JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
DEAL?


__ADS_3

Dana dan Awan harus berberat hati pulang ke Jakarta hari itu juga. Sebenarnya, Dana masih sangat ingin bersama mamanya. Awan juga tak enak hati harus meninggalkan rumah mertuanya setelah bertengkar hebat dengan mereka. Tapi, pekerjaan menanti mereka di ibukota. Mama melepas anak perempuannya dengan pelukkan. Mereka akhirnya melaju pergi meninggalakan kota kelahiran mereka.


***


Menjelang resepsi pernikahan, Dana dan Awan sangat sibuk mengurus seluruh keperluan. Entah yang bisa mereka urus dari jarak jauh ataupun mereka urus sendiri. Gedung tempat perikahan sudah selesai diurus, begitu juga dengan makanan dan sovenir pernikahan. Gaun nan anggun dan cantik pun sudah 80% dibuat. Hari minggu itu, Dana menarik nafas panjang. Bersiap untuk mengirim undangan pernikahan untuk teman-teman nya.


"Aku deg-deg an Wan," kata Dana memegang lengan Awan. Sedari tadi ia terus menatap layar ponselnya, membaca pesan yang akan ia kirimkan secara bersama untuk teman-teman yang sudah ada di list tamu undangan.


"Udah, cepet kirim! ini aku udah kirim." Awan menunjukkan layar handphone miliknya.


"Kok curang? kan mau barengan." kata Dana kecewa pada Awan.


"Yaudah kirim ini pencet!" kata Awan gemas.


"Awan! yah kan! kamu yang pencet lagi! dah aku mau off HP dulu! gak sanggup aku liat balasan mereka!" kata Dana panik. Ia lalu melempar HP miliknya di atas shofa ruang tengah.

__ADS_1


"Yaudah," kata Awan tersenyum geli. "Nih, dah pada bales."


"Link undangan nya bener kan?" kata Dana penasaran.


"Bener nih, makanya jangan dimatikan HP nya!" Awan mengacak rambut Dana.


Malam itu, Dana tak membuka HP miliknya lagi, ia menunggu hingga esok hari agar dapat membalas pesan mereka satu persatu.


Semenjak pukul 6 pagi, Dana sudah duduk di depan laptop miliknya. Melihat catatan tamu yang akan menghadiri undangannya. Ia juga membalas ucapan dan doa dari teman-temannya. Banyak teman Dana yang kaget dengan undangan pernikahan yang tiba-tiba. Banyak juga yang memberikan doa bahkan menelefon Dana karena terharu. Dana mengurus undangan itu semenjak terbit fajar hingga tenggelamnya fajar. Awan yang tau jika Dana sedang stress dan kelelahan tak memaksa istrinya untuk membersihkan rumah atau bahkan memasak. Ia dengan senang hati melayani Dana hari itu. Awan bahkan memasakkan makanan untuk istrinya.


"Mandi, aku dah hidupkan water heater nya.


"Hug me!" Dana membuka tangannya menerima pelukan suaminya. Dana tersenyum senang. Rasanya lega dapat bersandar pada seseorang ketika lelah.


"Wan, i love you..." bisik Dana di telinga Awan.

__ADS_1


"Me, too..." jawab Awan singkat. Sejujurnya ada yang mengganjal di hati Dana. Perempuan itu merasa, Awan tak pernah membalas ucapan cintanya. Selalu Dana yang memulai dan selalu juga Awan tak menjawab kata-kata cinta darinya. Dana tak mau ambil pusing karena masalah sepele. Ia masih bersabar karena tak mau memperdebatkan hal ini dengan Awan. Masalah dan Persiapan pernikahan sudah sangat menguras tenaganya.


Esok harinya, Dana sibuk dengan pekerjaan nya. Ia sengaja berangkat sedikit lebih awal untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan dari rekan kerjanya. Dana tau, pagi itu kantor akan di hebohkan oleh kabaf pernikahan nya.


