JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
KEKHAWATIRAN WISNU


__ADS_3

Pagi harinya, Dana mengecek handphone miliknya. Ia lupa tak memberi kabar pada kak Wisnu kemarin. Dilihatnya 25 telefon tak terjawab dari Kak Wisnu di HP nya. Laki-laki itu juga mengirimkan banyak pasan padanya.


Dana lalu menelfon kekasihnya itu. Ia tak ingin kak Wisnu lebih khawatir padanya.


"Halo kak, maaf kalau semalam Dana gak ngabarin kakak, Dana sedang ada urusan ke luar kota."


"Luar kota dimana maksud kamu? sayang, aku khawatir sama kamu sejak semalam."


"Awan kecelakaan kak, tante Hesti minta Dana buat melihat keadaanya. Dana sekarang masih di daerah Depok." Kak Wisnu tak menanggapi perkataan Dana. Jujur ia marah karena pacarnya itu tak bercerita soal hal sepenting ini padanya.


"Di rumah sakit mana? aku jemput sekarang." Kak Wisnu mengatakan hal tersebut dengan penekanan. Dana tau jika laki-laki itu marah padanya.


"Gak usah kak, nanti siang juga aku pulang dengan Awan. Dana cuti hari ini." Kata Dana pada lawan bicaranya di telefon.


"Aku jemput kamu sekarang!" kata kak Wisnu sekali lagi. Dana akhirnya memberikan alamat rumah sakit yang kak Wisnu minta. Ia sadar dirinya salah tak memberi tahu hal tersebut pada kak Wisnu dari awal.


"Makan dulu Wan," Dana mengambilkan makanan yang telah disediakan di meja oleh suster.


"Biar aku makan sendiri." Awan merebut kotak makan itu dari tangan Dana.


"Dengan tangan kamu yang seperti itu?" Dana menunjuk tangan kanan Awan yang diperban karena terkena pecahan kaca. Akhirnya Awan memberikan kotak makannya pada perempuan itu dengan terpaksa.


Perempuan itu menyuapi Awan dengan sabar. Tak ada percakapan diantara mereka.


Awan yang merasa canggung dengan hal tersebut lalu mengajak Dana berbicara.


"Kamu kenapa mau kesini? gak mungkin kan hanya karena ucapan mama kamu berlari kemari tanpa berganti pakaian?" Dana melihat pakaian kerja yang masih ia pakai. Ia bahkan sampai tak sadar dirinya masih mengenakan name tag yang ada di sakunya.


"Setahun lalu, aku kecelakaan. Mama sangat khawatir padaku waktu itu. Jadi, ya anggap saja aku kemari karena pengalamanku mungkin?"

__ADS_1


"Parah emang?"


"Kakiku patah, sempat di ICU 2 hari."


Satu jam telah berlalu, kak Wisnu tiba di rumah sakit.


Ia berjalan menuju ruang Awan dirawat. Dari luar kaca, ia melihat Dana sedang menyuapi Awan. Wisnu tampak tak suka dengan cara Awan menatap perempuannya itu. Wisnu memutuskan untuk masuk ke dalam.


Dana tersenyum melihat kedatangan Kak Wisnu. Awan mengatakan bahwa ia telah selesai sarapan. Hal itu membuat perempuan itu meletakan kotak makan Awan. Ia menghampiri kak Wisnu yang masih melihat kearah mereka.


"Macet kak?"


"Enggak, gimana Wan?"


"Baik kak." Kak Wisnu berjalan ke arah Awan untuk melihat kondisinya. Mereka mengobrol santai membicarakan banyak topik. Sesekali Dana melontarkan candaan untuk mencairkan suasana yang canggung.


Teman Awan memang sudah pulang semenjak kemarin. Ia dijemput oleh keluarganya malam itu juga. Oleh karena itu. hanya Awan yang dirawat inap di rumah sakit ini.


"Aku sudah belikan makanan untuk makan malammu nanti, jangan lupa obatnya diminum." Kata Dana pada Awan. Ia hanya mengangguk tanda mengerti atas apa yang diucapkan perempuan itu.


