JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
BELANJA BAJU


__ADS_3

Sepulangnya Dana dari kantornya, ia benar-benar berfikir untuk mencari kegiatan lain. Dirinya lalu memilih untuk berbelanja di salah satu mall yang dekat dengan kantornya. Ia berfikir untuk membeli beberapa pakaian dan kado untuk mamanya. Beberapa hari lagi memang mama berulang tahun. Ia ingin memberikah hadiah special untuk mamanya.


"Kak boleh lihat yang itu?" Dana menunjuk salah satu gelang yang ada di toko emas. Dirinya memang jarang sekali menghabiskan uangnya untuk berbelanja hal yang tak memiliki nilai. Menurutnya, membelikan mamanya perhiasan bisa digunakan oleh mama untuk fashion dan untuk investasi.


"Ini model baru kak, Designnya memang cantik." Kata staff toko emas tersebut dengan ramah.


"Saya ambil yang ini." Dana tersenyum senang karena ia mendapatkan kado yang bagus untuk mama. Dirinya memang mempunyai mata yang tajam dalam memilih barang. Ia tak perlu waktu lama untuk menemukan hal yang ia inginkan.


Setelah membayar, Dana melanjutkan berjalan ke salah satu toko baju di sana. Ia ingin membeli baju untuk adiknya. Beberapa hari yang lalu, Niko meminta jas yang mirip dengan milik Nanda. Adiknya itu ingin memakainya disaat wisuda kelulusan SMA bulan depan.


"Kak, kalau ini ukuran XL ada?" tanya Dana pada staff toko itu.


"Sebentar ya kak saya carikan dulu."


Dana memilah lagi jas yang ada di depannya. Ia sedikit bingung menentukan ukuran dari jas yang akan dikenakan oleh adiknya.


"Ada yang bisa dibantu kak?" Suara laki-laki yang ada di sebelahnya mengagetkan perempuan itu. Dana refleks menengok ke arah suara yang ia dengar.


"Awan? astaga aku kira siapa!" Kata Dana menepuk lengan Awan.


"Cari apa?" Awan bertanya dan tersenyum kepada Dana.


"Ini, jas buat Niko. Kira-kira L atau XL aja ya?" Dana mengangkat jas yang ia pegang. Dirinya bingung bertanya pada Awan.


"Aku coba deh, kalau aku sih biasanya L. Mungkin kalau adikmu XL sih." Awan mencoba memakai jas yang di pegang Dana. Mereka berjalan ke arah kaca yang ada di pojok ruangan toko itu.


"Bagus, berarti XL aja ya? Coba Wan muter dulu." Dana mencoba untuk merapikan kerah jas yang Awan pakai. Perempuan itu sedikit berjinjit mengingat postur tubuh Awan yang jauh lebih tinggi darinya. Dana melihat ke arah cermin dan tersenyum.


"Cocok di kamu, Beli aja Wan." Dana tersenyum dan memperhatikan gaya Awan dari cermin yang ada di depannya.


"Aku pakai baju apapun selalu bagus."


"Dih percaya diri banget!" Dana tersenyum mendengar ucapan Awan.


Tak lama, staff toko itu datang membawakan jas yang Dana minta.


"Ini kak yang ukuran XL."

__ADS_1


"Terimakasih." Dana membolak balik jas tersebut. Ia memastikan jahitan yang ada di jas itu rapih.


"Kalau untuk suaminya sepertinya L kak, kalau XL terlalu besar." Staff toko itu tersenyum ramah pada mereka berdua. Dana refleks melirik ke arah Awan.


"Ini untuk papa saya kak, istri saya memang perhatian sama mertuanya." Awan merangkul pundak Dana sambil tersenyum. Perkataan Awan benar-benar membuat Dana shock. Ia membelakakkan matanya mendengar ucapan laki-laki itu. Staff toko itu hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Awan.


"Saya ambil yang ini kak," Dana cepat-cepat memberikan jas itu untuk dibelinya.


"Bungkus yang rapih ya kak, buat mertua soalnya." Awan benar-benar senang sekali menggoda Dana.


"Kamu ini apa-apaan sih? seneng banget ngerjain orang!" Dana memukul lengan Awan. Ia sedikit kesal dengan sifat jail yag dimiliki adik kelasnya itu.


