
Setelah berdiskusi, Awan dan Dana pun setuju untuk ikut orang tua mereka pulang ke kota kelahiran mereka. Hari itu juga, Dana menelefon kantor untuk mengajukan cuti sampai hari Minggu. Mama juga menelefon semua saudara untuk berkumpul di rumahnya di hari Sabtu. Kamis itu benar-benar hari yang sangat padat dan tak terduga bagi mereka semua. Mama dan Tante Hesti tampak sangat bahagia karena akhirnya keinginan mereka akan segera terkabul. Menjadi besan sekaligus menjalin tali persaudaraan diantara kedua keluarga mereka.
Awan mengantar Dana untuk pulang ke kost untuk mengambil pakaian. Di dalam mobil keduanya tampak canggung.
"Aneh ya?" Dana akhirnya membuka mulutnya setelah beberapa menut mereka saling diam.
"Aneh kenapa?" Awan tak mengerti ucapan Dana.
"Ya aneh aja. Tau gak, saat malam kamu datang ke kostku."
"Yang mana?" Awan memotong perkataan Dana. Ia sempat bingung menerka apa yang perempuan itu maksud.
"Yang kamu bilang mau coba mulai sama aku." Dana mencoba mengingatkan kejadian malam itu. Malam dimana Awan Datang ke kostnya.
"Oh, iya, kenapa?"
"Aku baru sadar tau, sebelum aku turun menemui kamu, aku minta sesuatu sama tuhan."
"Maksudnya?" Awan masih tak mengerti maksud dari perkataan perempuan yang duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa malam-malam datang? gak malam sih, itu sudah pagi." Dana balik bertanya pada Awan.
"Aku gak bisa tidur waktu itu. Gak tau, kayak aku harus ketemu aja sama kamu." Awan menjawab perkataan Dana tanpa menengok ke arah perempuan di sampingnya. Tatapannya masih lurus dan fokus pada kemudinya.
Dana hanya diam mencoba mencerna ucapan Awan. Akhirnya ia kini mengerti jika ternyata tuhan mendengar doanya. Ia menjawab dengan sangat jelas atas pertanyaan dan kegelisahan yang ia rasakan waktu itu. Tapi entah mengapa saat itu ia tak menyadarinya.
"MasyaAllah..." Hanya itu kata yang terucap dari mulut perempuan itu.
"Kenapa?" Awan yang mendengar perkataan Dana kini menengok sekilas ke arahnya sebelum ia kembali fokus ke arah depan.
__ADS_1
"Gak papa," Dana kini tersenyum mengingat doanya malam itu.
Awan yang merasa aneh dengan tingkah perempuan di depannya kini mulai penasaran. Sepanjang jalan ke kost Dana, ia selalu menengok ke arah perempuan itu.
"Kenapa sih?" Awan tersenyum melihat Dana yang tersenyum menatapnya. Perempuan itu hanya menggeleng menjawab pertanyaan Awan. Sesekali ia tak sengaja beradu pandangan dengan Awan. Sesekali juga Dana memilih menatap ke arah luar jendela untuk menutupi senyumannya yang tak bisa ia kendalikan.
Tak lama, mereka lalu sampai ke kost Dana. Perempuan itu lalu masuk ke dalam dan bersiap untuk mengepak beberapa baju yang akan ia bawa. Awan menunggu Dana di luar. Ia memilih untuk menunggu Dana di mobil.
***
Sore itu, Awan melihat sebuah mobil berhenti di depan mobilnya. Mobil itu benar-benar tak asing untuknya. Dilihatnya seorang laki-laki berseragam keluar dari mobil berwarna hitam itu. Awan yang mengenalinya lalu turun dari mobil hendak menghampirinya.
"Mau ngapain ke sini?" Awan menghadang Wisnu yang hendak berjalan menuju gerbang kost Dana.
"Saya mau ketemu Dana. Tak ada urusannya denganmu."
"Kamu yakin dia cinta sama kamu? Dana menunggu saya lebih dari 5 tahun. Tak mungkin ia mau pacaran denganmu tiba-tiba." Wisnu tersenyum sinis pada Awan.
"Kamu pernah berterima kasih pada saya karena telah melepaskannya bukan? tapi kamu menyia-nyiakan kesempatan itu. Jadi kamu tak punya hak lagi untuk merebutnya dari saya." Awan menatap Wisnu dengan tajam.