"Eh! Danaa...." Teriak salah satu rekan kerjanya. Perempuan itu hanya terdiam mematung ketika beberapa teman kantor nya menyalaminya dan memeluknya atas berita bahagia dari pernikahan Dana. "Congrates! sama yang kemarin aku lihat itu kan?" tanya kak Lita pada Dana. Dana hanya tersenyum menanggapi ucapan seniornya itu. Beberapa seniornya pun mengucapkan selamat pada Dana. Sampai di saat Pak Andan masuk ke ruangan mereka. Beberapa dari rekan kerja Dana berlari kecil menuju kursi masing-maaing. Beberapa dari mereka pun tersenyum dan menyapa Pak Andan.


"Dana, ke ruangan saya ya?" Perintah pak Andan singkat. Dana hanya mengiyakan sembari mengekor di belakang pak Andan. Ia sudah tau apa yang akan dibicarakan pak Andan kepadanya. Ruangan itu tampak dingin dengan Ac yang mungkin di nyalakan mentok 17 derajat.


“Duduk!” perintah pak Andan pada Dana. Dana lalu duduk di kursi yang ada di depan pak Andan.


”Jadi bagaimana?” Tanya pak Andan meminta penjelasan dari anak buahnya.


“Iya pak, jadi saya mau memberikan undangan pernikahan saya pak, langsung ke bapak. Acaranya bulan depan. Saya sekalian mau mengajukan cuti pak, untuk tanggal 6-13.” Kata Dana berhati-hati. Ia tau jika pengajuan cuti yang dilakukan nya begitu mendadak dan lama. 1 Minggu untuk menikah adalah waktu yang cukup lama. “Kok lama sekali? Kamu mau nikah adat jawa pakai prosesi adat-adat begitu?“ tanya pak Andan kaget. “Iya pak, jadi nanti perayaan pernikah nya ada di beberapa tempat. Jawab Dana asal. Ia tau jika ini akan menjadi pernikahan yang dinanti-nanti oleh keluarga besarnya juga keluarga besar Awan. Dana tak boleh kurang dalam mengambil cuti. Bahkan cuti tahunan nya mungkin akan habis di perayaan nikah tersebut. Sebenarnya, hal itu telah ditenantang Dana dan Awan, tapi maklumlah orang tua mereka membuat acara yang besar untuk anak pertama mereka menikah. Selama 1 jam pak Andan terus memberikan Dana petuah tentang pernikahan. Bahkan ia menceritakan bagaimana dirinya dan Istri tercintanya bertemu dulu. Dana hanya tersenyum mendengar cerita pak Andan. Tubuhnya mulai Lelah karna duduk tanpa bergerak seincipun dari tempatnya.


“Ya sudah, saya malah cerita sama kamu. Sekarang gini, kamu ke personalia, nanti bilang sama mbak Mega, saya approve cuti kamu. Dengan satu syarat.“ Dana mulai menerka-nerka syarat yang diberikan pak Andan kepadanya. Ia tau betul bagaimana karakter dari pak Andan.” Give and take” Dana sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Entah kunjungan ke luar kota, Entah lembur pekerjaan rekan kantornya, entah hal-hal lain yang akan menyubukan perempuan itu setelah cuti selesai. “ Kamu kan tahu, client kita ada yang dari Singapura? Bukannya saya mau memisahkan suami kamu dan kamu setelah menikah. Tapi in ikan tuntutan pekerjaan bukan. Kita harus provesional dalam bekerja. Biarpun Indonesia sedang perang, bencana alam. Kalau client mengundang kita ke sana ya Sudah. Intinya begini, ijin saya setujui, kamu gak perlu mengurus meeting online sama client selama cuti, tapi setelah cuti, saya tugaskan kamu bereskan masalah client di sana. Nanti dengan saya langsung, dengan Lita juga. Tapi, yang tinggal di sana kamu. Lita biar pulang pergi nanti. Paling sebulan. Gimana?” Sebenarnya Dana merasa keberatan dengan penawaran pak Andan. Ia tau, jika menggarap client dengan tugas dinas, berarti sama saja ia bekerja di kantor mereka di sana. Tapi, Dana tak bisa mengabaikan senangnya liburan gratis ke Singapura. Ini pengalaman langka mengingat Awan tak akan mungkin mengijinkan nya untuk mengambil kesempatan besar melajutkan kuliah di luar negeri. Hati Dana sempat bimbang sebentar. Tapi dengan mantap perempuan berusia 23 tahun itu menyetujui syarat dari pak Andan.

__ADS_1


__ADS_2