"Ya biar gak kelihatan jomblo kan?"


"Kamu yang jomblo, aku enggak." Dana meninggalkan Awan menuju kasir. Awan masih tersenyum jahil melihat kakak kelasnya itu kesal karena ulahnya.


Setelah membayar baju itu, mereka keluar dari toko.


"Kamu beli apa?" tanya Dana pada Awan.


"Gak beli, aku ganti batu jam tadi." Awan menunjukkan jam yang ia pakai. Dana tau jika jam yang Awan pakai merupakan jam yang cukup mahal.


"Aku juga gak beli. Ini hadiah dari oma buat aku karena udah diterima kerja. Punya oppa dulu." Dana hanya mengangguk tanda mengerti.


"Kamu pulang ke Jakarta kapan?" tanya Dana pada Awan.


"Kemarin." Jawabnya singkat.


"Laper gak?" Tanya Awan melanjutkan percakapan mereka.


"Tau aja, mau makan di mana?" Dana tampak senang mendengar ucapan Awan. Dirinya sangat lapar mengingat siang tadi ia tak menghabiskan makan siangnya. Energinya juga sudah terkuras akibat berbelanja di mall.


"Hem... Kamu suka makan apa?" tanya Awan pada perempuan yang berjalan di sampingnya.


"Apa aja aku ma,"


"Suka makanan Jepang?"

__ADS_1


"Banget! ada Resto enak di bawah." Dana menarik Awan untuk mengikutinya.


"Enmaru?" Dana kaget karena ternyata restaurant yang dirinya maksud sama dengan yang Awan maksud.


"Kok tau?" Tanya Dana sangat senang.


"Aku beberapa kali ke sana soalnya." Awan tersenyum melihat Dana yang sangat bersemangat untuk makan.


Mereka berdua duduk di meja yang kosong. Pelayan di sana memberikan mereka menu untuk dipilih. Dana memesan beberapa jenis Sashimi dan sushi. Awan memesan menu yang hampir mirip.


"Mekajiki nya enak banget lo," Kata Dana pada Awan.


"Oiya? aku kalau kesini sering nya pesen uniagi."


"Itu juga enak sih," Dana terlihat sangat senang melihat menu yang ada di depannya. Jika restaurant itu murah, pasti dirinya akan memesan semua menu yang ada di sana.


"Kamu makannya banyak ya ternayata?" Awan melihat semua makanan yang Dana pesan. Ia benar-benar terkejut melihat perempuan itu menghabiskan hampir seluruh space meja untuk makanan yang dipesannya.


"Sekali-kali. Aku biasanya diet tau."


"Sekurus ini masih diet?" Awan mengerutkan dahi mendengar ucapan perempuan itu.


"Dih, aku kuliah sempat gemuk tau 65kg. Terus mama ngomel mulu sama aku. Yaudah aku diet. Sampai sekarang keterusan. Sekarang gak terlalu sih, lebih ke olahraga aja."


"Kamu olahraga dimana? memangnya sempat?"


"Aku boxing tiap hari Kamis. Jadi kalau sepulang kerja, aku dateng ke tempat boxing." Dana menerangkan kegiatan olahraganya pada Awan.


"Kamu emang cowo banget sumpah. Olah raga aja boxing. Dimana-mana, cewe olahraga ya renang, balet, atau apa lah. Ini boxing." Dana hanya tertawa melihat tanggapan Awan yang menurutnya lucu. Ia juga merasa aneh mengapa dirinya suka olah-raga yang menantang seperti itu.


"Kamu suka olah raga apa?" Dana berbalik tanya pada Awan.


"Sudah pasti Futsal kalau laki-laki." Dana mengangguk tanda mengerti. Ia teringat pada kak Wisnu yang semasa SMA sering sekali mengikuti futsal.


"Dulu aku ngewakilin tim futsal SMA tau," Dana tampak kaget mendengar ucapan dari Awan.


"O iya? kok aku gak ngeh ada kamu ya?"

__ADS_1


"Kamu dulu sering kan liat futsal? tapi gak tau yang dilihat futsal nya atau tembok Gor nya."


...****************...


__ADS_2