"Saya datang ke sini tak ada urusan dengan anda. Lebih baik anda minggir selagi saya bersikap baik." Wisnu mulai emosi menanggapi Awan yang tetus menghalaginya.
"Jelas urusan saya, perempuan yang anda maksud adalah calon istri saya." Perkataan Awan membuat Wisnu tampak kaget.
Tak lama setelah itu, Dana yang telah selesai membereskan keperluannya kini keluar dari kostnya. Ia mendengar suara ribut dari luar pagar kostnya. Ketika membuka gerbang, betapa terkejutnya dia ketika melihat Awan tengah berdebat dengan Wisnu.
"Wan," Dana lalu refleks melempar koper yang ia bawa dan melerai pertengkaran itu.
"Mau apa kamu datang kemari?" Dana memegang tangan Awan yang sedari tadi menunjuk kasar ke arah kak Wisnu. Ia tak mau Awan terlibat perkelahian dengan Wisnu. Tatapan Dana tampak sedikit marah menatap ke arah kak Wisnu.
__ADS_1
"Benar kamu mau menikah dengannya?"
"Kalau iya memang kenapa?"
"Dan?" Wisnu tampak frustasi mendengar jawaban perempuan itu.
"Sudah berapa kali aku bilang kita sudah berakhir kak! Lebih baik kamu tak usah menemuiku lagi." Dana menakan ucapannya. Ia mencoba menegaskan hubungannya dengan Wisnu.
"Aku rela meninggalkan perempuan itu demi kamu. Aku janji Dan!" Dana tersenyum kecut mendengar ucapan Wisnu.
"Janji? aku gak tau kamu orang yang suka mengumbar janji seperti itu kak! maaf, aku tak bisa lagi percaya dengan janjimu itu." Dana tampak berkaca-kaca melihat Wisnu. Ia benar-benar tak percaya jika Wisnu berani mengatakan hal seperti itu lagi setelah ia meninggalkannya.
Dana lalu mengambil kopernya. Awan membantu Dana untuk menaruh koper itu di bagasi. Dana lalu masuk ke dalam mobil disusul dengan Awan. Nafas perempuan itu tampak tak teratur karena kemarahannya. Awan dengan cepat melajukan mobilnya pergi meninggalkan kost Dana.
Dana tak bisa menahan tangis kekecewaannya kepada Wisnu. Perempuan itu hanya menatap ke luar jendela tanpa melihat Awan. Laki-laki itu lalu mengelus kepala Dana lembut. Awan lalu memegang tangan Dana.
"Maaf," Dana mengusap air matanya. Ia sadar jika tak seharusnya ia menangis karena Wisnu lagi. Awan tak menanggapi ucapan Dana. Ia hanya memegang erat tangan perempuan itu berusaha memberi kekuatan padanya. Awan sama sekali tak marah pada Dana. Yang ada di kepalanya kini adalah rasa gelisahnya karena perkataan Wisnu tentang Dana. Awan sebenarnya tak ingin meragukan perempuan di sampingnya itu. Ia hanya tak suka mendengar ucapan Wisnu.
Awan meminggirkan mobilnya berhenti di salah satu minimarket. Ia hendak membeli minum untuk Dana.
"Aku beli minum dulu." Awan keluar dari mobilnya. Perempuan itu hanya membalas ucapan Awan dengan anggukan. Ia masih menunduk memainkan jari-jarinya. Sesekali ia menghapus air matanya yang tak sengaja mengalir melewati pipinya.
Tak lama, Awan kembali membawakan air minum untuk Dana. Dana lalu meminum minuman yang Awan berikan untuknya. Awan hanya diam menatap Dana lakat-lekat. Tak ada percakapan diantara keduanya. Awan dengan sabar menunggu sampai perasaan Dana mulai membaik.
Setelah beberapa saat, Dana mulai menatap Awan. "Are you oke?" Awan memegang tangan Dana. Laki-laki itu menatap Dana lekat. Dana mengangguk lalu tersenyum pada Awan.
"Can you hug me?" Awan lalu memeluk perempuan itu. Pelukan yang membuat Dana merasa tenang. Rasanya kegundahan perempuan itu hilang seketika bersama dengan pelukan Awan yang mendatangkan kehangatan di hatinya.
...****************...
__ADS_1