JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
HIBURAN AWAN


__ADS_3

"Aku gak mau putus sayang."


"Aku gak bisa seperti ini terus sama kamu. Hubungan ini gak punya masadepan, kamu tau itu." Awan membelai lembut kepala wanita yang dicintainya. Hatinya seperti terkoyak sangat perih mendengar permintaan Rachel.


"Aku gak bisa Chel..." Awan menangis menatap perempuan di depannya.


"Sudah cukup aku mempertahankanmu Wan, Detik ini aku benar-benar menyerah pada takdir." Mendengar perkataan perempuan itu, Awan lalu memeluk Rachel. Pelukan yang sangat hangat itu mungkin perlukan terakhir yang tak akan pernah mereka berdua rasakan kembali.


Sepulangnya dari rumah Rachel, hati Awan benar-benar kalut. Hubungan yang telah ia bangun sejak lama kandas begitu saja karena ulahnya. Ia yang ceroboh karena tak mempercayai Rachel. Ia juga yang salah karena tak bisa sepenuhnya lepas dari Dana.


"Dana..." terlintas di benaknya Wajah perempuan itu. Awan merasa berhutang maaf padanya. Ia menyuruh sopir taxi itu memutar arah menuju kost Dana. Saat itu sudah sangat larut. Ia benar-benar bertekat untuk menemui perempuan itu sekarang juga.


Dana yang telah bersiap tidur dikejutkan dengan telefon dari seseorang.


"Halo Wan?" kata Dana saat mengangkat telefonnya. Orang yang menelefon itu adalah Awan.


"Dah mau tidur?" Awan yang telah sampai menunggu perempuan itu di depan gerbang.


"Iya nih, kenapa malam-malam nelfon?"


"Gak papa, cuma mau bilang maaf aja buat semuanya." Dana mengerutkan dahi mendengar perkataan Awan. Ia tak tahu apa maksud dari perkataan laki-laki itu.


"Maksudnya?" tanya Dana pada Awan.


Tak disangka-sangka dari dalam gerbang kost seseorang membuka gerbang itu.


"Cari siapa mas?" tanya bapak kost Dana pada Awan.


"Wait, kok kaya suara pak Udin? kamu dimana Wan?" tanya Dana penasaran. Awan yang panik lalu mematikan telefonnya.


Dana heran dengan tingkah Awan tersebut lalu mengintip di balik jendela kamarnya.


Dia tersenyum geli melihat Awan yang sedang ditegur oleh bapak kost karena bertamu terlalu malam.


"Enggak kok pak,"

__ADS_1


"Kalau mau ngajak pacarnya keluar besok aja. Kost ini cuma sampai jam 10. Dah sana pergi. Gak baik kalau laki-laki ada di lingkungan kost perempuan malam-malam. Pamali! Dah sana!"


"Iya pak." Awan memasukki taxi yang sedari tadi masih menunggunya.


Dana menelefon Awan lagi. Ia tak mau mendengarkan omelan dari bapak kost, jadi ia memutuskan untuk tak keluar dari kamarnya.


"Halo?" Awan menjawab telefon dari kakak kelasnya itu.


"Kena marah pak Udin ya?" Awan hanya tersenyum karena ketahuan oleh Dana. Celetukan kakak kelasnya itu berhasil membuatnya tertawa lagi.


"Galak banget ya?"


"Ya gitulah, aku kalau pulang terlalu larut aja mending cepet-cepet ke kamar biar gak diomelin dia." Dana membaringkan tubuhnya di tempat tidur kost nya.


"Pantes kamu betah disana."


"Maksudnya?" Dana tak paham dengan ucapan Awan itu. Ia merubah posisi tidurnya. Dana menunggu jawaban dari laki-laki di balik telefon itu.


"Galaknya sama kaya yg ngekost."Dana tertawa karena ucapan Awan.


"Kenapa dateng malam-malam?" Dana bertanya tanpa basa-basi pada adik kelasnya itu.


"Kenapa gak bilang kalau Rachel datang ke kantormu?" Awan bertanya langsung pada Dana. Perempuan di balik telefon itu hanya diam tak menjawab. Dirinya benar-benar tak tau harus menjawab apa pada Awan.


