kamar dan berbaring di sana.


Tak terasa, jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Awan yang tak sengaja terlelap pun kini terbangun. Awan masih tak menemukan Dana di tempat tidur mereka. Awan menengok ke sekeliling menunggu kesadarannya pulih.


Setelah Ia benar-benar sadar, Awan berjalan ke luar kamarnya. Ia mencari keberadaan istrinya. Betapa kaget dirinya ketika melihat Dana masih berada di depan laptopnya.


"Belum kelar?" tanya Awan sembari melipat kedua tangannya di depan.


"Belum, wait! Kamu kok belum tidur?" tanya Dana pada Awan.


"Itu kenapa?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2