
Dana menunggu Awan pulang ke rumah. Seperti biasa, Dana akan menunggu di ruang tamu sampai Awan pulang. Gerimis yang sejak sore tadi turun, kini berubah menjadi hujan yang cukup lebat. Dana mulai cemas karena Awan tak kunjung pulang. Ia juga tak menjawab telefon atau membalas pesan darinya.
"Kemana sih dia?" kata Dana mondar- mandir di depan pintu. Sesekali ia menengok ke luar jendela untuk melihat kondisi di luar.
Suara petir benar-benar membuat Dana ciut nyali. Ia tak biasa berada di rumah sebesar ini ketika hujan. Dulu, ia serang sekali menumpang di kamar teman kost nya ketika hujan petir.
Duar! suara petir yang kencang dan lampu yang tiba-tiba padam benar-benar mengagetkan Dana. Ia berteriak sembari menutupi telinganya. Dana menelefon Awan berkali-kali.
"Angkat dong Wan!" Dana mulai menangis karena merasa ketakutan. Tak lama, Dana mendapat telefon dari seseorang.
"Halo? Ngit!" kata Dana terdengar ketakutan. "Ngit, aku takut! Awan belum pulang, ini hujan mati lampu," kata Dana mencoba menjelaskan.
"Iya, iya ini aku kebetulan lewat di daerah rumah kamu, aku kesana ya?" kata Angit pada Dana.
"Cepetan tolong!" kata Dana memohon.
Tak lama, suara mobil Angit pun terdengar. Dana yang sedari tadi hanya duduk di depan pintu, kini mencoba membuka pintu depan. Ia melihat Angit turun dari mobilnya dan berlari ke arahnya. Dana berjalan ke teras rumahnya menghampiri Angit.
"Tenang, Its oke Dan!" kata Angit memegang tangan Dana. Ia menuntun Dana untuk masuk ke dalam rumah.
Angit membantu Dana mencari lilin dan senter. Ia lalu duduk di ruang tamu setelah menyalakan lilin.
"Masih takut petir?" tanya Angit pada Dana. Perempuan itu tak menjawab pertanyaan Angit. Ia hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. " Awan kemana jam segini belum pulang?" tanya Angit lagi. Lagi-lagi Dana tak menjawab pertanyaan Angit. Ia hanya menghembuskan nafas berat.
"Dan," Angit menyodorkan makanan yang ia bawa untuk Dana.
"Makan, aku tadi mau ngasih ini. Abang aku balik dari Bali, inget kamu suka pie susu jadi aku bawakan." jelas Angit.
"Jauh-jauh cuma mau nganter pie susu? pas hujan?" tanya Dana.
"Di tempatku baru gerimis, Gak tau di sini bakal selebat ini. Lagi pula aku ada janji main sama temen."
"Kali ini sama temen yang mana?" tanya Dana pada Angit.
__ADS_1
"Enggak, ini temen sekolah dulu." Dana mengerutkan dahi karena tak percaya dengan kata-kata temannya. "Serius! kapan sih aku pernah bohong sama kamu?" kata Angit tersenyum.
"Apaan kamu di Jogja bilang mau main sama temen, terus pulangnya siapa yang jemput? siapa tuh yang gak bisa balik? yang tepar mutah di mobil aku? hah? aku sama Dhifa juga yang repot harus bawa kamu balik!" kata Dana melipat tangannya di depan.
"Itu dulu! sekarang enggak separah itu Dan," kata Angit mencoba membela diri.
"Lebih parah tapi?" tanya Dana tertawa.
"Enggak..."
"Iya!" kata Dana mulai berdebat dengan Angit.
"Enggak..."
"Enggak salah?"
"Enggak... Maksudnya iya, hah gimana sih?"
"Kan iya kan?" kata Dana menunjuk Angit. Ia lalu tertawa karena Angit yang salah menjawab.
"Yasudah aku balik! di makan itu pie susu nya!" kata Angit pada Dana.
"Langsung balik! aku udah gak bisa jemput kamu kalo tiba-tiba malem-malem telfon." kata Dana pada temannya
"Iya bawel!"
