JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
PERSIAPAN


__ADS_3

Mereka semua tiba di kota kecil itu siang menjelang sore. Mereka sempat beberapa kali berhenti di rest area untuk beristirahat dan melaksanakan shalat Jumat. Awan dan keluarganya mengantar Dana dan mama pulang ke rumahnya. Papa memang tak ikut ke Jakarta karena Niko adik Dana masih sekolah dan belum memasuki masa libur sekolah. Keluarga Awan lalu masuk ke rumah Dana untuk beristirahat sejenak. Beberapa kali kedua keluarga itu mengungkit pembicaraan tentang acara yang akan dilakukan besok. Om Dana yang ada di Bandung bahkan menyempatkan untuk datang. Tante Dana yang ada di jogja juga akan datang malam nanti. Dana sudah membayangkan suasana rumah akan berubah ramai seketika ketika semua saudaranya berkumpul. Om akan datang ke kotanya menaiki kereta sebelum akhirnya menjemput kakek dan nenek Dana yang ada di kota lain. Mereka akan datang bersama menuju rumah Dana esok pagi.


Dana yang baru saja datang tak langsung beristirahat. Dirinya menyiapkan segala kebutuhan seperti tempat tidur dan kamar tambahan untuk menampung semua keluarganya. Keluarga Awan pulang setelah hari mulai sore. Mereka juga harus menyiapkan beberapa keperluan untuk acara besok. Awan tak langsung pulang. Ia menemani perempuan itu berbelanja kebutuhan dan makanan yang akan disajikan esok hari. Acara yang akan digelar esok memang sangat mendadak sampai mereka kewalahan menyiapkannya. Beruntungnya tante sudah membeli beberapa makanan di Jogja untuk acara sehingga, Dana hanya membeli kekurangannya saja. Mama tampak menyiapkan 5 kamar yang akan ditempati keluarganya. Beberapa kali keluarga papa juga menelefon untuk memastikan acara besok.


"Keluarga kamj banyak banget ya Dan?" Awan bertanya pada Dana di mobil. Dana masih sibuk membaca daftar list barang dan makanan yang akan ia beli.


"Jangan ditanya Wan, Aku saja tidak hafal semua keponakanku." Dana tampak lelah mengurus semuanya.


"Biar aku yang belanja. Kamu bisa tidur di mobil." Awan mengusap lembut kepala perempuan yang ada di sampingnya.


"Enggak lah, kamu seharian nyetir Wan, harusnya kamu tak ikut aku pergi tadi." Dana menatap Awan dengan perasaan bersalah.


"Aku sudah tidur saat kamu bersih-bersih Dan, nyenyak tadi tidur di kamarmu."


"Apaan, kamu kebangun terus karena berisik kan?" Dana mencibik karena Awan yang berlaga ingin menjadi pahlawan kesiangan.


"Semangat," Awan mencubit pipi perempuan itu. Dana lalu tersenyum melihat Awan yang juga tersenyum menatapnya.


Entah sejak kapan sikap Awan berubah kepadanya. Entah sejak kapan juga ia merasa nyaman didekat Awan. Semuanya seperti mengalir dengan sendirinya. Tak ada yang direkayasa di sana. Dana hanya melihat ketulusan dari hati Awan. Dan Dana menerima hal tersebut dengan tangan terbuka.


Dana membeli seluruh perlengkapan dan makanan yang dibutuhkan mereka. Ia dibantu oleh Awan mengitari kota kecil itu untuk berbelanja. Sesekali mereka mampir untuk membeli camilan seperti cilok dan siomay untuk mengisi perut mereka.


"Kamu memang suka jajan ya?" Awan tampak memakan siomay yang ada di tangannya. Dana masih sibuk mencentang list barang yang sudah ia beli. Sesekali dirinya memakan makanan yang ada di tangannya.


"Enak tau, kamu suka jajan juga kan?"


"Suka, tapi satu-satu Dan. Makan dulu, ini nanti." Awan mengambil kertas yang perempuan itu pegang.

__ADS_1


"Ih nanti gak selesai. Aku itu multi tasking kok, santai aja." Dana merebut kertas itu lagi dari tangan Awan.