"Oh iya, perbannya masih di mobil, aku ambil dulu perbannya. Kamu harus ganti perbannya 1hari sekali soalnya."


"Biar aku saja," Wisnu merasa mulai tak nyaman dengan sikap Dana yang sangat detail dalam merawat Awan. Walaupun ia tau bagaimana perasaan Dana padanya, tapi tetap saja laki-laki itu adalah orang yang akan dijodohkan padanya dulu. Hati kecilnya tak rela jika Dana khawatir pada orang lain. Terlebih lagi jika perempuan itu menaruh perhatian pada Awan.


"Gak papa, kamu sudah lelah jadi sopir dari tadi, aku saja," Dana tersenyum melihat tingkah kak Wisnu yang perhatian padanya. Tingkah kak Wisnu yang tak ingin dirinya kerepotan dinilai sangat manis baginya.


Dana lalu meninggalkan Awan dan Wisnu di dalam rumah. Ia berjalan menuju mobil untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di sana. Sementara itu, Wisnu duduk memainkan handphone nya di kursi ruang tengah. Awan hanya melihat acara tv yang ada di depannya.


"Beruntung kamu dapetin Dana," Awan membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Iya memang, Aku bersyukur bisa sama Dana sekarang. Sepertinya aku harus berterimakasih karena kamu telah melepaskannya." Awan hanya tersenyum mendengar ucapan Wisnu.


Ia memang telah melepaskan perempuan itu. Namun entah mengapa hatinya tak begitu rela untuk melepaskannya dengan Wisnu.


Setelah semuanya beres Dana dan Wisnu berpamitan untuk pulang. Wisnu tampak sangat melindungi perempuan itu. Ia merangkulnya menuju mobil. Awan hanya melihat pemandangan itu dengan hati yang mengganjal. Ia tak tau apa yang hatinya sebenarnya rasakan.


Dana dan Wisnu menaiki mobil. Wisnu yang sedari tadi diam mulai berbicara terus terang pada Dana.


"Aku gak suka kamu perhatian sama dia." Dana menengok mendengar perkataan Wisnu.


"Cemburu?" Raut muka kak Wisnu manjadi serius. Dana mencoba mencairkan suasana dengan menghodanya.


"Jadi gini rasanya dicemburuin," Ia menatap laki-laki disampingnya itu sambil tersenyum.


"Aku serius,"


"Aku juga serius, Aku suka kak Wisnu seperti ini. Manis, lembut, cemburuan, apa lagi ya."


"Dan," Wisnu menepis tangan Dana yang mencubit pipinya.


"Aku harap ini yang terakhir kamu dekat dan terlibat dengan Awan." Dana mengerutkan dahi mendengar ucapan Wisnu padanya. Ia tak tau jika laki-laki disampingnya dapat menunjukkan sikap kekanak-kanakkan seperti itu.


"Kak, bukan berarti aku sudah selesai dengannya terus aku putus hubungan dengan keluarga Awan juga. Tante Hesti baik, Awan sama aku juga sebenarnya gak ada masalah. Lagi pula, dia juga sudah punya pacar kak, apa yang kak Wisnu takutkan?"


"Aku gak suka cara dia natap kamu." Dana masih tak paham dengan ucapan kak Wisnu padanya. Menurutnya, kecemburuan kak Wisnu adalah hal yang tak berdasar sama sekali.


"Yasudah, maaf. Aku akan menghindari Awan mulai sekarang. Kak Wisnu tak perlu khawatir." Dana benar-benar tak ingin hal sepele seperti ini mempengaruhi hubungannya dengan Wisnu. Ia lebih baik mengalah daripada berdebat dengan laki-laki itu.


Tak lama, tibalah mereka di kost Dana. Wisnu yang sudah cukup lelah melilih untuk pulang ke rumahnya. Semenjak tadi pagi, ia sengaja untuk mengambil cuti agar bisa menjemput Dana. Jadilah sekarang ia memilih untuk beristirahat di rumah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2