
Dana pun turun ke lobby kantornya. Ia melihat seseorang duduk di shofa memainkan Handphone. Dana menghembuskan nafas berat saat melihatnya.
"Ini rendangnya," Awan berdiri ketika melihat Dana menghanpirinya. Ia mengulurkan sebuah paperbag yang pastinya berisi rendang di dalamnya.
"Mamah kamu benar-benar detail ya sampai harus kirim bukti foto." Dana mengambil paper bag yang ada di tangan adik kelasnya itu. Awan mengambil foto Dana tanpa aba-aba.
"Bisa kan bilang dulu kalau mau ambil foto?" Dana sedikit kesal dengan laki-laki yang ada di depannya karena mengambil foto tanpa izin.
"Sudah beres, aku mau pulang ke kantor lagi." Awan mengirim foto itu pada tante Hesti. Awan berlalu dari hadapan perempuan itu menuju pintu keluar.
"Wadahnya?" Dana sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh Awan.
"Bawa saja saat kau pulang ke rumah. Titipkan saja pada mama kamu." Ia meneruskan langkahnya dan menghilang di balik pintu kaca. Dana segera kembali ke Lantai 2 tempatnya bekerja.
"Siapa?" kata salah satu senior menyelidik.
"Orang gila!" jawab Dana singkat.
"Orang gila kok seganteng itu, pertanahan ya?" kak Lita mendekatkan kursinya pada Dana. Refleks Dana mengerutkan dahi setelah mendengar ucapannya.
"Tahu dari mana?"
"Bajunya lah, calon?" Dana hanya menggelengkan kepalanya karena keheranan dengan sikap seniornya itu.
"Bukan." Dana melanjutkan pekerjaannya tanpa meneruskan percakapan dengannya.
Berita tentang Dana didatangi pria yang membawa makanan untuknya sangat cepat menyebar di kantor. Beberapa dari mereka bahkan memberikan ucapan selamat tanpa alasan. Beberapa juga memintanya untuk membayar traktiran. Rasanya setiap hari adalah hal yang menyebalkan untuk Dana setelah kedatangan Awan di kantornya.
"Kapan nih?"
"Cie, sebentar lagi bagi-bagi undangan dong?"
"Pajak nikah boleh lah ya?"
"Ini pak untuk daftar client yang saya tangani bulan ini, untuk laporan bulan kemarin sudah saya lampirkan di bawahnya." Dana memberikan laporan bulanan pada pak Andan, kepala bidang di tempatnya bekerja.
"Jadi kapan mau ambil cuti?" Dana melongo mendengar pertanyaan pak Andan.
"Maksud bapak?" tanyanya masih tak paham dengan ucapan kepala bidangnya itu.
__ADS_1
"Ya saya kan harus lempar tugas kamu ke yang lain kalau kamu mau cuti, jadi saya perlu tau kira-kira kapan cutinya. Sudah ada tanggal nikahnya kan?" Dana masih melongo mendengar ucapan pak Andan.
"Maaf pak, sepertinya bapak salah informasi. Saya belum mau menikah pak." Kata Dana tersenyum padanya.
"Loh belum? kemarin Teresa bilang kamu mau nikah." Pak Andan sedikit heran mendengar ucapan Dana.
Setelah menjelaskan pada pak Andan, Dana keluar dari ruangan. Ia mencari Teresa, teman samping kursinya.
"Sa, kamu ngomong apa sama pak Andan?" Dana duduk di samping Teresa.
"Kenapa?" Ia masih tak paham dengan maksud ucapan rekan kerjanya itu.
"Kamu bilang aku mau nikah?" tanya Dana langsung tanpa basa-basi. Ia tertawa mendengar ucapan Dana.
"Pak Andan nganggep serius?"
"Gila kamu, saya sampai ditanya kapan cuti tau!" Dana berbicara dengan nada kesal.
"Maaf Dan, kemarin saya bercanda sama pak Andan, eh gak tau kalau bercandaan saya bakal diseriusin sama beliau. Lagian, 1tahun lebih kerja di sini, kamu sama sekali gak pernah ngenalin pacar ke kita, jadi kita semua terpesona lah ada laki-laki datang menemui kamu, membawakan makanan mengobrol denganmu di lobby." Ia sangat over dalam menjelaskan perkataannya pada rekan kerjanya itu.
"Aku sudah bilang, dia orang gila! bukan pacar, apalagi calon suami. Amit-amit deh punya suami seperti dia. Mending jomblo aku Sa!" Dana kembali berkutat dengan komputer di depannya.