"Sini siomaynya. Biar aku suapi kamu." Dana tampak membelalakan matanya mendengar ucapan Awan. Ia tak bisa berkutik saat Awan merebut bungkus siomay itu darinya. Mulutnya masih mengunyah makanan yang belum sempat ia telan karena sibuk dengan kertas yang ada di tangannya.


"Aaa," Awan mencoba menyuapkan siomay itu pada Dana.


"Aku makan sendiri aja." Dana yang merasa tak nyaman pun berusaha merebut siomaynya kembali.


"Ssssshuut! Aaa," Dana lalu menuruti ucapan Awan. Walaupun ia merasa canggung akhirnya Dana membuka mulutnya dan menerima makanan yang Awan suapkan untuknya. Awan pun tersenyum melihat Dana tampak menuruti ucapannya. Tak butuh waktu lama, makanan itu pun habis disusul dengan pekerjaan Dana yang telah selesai dengan kertas itu.


"Kita kemana lagi?" Awan bersiap untuk melajukan mobilnya.


"Udah kok, sisanya sudah di urus tante."


"Berarti pulang?" Dana mengangguk mendengar ucapan Awan. Laki-laki itu lalu mengendarai mobilnya menuju rumah Dana.


Dana menerima telefon dari seseorang. Ia lalu mengangkat telefon itu. Terdengar dari balik telefon seseorang yang marah-marah padanya.


"Dek! kamu ini apa-apaan tiba-tiba mau nikah gak bilang sama aku? bisa-bisanya kamu gak ngabarin abangmu ini?" Dana tampak kaget mendengar suara kak Sad yang tampak marah padanya.


"Maaf kak, aku belum sempat ngasih kabar ke kakak."


"Masa aku dapet kabar dari mama! untung aja aku pulang hari ini! kamu parah sih! kenapa bisa tiba-tiba nikah gini? kamu pasti ngelakuin macem-macem kan sama Awan? ngaku kamu sama aku!" Kak Sad tampak marah di balik telefon. Dana yang mendengar suara lantang kak Sad sesekali menjauhkan handphone itu dari telinganya.


"Ih, apaan sih, enggak kak. Pokoknya panjang deh ceritanya. Udah, yang penting kak Sad pulang kan?"


"Ini lagi di jalan. Awas ya kalau beneran Awan ngapa-ngapain kamu! Awas juga kalau kamu gak cerita jujur sama aku!" Kak Sad mengancam Dana.

__ADS_1


"Iya kak, maaf. Ini juga keputusan mendadak. Dana lagi di luar ini, besok deh Dana ceritain sama kak Sad. Pokoknya, yang penting kak Sad datang besok ya? Dana mau balik dulu ini."


"Yaudah, sampai ketemu besok deh." Dana lalu mematikan telefonnya dengan kak Sad. Dirinya agak ngeri dengan kemarahan kakaknya itu.


"Abangmu?" Awan bertanya pada Dana soal sesorang yang menelefonnya.


"Iya, marah-marah coba."


"Wajar, kamu gak ngabarin dia." Awan membala kak Sad.


"Kok belain kak Sad?" Dana memicingkan matanya menatap Awan.


"Ya aku kan cowo jadi..."


"Jadi ngedukung cowo juga?" Dana menatap Awan yang tampak tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Kan ada girls support girls? man support man namanya ini."


"Oh iya gitu... Udah jadi bro nya kakakku sekarang ya?" Dana mencoba membuat Awan tampak kebingungan menjawab ucapannya.


Dana tiba-tiba teringat akan sesuatu. Ia belum memberi kabar pada Putri dan Fina soal hal ini. Kedua sahabatnya itu pasti sangat kaget jika mendengar dirinya akan menikah tiba-tiba. Terakhir kali mereka saling menelefon adalah ketika dirinya masih bersama kak Wisnu.


"Mampus. aku belum ngabarin temenku." Dana tampak menepuk jidatnya. Ia yang panik langsung menyusun kata-kata yang akan ia kirimkan ke group yang berisi mereka ber tiga.


Dana tampak memutar otak mencari kata yang sesuai yang dapat dicerna oleh kedua sahabatnya itu.


"Serius amat?" Awan yang masih menyetir lalu sesekali menatap Dana yang masih sibuk mengetik di ponselnya itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2