JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
RUMAH MAMA


__ADS_3

Dana dan Awan pergi setelah berpamitan dengan mama. Mereka berdua melaju mengendarai mobil menuju rumah Awan yang tak begitu jauh dari rumah Dana. Sepanjang jalan, entah mengapa Dana merasa begitu rindu dengan Awan. Ia mengenggam tangan Awan erat dan menyender pada pundak Awan.


"Mau gini terus sampe rumah?" Dana hanya mengangguk menatap Awan yang masih fokus pada kemudinya. "Kenapa?" tanya Awan tersenyum.


"Gak tau, kok bisa ya aku kangen sama kamu padahal kamu di sebelah aku?" tanya Dana heran.


"Gak jadi balik deh, kita cari hotel aja." Kata Awan menggoda istrinya.


"Ih apaan sih Wan! gak jelas deh, kebiasaan!" kata Dana tertawa.


"Tapi mau kan?" tanya Awan menengok ke arah istrinya.


"Enggak," jawab Dana tersenyum.


"Mau?" kata Awan mengulang pertanyaannya.


"Enggak," kata Dana mempererat rangkulan tangannya pada tangan Awan. "Aku lebih kangen mama sih," kata Dana tersenyum.


"Oh gitu, lebih kangen mama?" tanya Awan menggoda Dana.


"Iya,"


"Nanti tidur sama mama ya?" kata Awan merajuk.


"Enggak, sama kamu lah."


"Enggak, sama mama saja."


"Marah coba, jangan marah lah, maaf!" kata Dana tertawa. "Senyum?" kata Dana memaksa suaminya untuk tersenyum. Ia tertawa ketika Awan akhirnya menuruti ucapannya. "Jangan terpaksa dong..." kata Dana tertawa lagi. Tanpa mereka sadari, hal sederhana seperti yang mereka lakukan benar-benar sangat membuat mereka berdua bahagia. Awan sesekali menatap istrinya yang masih menyender di pundaknya.


Tak lama, mobil mereka pun sampai di depan halaman rumah Awan yang cukup luas. Di depan rumah, sudah ada papa yang sedang mencuci motor kesayangannya. Sebenarnya motor itu adalah kepunyaan Awan sewaktu SMA. Papa yang merawat motor itu sekarang. Motor itu terlihat gagah namun antik sehingga terkesan seperti motor yang mahal.


"Assalamualaikum pah," sapa Dana pada papa mertuannya.


"Waalaikumsalam, wah mantu papa dateng, mah? ini mantu yang paling cantik datang mah?" Papa menyambut anak laki-lakinya dan menantu kesayangannya. Ia juga memanggil mama yang masih ada di dalam rumah.


"Waalaikumsalam, ya Allah. Akhirnya Datang, mama kangen banget sama kamu nduk!" kata mama memeluk Dana. Ia lalu mengajak Dana masuk ke dalam rumah.


"Kamar kalian sudah siap di lantai 2, kalian bersih-bersih dulu, makan malam sudah siap, nanti selepas maghrib kita makan sama-sama ya?"


"Wah udah selesai masak mah? Dana gak bantuin lagi astaga, maaf ya mah?"


"Gak papa, nduk. Sudah sana ke atas dulu." kata mama menyuruh anaknya naik ke kamar.

__ADS_1


Dana lalu menuruti mama naik ke atas bersama dengan Awan.


Di dalam kamar, Awan meletakkan koper mereka di atas lemari yang tak terlalu tinggi. Ia membuka koper itu dan mengeluarkan beberapa pakaian untuk ganti.


"Aku gak enak deh sama mama, masa dateng-dateng langsung makan."


"Mama aku memang gitu Dan, tenang aja."


"Tadi yang di depan motor kamu bukan sih?"


"Iya, papa yang ngerawat sekarang, aku sudah gak ada waktu buat ngerawat motor itu lagi. Sibuk kerja." jelas Awan.


"Pantes gak asing," kata Dana melipat kedua tangannya ke depan.


"Pernah liat?" tanya Awan tersenyum.


"Kayaknya, itu motor termahal di SMA yang pernah aku lihat."


"Enggak lah,"


"Gak salah kan? dulu aku sering banget tuh ngata-ngatain yang punya motor itu. Kayak, ngapain gitu anak SMA bawa motor semahal itu. Mana parkirnya di depan ruang guru kan? suka di gunjingin tau gak sama temen-temenku."