"Maaf Dan, harusnya aku tak pernah melibatkanmu dengan masalahku. Maaf juga kalau mamaku masih menghubungimu." Awan menyambung ucapannya lagi. Dana merasa jika hal tersebut bukan salah Awan. Ia berfikir jika Awan tak seharusnya meminta maaf padanya.


"Bukan salahmu Wan." Dana menanggapi dengan singkat perkataan Awan.


Setibanya Awan di rumahnya, ia masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Ia masih menelfon Dana saat itu.


Dana dan Awan terus mengobrol hingga larut malam. Mereka berbincang tentang masa SMA dan guyonan lucu khas anak daerah. Awan juga menanyakan rekomendasi cafe yang enak di Jakarta. Maklum, saat itu Dana sudah lama ada di Jakarta. Ia yang memang sering pergi bersama teman-temannya dan juga tentunya kak Wisnu pastilah lebih tahu tempat-tempat yang keren di daerah Jakarta.


Dana dan Awan juga membicarakan kegiatan mereka ketika mengikuti paskibraka. Malam itu, mereka mengobrol banyak hal. Malam itu juga adalah pertama kalinya mereka berdua mengobrol intense setelah lama mereka kenal.


Flashback!

__ADS_1


Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan bagi kelas 9. Seluruh siswa kelas 9 sangat tegang ketika dikumpulkan di tengah lapangan sekolah untuk menerima amplop yang diberikan oleh kepala sekolah.


Setelah menerima amplop seluruh siswa berteriak kegirangan ketika angkatan mereka dinyatakan lulus 100%.


"Pembacaan peringkat 10 besar pararel nilai Ujian Nasional SMP N 1 T*** tahun pelajaran 20**/20**." Seluruh siswa berharap nama mereka di sebut oleh MC untuk maju ke panggung.


"Peringkat pertama Ananda Risma Kusuma dengan total Nilai 39.5"


"Peringkat kedua Ananda Wahyu Siska R. dengan nilai 38.7"


"Peringkat ke 3 Ananda Dionisius RP. dengan nilai 38.2"


"Peringkat ke 4 Ananda Alexa Dana Queenara Hanum dengan nilai 37.95"


Dana sangat senang ketika namanya dipanggil ke depan. Ia benar-benar tak menyangka jika dirinya akan mendapatkan nilai tinggi di Ujian Nasional tahun ini. Kepala sekolah memberikannya selempang tanda kelulusan dan hadiah pada Dana.


Perempuan muda itu tak henti-hentinya menebar senyum pada teman-temannya yang ada di bawah panggung.


Di depannya, banyak sekali teman-teman seangkatannya. Wali murid dan juga adik kelasnya yang memberikan tepuk tangan yang sangat meriah kepada siswa berprestasi sekolah yang maju ke depan.


Salah satu orang menatap Dana dengan sinis. Matanya memicing melihat Dana. Ia adalah Awan. Sedari dulu, dirinya memang membenci kakak kelasnya itu karena insiden paskibraka beberapa bulan yang lalu. Semenjak Dana lulus ia sangat senang karena tak ada lagi senior sepertinya di sekolah ini. Dirinya cukup lega perempuan itu sudah lulus.


Flashback off!


"Kamu udah lama sama kak Wisnu?" Awan membuka pembicaraan lain.


"Kurang lebih 2 bulan, Kamu sendiri sudah lama dengan Rachel?" Dana sebenarnya juga penasaran dengan hubungan Awan dan pacarnya itu. Pikirannya menerawang jauh mengingat kembali saat dirinya pertama kali bertemu dengan Awan.


"3 Tahun lebih, sayangnya tak bisa sampai 4 tahun." Dana mengerutkan dahi mendengar ucapan Awan. Ia berfikir mengapa Awan bicara dirinya tak akan bertahan 4 tahun dengan pacarnya itu.


"Kok bisa? maksudnya?"


"Aku putus dengannya hari ini." Dana kaget mendengar ucapan Awan dari balik telefon. Dirinya tak menyangka jika mereka berdua sudah mengakhiri hubungan setelah lama berpacaran. Ia bertanya-tanya alasan mereka berdua memilih untuk putus.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2