"Makasih ya?" kata Dana dari depan pintu. Belum juga Angit sampai mobil, Awan tampak datang mengendarai mobilnya. Angit tampak berbincang sebenatar dengan Awan sebelum akhirnya ia melaju dengan mobil miliknya.
"Udah pulang?" tanya Dana tersenyum. Awan tak menjawab pertanyaan Dana. Ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucap sepatah katapun.
"Orang kalau masuk rumah itu salam!" kata Dana yang masih berdiri di depan puntu masuk.
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Sudah makan?" tanya Dana menyusul Awan. "Tadi Angit datang bawa pie susu, kakak dia baru pulang dinas dari Bali katanya. Sini tas nya," Kata Dana mencoba mengambil tas yang Awan pegang.
"Aku bisa sendiri!" Awan meninggalkan Dana menuju ke kamar.
"Kamu masih marah soal tadi pagi?" tanya Dana menyusul Awan ke dalam kamar.
"Kamu ingat aku pernah bilang apa ke kamu?" tanya Awan tampak serius.
"Oke, Angit ke sini cuma mampir sebentar, dia cuma anter pie susu doang buat aku. Lagi pula aku berterimakasih sama dia karena dateng di saat yang tepat, tadi itu..."
"Tepat di saat aku gak ada di rumah maksudnya?" kata Awan meninggikan nada suaranya.
"Kebetulan Wan, lagi pula tadi mati lampu, lalu dia telfon jadi ya syukur dia datang buat nolong aku."
"Jadi kesempatan? berduaan di dalam rumah gelap gitu?" Awan menatap Dana dengan penuh amarah.
"Apaan sih Wan? gak gitu! Aku nih telfon kamu berkali-kali, aku cemas kamu gak pulang-pulang dari tadi, aku takut di rumah sendiri Wan! tapi kamu gak angkat telfon aku, kemana aja? harusnya kamu bersyukur temen aku dateng terus dia juga nolongin aku. Kamu berlebihan tau gak!" jelas Dana panjang lebar.
"Denger ya Dan! Jangan kamu jadikan mati lampu sebagai alasan! manja kamu sama laki-laki lain? gak bisa idupin lilin sendiri hah! gak bisa? mati lampu jadi buta gitu?" Kata Awan menekan kata-katanya.
"Ucapan kamu itu lo Wan!" Dana mulai terbawa emosi ketika mendengar ucapan Awan yang sudah terlampau batas.
"Ya memang kan? selalu cari alasan soal teman kamu itu!" Awan menjeda ucapannya.
"Gak tau sih teman beneran atau teman berkedok lain!" kata Awan menyindir.
"Cukup ya Wan! aku gak mau debat sama kamu soal hal se simpel ini!" Kata Dana mencoba menyudahi pertengkaran mereka.
"See? Kamu menilai Rachel adalah masalah yang besar, sekarang kamu menilai Laki-laki itu masalah kecil? Keliatan kan siapa yang egonya tinggi di sini?" kata Awan terlihat sangat kesal pada Dana.
"Wan! aku gak ada apa-apa sama Angit! kamu bisa tanya teman-teman aku yang lain! aku nganggep masalah ini kecil karena emang gak pernah terjadi apa-apa dan gak akan terjadi apa-apa antara aku sama dia! sementara aku menganggap Rachel harus dibicarakan, nganggep itu hal yang besar karena aku tau kamu pernah punya rasa yang besar sama dia! aku tau kamu pernah sayang pernah perduli sama dia dan mungkin sampai sekarang masih! kamu paham dong maksud aku! kamu cerna deh kata-kata aku!" kata Dana menekan kata-katanya. Dana hanya ingin suaminya paham akan perkataannya dan penjelasan darinya.
"Kamu pikir ada temen laki-laki dan perempuan sedekat kamu sama temen kamu itu? kamu pikir aku percaya? bahkan sebenarnya nih kalau kak Sad bukan sodara kamu aku pun ragu kalau gak pernah ada apapun diantara kalian! kamu itu gak tau batas tau gak Dan!" Awan lalu meninggalakn Dana sendiri di kamar. Dana hanya menghela nafas berat. Ia lalu duduk di tepi tempat tidur sembari menutupi wajahnya menggunakan tangan.
__ADS_1
...****************...