Dana kembali ke rutinitasnya seperti biasa.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Minggu ini ia benar-benar lelah dengan banyaknya tugas dari kantor. Bulan pelaporan SPT memang sangat memusingkan untuk Dana.
Esok harinya, Dana berencana menemui Arin. Ia adalah teman kuliahnya dulu yang bekerja di Jakarta. Kantornya tak terlalu jauh dari tempat tinggal Dana sekarang. Dana berencana menemuinya di caffe.
"Dana, long time no see!" katanya saat melihat teman kampusnya datang. Mereka berpelukan sangat bahagia mengingat sudah lebih dari 2 bulan tak bertemu. Mereka memang sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Kamu suka balik ke Jogja kah Rin?" Dana menyeruput secangkir kopi dingin di tempat itu.
"Enggak sih, udah lama juga. Aku kangen banget tau masa kuliah, gak ribet ngerjain deadline seperti sekarang." Arin menghembuskan nafas berat. Dana hanya mengiyakan ucapannya. Mereka berbincang banyak hal.
Tak lama kemudian, Dana melihat orang yang tak asing. Orang yang tak mungkin tak ia kenali meskipun jaraknya 1km.
Arin dengan refleks menengok kearah Dana menatap.
"Siapa?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Rin, pindah yok?" Dana mencoba menutupi wajahnya dari orang itu. Ia benar-benar tak tau apa yang akan dilakukannya jika bertemu dengannya.
"Siapa sih?"
"Kak Wisnu," jawabnya singkat. Dana menarik tangan Arin menjauh dari tempat itu. Tak sengaja ia menabrak waiters yang sedang membawa minuman.
"Maaf mba," katanya pada waiters itu. Dana benar-benar panik ketika hampir saja ia menumpahkan minuman yang ada di atas nampan. Dana mencoba berlari menuju kasir.
"Dana?" suara itu seperti petir yang menyambarnya. Membuat jantungnya berdetak 1000 kali lebih kencang, Membuat darahnya berdesir, Membuat lututnya tak kuat menopang tubuhnya sendiri.
"Bener kan, Dana SMA 1?" Dana tak tahu sejak kapan laki-laki itu meghampirinya dan berdiri di sana. Dana terus menutupi wajahnya hingga tak melihat kedatangannya. Arin yang sedang membayar bills juga ikut menengok ke arahnya.
"Hai, kak Wisnu ya?" Dana tak dapat mengelak lagi. Dengan terpaksa ia harus menjawab sapaan laki-laki itu. Dana seperti pencuri yang tertangkap basah membawa barang curiannya.
Suasana saat itu benar-benar canggung. Dana tak tahu apa yang akan dikatakan padanya. Tapi ia mencoba untuk tetap tenang.
"Kamu di Jakarta sekarang?" tanyanya ramah pada Adek kelasnya itu.
"Iya kak, kak Wisnu sama siapa ke sini?" Dana mencoba untuk basa-basi.
"Temen kantor, udah mau balik?"
"Iya," jawab Dana pada kak Wisnu singkat.
"Ya sudah kalau begitu, nanti kapan-kapan boleh lah kita ketemu disini lagi sama abangmu juga." kak Wisnu tersenyum pada perempuan itu.
"Iya boleh," setelah obrolan singkat itu, Dana dan Arin pamit untuk pergi. Dana benar-benar tak menyangka dapat melihatnya lagi setelah hampir 4 tahun tak bertemu.
"Siapa?" tanya Arin saat pada temennya itu saat berjalan menyusuri mall yang tak jauh dari caffe.
"Rin, sepertinya aku gak akan bisa tidur malam ini."
"Mantan?"
"Kakak kelas SMA," jawab Dana singkat. Pikirannya benar-benar menerawang ke depan.
Dana masih tak percaya bisa menemui kak Wisnu di sana. Sering kali ia mencoba untuk mencarinya secara diam-diam. Dana datang ke tempat teman SMA nya yang rumahnya tak jauh dari rumah kak Wisnu. Ia bahkan mencoba menemui kak Sad dan mengajaknya main ber 3 seperti dulu. Dana sudah mencoba datang ke tempat biasa mereka berkumpul saat mereka libur. Tapi, semuanya nihil. Dana tak pernah menemuinya dimanapun. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tak lagi mencarinya atau menghubunginya.
Hari ini seperti mimpi di siang bolong ia bisa menemukannya di antara 11 juta penduduk Jakarta. Entah apakah hari itu adalah hari sial untuknya atau hari keberuntungannya bisa bertemu dengan orang yang telah lama dirindukannya.
__ADS_1
...****************...