"Jadi kamu ngata-ngatain aku? Ya gimana, kalau di parkiran belakang, lecet cat nya mahal. Yaudah berangkat pagi lah aku parkir di parkiran guru."


"Enggak, soib kan aku sama dia."


"Dih! dulu kamu bukan anak organisasi kan waktu SMA? soib dari mana?" tanya Dana.


"Jadi anak futsal makanya," terang Awan singkat.


"Oh iya lupa, kamu ikut futsal ya?" kata Dana tertawa. Awan pun tersenyum mendengar ucapan Dana. Ia menatap istrinya dengan lekat. Awan memperhatikan senyum istrinya. Terlihat lesung pipi yang ada di pipi kanan Dana. Awan seperti terhipnotis oleh senyum manis dari istrinya. Dana menatap Awan yang masih terdiam menatap wajahnya.


"Kamu mau mandi?" kata Dana memecah kecanggungan diantara mereka.


"Iya, pakaian dalamku kamu letakkan di mana Dan?"


"Di dalem kantong itu yang ada resletingnya. Wait, aku ambilkan." kata Dana membantu mencari pakaian milik suaminya. Setelah menemukannya, Dana lalu memberikan pakaian itu pada Awan.


"Mau bareng enggak?"


"Dih! Awan," Dana memukul lengan Awan pelan. Ia lalu mendorong suaminya untuk masuk ke kamar mandi.


Sewaktu salat maghrib, mama, papa, Dana dan Awan melaksanakan salat berjamaah di rumah. Setelah itu, mereka bergegas untuk ke ruang makan menikmati hidangan yang sudah mama masak tadi. Di sana juga ada Bu Lastri asisten rumah tangga Awan yang membantu menghidangkan makanan.

__ADS_1


"Dana bantu bu," kata Dana membawa piring dari dapur ke meja makan. Bu Lastri hanya tersenyum melihat menantu dari keluarga itu yang sangat sopan padanya.


"Wih, sudah dibawakan sama Dana ternyata piringnya." Kata papa pada menantunya.


"Yok makan yok? Bu, makan dulu, bareng sini." kata mana pada Bu Lastri. Mereka berlima lalu makan bersama di ruang makan. Sesekali mereka mengobrol untuk mencairkan suasana.


Selepas makan malam, Mama dan Dana menonton TV di ruang tengah, sementara papa memang sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerja. Papa Awan yang bekerja sebagai kepala sekolah memang terkadang kerja lembur di malam hari.


"Ngobrol apa ini?" tanya Awan yang turun dari lantai 2 rumahnya.


"Gibahin kamu," kata Dana tersenyum.


"Orang lagi gibahin kamu, kamunya malah dateng, dah sana jauh-jauh." Usir mama pada anak laki-lakinya.


"Haduh, ini nih kalo punya mama kompakan sama menantu."


"Bagus dong!" kata Dana tersenyum bangga.


Setelah berbincang dengan mama, Dana dan Awan pun pergi ke kamar untuk tidur. Mereka berdua membersihkan diri sebelum tidur.


"Dan,"


"Hem?" kata Dana yang masih sibuk mengoleskan pelembab ke wajahnya.


"Kamu, lagi bisa enggak?" tanya Awan tampak ragu.


"Bisa apa?" Dana tampak tak mengerti ucapan dari Awan. Awan mendekatkan dirinya pada istrinya. Ia duduk di samping Dana yang masih tampak keheranan dengan tingkah laku suaminya. "Bisa apa?" kata Dana mengulangi pertanyaannya.


"Malam ini, boleh itu?"


"Itu? apa?" Awan lalu memegang tangan istrinya. Hal tersebut membuat Dana sedikit kaget.


"Itu..." Awan tampak sulit menjelaskan maksud dari perkataannya.


"Apa sih Wan? bisa gak kode-kode gak? kamu kira aku cenayang gitu bisa nebak?" kata Dana yang kini tampak kesal.


"Duh..." Awan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tampak frustasi ketika akan menjelaskan pada Dana maksud dari perkataannya.


"Tau ah, kamu ma gak jelas deh! Dah tidur- tidur." kata Dana berjalan ke tempat tidurnya. Ia lalu membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. "Gak tidur?" tanya Dana pada Awan yang masih duduk di tepi tempat tidur.


Awan menghembuskan nafas berat. Ia lalu berbaring di samping istrinya mencoba untuk tidur.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2